Bagi mereka yang tidak tahu,
maka judul yang saya tulis itu adalah sebuah singkatan. Singkatan itu berbunyi,
Pemberi Harapan Palsu. Kalau disebut pemberi, itu adalah seseorang yang
melakukan aktivitas atau kegiatan memberi. Hal apakah yang diberi? Sebuah harapan.
Harapan yang seperti apakah? Harapan yang palsu.
Pakai mata dan otak
Apa reaksi Anda ketika
menerima sebuah harapan yang palsu? Kalau saya gondoknya setengah mati.
Tersinggung, tersakiti. Tersakitinya bukan soal harapan palsunya, tetapi lebih
kepada sudah tertipu, telah dijadikan korban. Seperti promosi sebuah produk.
Memikat pada awalnya, tetapi bodong pada akhirnya.
Ayah saya pernah tertipu
dengan promosi investasi keuangan yang menjanjikan hasil yang tinggi dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Dasar ayah juga manusia yang masuk ke dalam
golongan manusia doyan uang dan tak sabar, ia menggunakan mata dan otaknya
saja, sementara nuraninya dibungkam habis. Singkat cerita, investasi yang
dilakukan yang hanya memikat di awal itu, berakhir dengan kesia-siaan alias
uangnya raib dan ia mencak- mencak.
Kalau ayah saya korban PHP
dari sisi investasi uang, saya sebagai anaknya, telah menjadi korban PHP cinta.
Keduanya itu, uang dan cinta, tak ada bedanya. Keduanya punya daya tarik yang
memikat, menggiurkan, melenakan, seperti narkoba. Keduanya membuat
ketergantungan, dan memberi efek yang pada menit pertama mampu membuat otak
berkata, keputusan ini benar. Saya akan tambah kaya dalam waktu sekian bulan,
hidup saya akan lebih berbahagia karena cinta yang dulu tak pernah saya alami.
Semuanya akan terlihat masuk
akal. Tetapi, yang semua masuk akal, belum tentu masuk ke dalam 'akal'-nya
nurani. Apa buktinya? Saya pernah mencoba menasihati ayah saya untuk lebih
berhati-hati di dalam melakukan investasinya. Karena ia lebih pandai secara
matematis, saya KO. Artinya nasihat itu tak masuk ke dalam akalnya. Sekarang
kalau saya menengok kembali ke masa itu, saya menyadari bahwa otak itu ternyata
bisa tertipu gara-gara mata yang mudah menjadi buta.
Hal yang sama terjadi ketika
saya jatuh cinta. Sahabat saya memberi nasihat, ia bahkan meminta waktu khusus
untuk berbicara. Selama pembicaraan itu berlangsung, dan selama nasihat itu
dicekoki ke dalam kepala bahwa saya tidak perlu melanjutkan perjalanan cinta
dengan manusia yang memberi harapan palsu, saya hanya mengangguk-angguk, tetapi
otak saya sama sekali tidak berkonsentrasi kepada nasihat mulia itu. Saya hanya
memandangi wajahnya, kadang nasihatnya menjadi samar-samar terdengar dan otak
saya melayang entah ke mana.
Pakai nurani
Apa persamaan ayah dan saya?
Kami sama-sama tidak memedulikan nasihat mulia yang diberikan oleh orang lain
yang otaknya tidak terkontaminasi, yang mata dan nuraninya dengan jernih bisa
melihat ketidakbenaran sebuah promosi yang hanya menggiurkan pada awalnya saja.
Ketika mata sudah terhipnotis, ternyata otak juga ikut-ikutan terhipnotis. Dulu
saya tak memercayai kalau mata bisa menipu otak. Sekarang saya percaya benar.
Saya berpikir mata boleh saja
kabur dan buta, tetapi otak akan senantiasa sehat walafiat bahkan menjadi
satpam untuk mengingatkan mata untuk tak mudah menjadi takabur. Ehhh. ternyata
otak yang katanya bisa berpikir logis, KO juga.
Nah, ketika sudah menjadi
korban, ketika sudah mengeluarkan teriakan dengan kata-kata yang super kasar,
ketika sudah tersakiti, ketika sudah menjadi korban, mata dan otak yang telah
terhipnotis baru memiliki kemampuan untuk berpikir secara jelas. Daya sihir
yang awalnya melenakan, langsung sirna seketika saat mencak-mencak. Persis
seperti mata yang kabur saat membaca atau melihat, kemudian dapat melihat dan
membaca secara jelas setelah menggunakan kacamata yang tepat.
Sebagai korban PHP, saya ini
benci ditipu. Tetapi kalau dipikir lagi, acap kali saya melakukan perbuatan
yang pada akhirnya menjadikan saya menjadi pihak yang tertipu. Karena
berdasarkan pengalaman hidup, yang menipu itu selalu indah wujudnya.
Baik. Saya berhenti
membicarakan mereka yang menjadi korban, sekarang saya mau berbicara mereka
yang melakukan sebuah aktivitas memberi harapan palsu. Setelah mencak-mencak,
marah, tersinggung, pertanyaan yang timbul kemudian adalah mengapa ada orang
sejahat itu? Memberi harapan palsu yang pada akhirnya mengecewakan orang lain?
Nurani saya menjawab.
"Enggak usah tanya mengapa. Orang yang punya niat enggak baik itu ada di
mana-mana, sama seperti orang baik itu juga ada di mana-mana. Yang penting
sekarang, elo itu kalau jalanin hidup jangan ngelupain nurani. Jangan cuma otak
sama mata yang dilatih. Nurani itu kalau rajin dilatih, suaranya bakal nyaring
banget kayak penyanyi opera. Saking nyaringnya, elo sendiri bakalan tahu orang
itu bakal nipuelo atau enggak.
Nurani itu
kalau sering dilatih nyanyi, elo jadi peka dan mata sama otak bakalan KO.
Karena mata sama otak itu enggak bakalan bisa melihat jauh menembus ke dalam
hati manusia, yang bisa menembus itu kepekaan nurani elo. Masa elo uda setua
ini, uda jalanin hidup setengah abad lebih, enggak tahu istilah kepekaan nurani
sih? Ke mana aja, bro?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar