Setelah beberapa kali menyaksikan
serial televisi Scandal, baru belakangan ini timbul pertanyaan. Apakah setiap
manusia itu berhak jatuh cinta kepada siapa pun? Termasuk jatuh cinta kepada
pasangan orang lain yang sudah menikah?
Bubur ayam
Jatuh cinta yang saya maksud bukan sekadar ‘cinta monyet’,
tetapi benar-benar jatuh cinta. Artinya menjalani hari-hari penuh asmara, dan
di dalam serial televisi di atas, si pria yang adalah Presiden Amerika Serikat
memutuskan untuk menceraikan istrinya.
Saya bahkan sama sekali tak terusik
ketika Olivia Pope sebagai pemeran utama menjelaskan kisah asmaranya di layar
televisi sebagai sebuah pertanggungjawaban hubungan asmaranya yang tadinya
gelap, dan yang sekarang menjadi terang benderang.
“I wish we’d never met.
But we did. And I tried. I tried and failed again to hide. To stop loving him.
I was weak. I hated myself. And when our affair was exposed, I had to follow my
own advice and stand in my truth.”
Waktu mendengar penjelasannya itu
mulailah otak saya terpancing mengajukan berjuta-juta pertanyaan seputar cinta.
Saya sampai mengirimkan pesan kepada teman-teman saya yang juga menyukai serial
itu. Sayangnya, jawaban mereka tak bisa saya tuliskan di sini.
I wish we’d never met.
But we did. Apakah kalimat ini mengukuhkan
bahwa benarlah kalau cinta itu tak bisa diatur datangnya dan tak bisa diatur
kepada siapa kita akan jatuh cinta? Seandainya sebuah kata yang menjelaskan
ketidakmampuan manusia memprediksi akibat dari sebuah kejadian.Seandainya
hanya lahir ketika nasi telah menjadi bubur.
Tetapi, mengapa penyesalan tetap
terus dilakukan? Karena nasi sudah menjadi bubur. Tambahkan saja ke dalamnya
potongan ayam, kecap asin sedikit, telur setengah matang, daun bawang, maka
yang tadinya disesali telah menjadi bubur, kemudian berakhir dengan menjadi
bubur ayam yang enak.
And I tried and failed to stop
loving him. Bagaimana orang setangguh Olivia Pope ambruk juga karena cinta?
Sesungguhnya saya mengerti waktu ia mengatakan itu. Saya pernah melakukan
sebuah hubungan gelap. Saya telah mencoba dan mencoba dan gagal untuk berhenti
mencintainya. Bahkan sampai hari ini, ketika di dalam kepala saya tak bisa
menepis yang saya cintai itu. Teman-teman saya mengatai saya bodoh.
Maju atau mundur
Apakah menjadi bodoh, menjadi tak berdaya, adalah sebuah
kesalahan? Kalau itu dianggap salah, siapakah yang salah? Manusianya sebagai
pelaku cinta, atau cinta yang memberi efek melemahkan dan membuat bodoh
seseorang?
Orang
hanya menudingkan jarinya pada perselingkuhan. Orang tak mau dan bukan tak bisa
mengerti, bahwa ada manusia yang jatuh cinta bukan sekadar sebagai sebuah
permainan, tetapi akibat dari efek yang ditimbulkan cinta. Itu mengapa sekarang
saya mengerti kalau Olivia mengatakan: “I wish we’d never met.”
Karena
seandainya ia tahu bahwa cinta itu seperti ini, ia tak akan melakukannya karena
akan melukai semua orang. Tetapi, apa dayanya seorang Oliva menghadapi kekuatan
efek dari cinta? Ia tak berdaya. Saya tak tahu kalau Anda. Saya juga tak tahu
apakah kalau perkawinan sudah berlangsung sekian tahun, Anda bisa dianggap
telah kuat dan hidup dalam kebenaran cinta?
Saya
juga tak tahu apakah kekuatan yang Anda miliki sesungguhnya karena ada obat
kuat dalam bentuk keberadaan seseorang di luar pasangan resmi yang Anda miliki,
yang mampu memberi energi dalam menjalani perkawinan yang naik dan turun
I
was weak and I hated myself. Ucapan itu buat saya, selain sebuah pengakuan
diri, juga bentuk nyata dari kebiasaan menganggap efek cinta selalu benar. Yang
dianggap tidak benar itu adalah manusianya yang lemah, sehingga kebiasaan
menganggap efek cinta itu benar, telah berakibat membuat seseorang membenci
dirinya sendiri.
Padahal,
bukankah manusia itu sendiri tahu bahwa mereka adalah makhluk yang juga lemah,
bahkan ketika tidak sedang jatuh cinta. Menjadi sakit menjadi koruptor, menjadi
playboy, suka marah dan memaki, bukankah itu juga sebuah kelemahan?
Jadi
mungkin, hanya mungkin, kelemahan manusia itu tidak boleh dimintai
pertanggungjawaban. Sungguh tidak bermoral kalau kita meminta pertanggungjawaban
itu. Meski itu adalah inti permasalahannya. Lebih bermoral kalau kita menuduh
orang menjadi lemah dan membuat mereka merasa bersalah.
And
when our affair was exposed, I had to follow my own advice and stand in my truth.
Apakah kebenaran dalam cerita asmara Olivia dan Sang Presiden? Mereka jatuh
cinta. Itu kenyataannya. Saya tak sedang mengaminkan perselingkuhan dengan
tulisan ini. Sejujurnya tulisan adalah sebuah pertanyaan dan pergumulan
panjang. Bahkan di pengujung tulisan ini saya masih ingin bertanya kepada Anda
dan diri saya sendiri.
Apakah
saya dan Anda, baik yang lajang maupun sudah menikah sekian tahun, bisa
mengatakan kalau saya sudah I stand in my truth? Apakah kebenaran yang
sesungguhnya itu menakutkan sehingga sebaiknya mundur saja, ataukah ungkapan
the truth set you free itu seharusnya dilakoni meski akan ada banyak tangan
yang menuding, sehingga maju tak gentar menjadi pilihan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar