Di suatu acara makan siang, saya dan empat
teman berbincang soal masa kecil kami sebagai anak. Tepatnya bagaimana orangtua
kami memilihkan tempat untuk mengenyam pendidikan dan mendidik menjadi mandiri
di masa kami masih disebut anak.
Salah mengasuh
”Begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke
Hongkong. Mama bilang supaya bisa belajar hidup sendiri,” kata seorang dari
kami. Yang lain menceritakan waktu usia sepuluh tahun sudah hidup di kota Singa
dan saat masuk ke sekolah menengah atas dilanjutkan ke Inggris.
Saya teringat anak mantan bos saya, pada usia
sepuluh tahun pun sudah mendapat perlakuan yang sama dan tak pernah kembali ke
Tanah Air sampai ia lulus sarjana.
Selama masa pendidikan itu, mereka tinggal
bersama orangtua angkat atau masuk ke asrama sehingga hubungan kekeluargaan
yang sesungguhnya justru terjadi dengan orangtua angkat dan dengan mereka yang
tinggal bersama di asrama.
Pada saat perbincangan soal memiliki hubungan
dengan orangtua angkat, siang itu saya jadi teringat masa kecil di Pulau
Dewata. Saya tak pernah mengenyam pendidikan di luar negeri pada usia yang
sangat muda seperti cerita di atas, tetapi bisa dipastikan saya ini anak
pembantu.
Saya dilahirkan dari orangtua saya, mendapat
pendidikan dan dekat dengan mereka, tetapi dalam keseharian berpuluh tahun
lamanya saya tumbuh bersama pembantu. Pembantu setia ini sudah lama pensiun, ia
mengabdi pada keluarga kami sekitar empat puluh tahun. Pembantu ini mengalami
masa nyonya rumahnya berganti sampai tiga kali.
Dengan masa yang panjang itu, ia menjadi
pengasuh kami bertiga, terutama saya. Suatu hari saya diusir ayah hanya karena
saya tak mau ikut berenang bersamanya. Saya tak tahu mengapa, siang itu ayah
saya seperti kesetanan, mengusir anaknya hanya soal yang menurut saya sepele
sekali.
Saya diseret ke luar rumah dan ia mengatakan
tidak perlu kembali lagi ke rumah. Di usia saya yang masih muda, bahkan belum
sampai lima belas tahun, pengusiran yang terjadi di sore hari itu membuat saya
panik setengah mati. Paniknya karena saya tak tahu di mana saya akan tinggal
selanjutnya.
Di saat itulah tangan pertama yang menolong
adalah pembantu setia itu. Sejak kejadian itu, hubungan secara emosional
dengannya bertumbuh. Setiap kali saya merasa diperlakukan tidak adil, baik di
dalam maupun di luar rumah, saya akan datang kepadanya karena ia akan ada
selalu untuk saya.
Sejuta tanya
Setelah acara makan siang itu selesai, tak
sengaja saya bertemu teman lama. Ia bercerita, kalau ia sedang sibuk
mempersiapkan sekolah anaknya di luar negeri. Alasannya menyekolahkan agar
anaknya bisa mandiri karena anaknya itu manja sekali. ”Kalau di rumah sudah
seperti raja. Semua tinggal teriak. Mau pergi, kendaraan dan sopir sudah
tersedia. Mau makan, tinggal teriak.”
Saya tak pernah menjadi orangtua, saya hanya
pernah menjadi anak. Maka mulailah saya bertanya. Mengapa seorang anak harus
mandiri sejak kecil? Mandiri, kan, bukan untuk anak kecil. Bukankah setiap
periode hidup memiliki cara berbeda untuk memperlakukan anak? Namanya juga anak
kecil, ya…, sudah pastinya treatment-nya yang cocok adalah yang untuk anak
kecil. Anak, kan, bukan buah yang bisa dipaksa matang untuk mandiri, bukan?
Kalau anak kecil sudah bisa mandiri, apa
gunanya jadi orangtua? Kalau mau mendisiplinkan anak, itu sah-sah saja. Nah,
disiplin itu tidak sama dengan mandiri. Kalau memang harus demikian adanya,
apakah benar caranya adalah mengirimkan anak dalam usia belia ke negeri orang?
Bukankah mendisiplinkan anak adalah kewajiban
orangtua bukan, kewajiban orangtua angkat atau anak itu sendiri?
Bukankah anak menjadi manja, berfoya-foya,
sombong, tidak disiplin, dan tidak mandiri itu karena orangtuanya yang
melakukan perbuatan itu kepada mereka? Lah, kalau orangtuanya bisa membuat anak
jadi seperti itu, ya…, mestinya mereka yang harus membenahi anaknya, bukan?
Kok, jadi anaknya yang disekolahkan ke luar negeri? Kok, anak, orangtua angkat,
dan asrama di negeri orang yang diharapkan membenahi kesalahan itu?
Terus saya berpikir, memang memandirikan, atau
katakan, mendisiplinkan anak itu harus ke luar negeri, ya? Memang tak bisa
dilakukan di dalam negeri alias di rumah sendiri? Bukankah modal utama manusia
itu adalah pengenalan akan nilai kekeluargaan yang hanya bisa disediakan di
rumah sendiri?
Apa jadinya kalau anak saya sendiri menganut
nilai kekeluargaan yang didapat dari orang lain? Tidakkah saya sebagai orangtua
akan terlihat semakin bersalah? Mengenalkan nilai keluarga itu, kan, semestinya
kewajiban orangtua kandung, bukan orangtua angkat.
Saya jadi berpikir, apakah mengirim anak ke
luar negeri itu agar orangtuanya tidak setiap hari diingatkan karena salah
mengasuh? Nah, itu saya benar-benar tak mengerti. Seperti saya katakan, saya
ini tak pernah menjadi orangtua, cuma pernah jadi anak.
Kemudian saya teringat pembicaraan di ruang
rapat mendengarkan salah satu anak buah saya menjelaskan tayangan berjudul Rich
Kids of Beverly Hills. Coba Anda sebagai orangtua melihat tayangan itu juga.
Apa pendapat Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar