Sewaktu
ia masih hidup, saya memberi ayah predikat ”orang keuangan”. Predikat itu
karena ia nyaris memandang semua keadaan berdasarkan angka dan kemampuan
otaknya yang terbatas itu.
Begitu
tidak masuk akalnya, ia akan membatalkan rencana. Melihat caranya mengelola
kehidupan itu, saya sampai pernah berpikir, manusia yang paling takut
menghadapi gejolak dunia ini, yaa… orang yang seperti ayah saya itu. Ia yang
memiliki ketergantungan yang sangat pada angka.
Otak
Awalnya
saya berpikir ia kikir. Lama-lama, saya melihat dia hanya kelihatan kikir. Ia
dan saya memiliki perbedaan dalam melihat nilai sebuah barang. Bisa dikatakan
ia jarang sekali mengutamakan kesenangan hatinya, tetapi sering memenuhi
kesenangan uangnya.
Sekali
waktu, ia pernah menjelaskan mengapa ia tak perlu memiliki mobil supermahal.
”Mau mahal, mau murah, sama saja. Namanya mobil, yaa… buat alat transportasi.
Titik. Yang penting kamu nyampe di tujuan yang kamu inginkan, bukan?”
Beberapa
tahun yang lalu saat ia pergi ke Amerika, saya menitipkan tas bermerek. Pulang
dari bepergian ke Amerika itu ia mencak-mencak. ”Kamu tuh enggak waras. Masak
tas kecil segini harganya sampai jutaan rupiah. Enggak ada bagus-bagusnya.”
Kemudian dia wanti-wanti, kalau itu adalah tas pertama dan terakhir yang ia belikan
dengan uangnya itu.
Ayah
saya memang orang yang tak akan pernah bisa termakan gengsi. Mungkin karena dia
melihat semua keadaan hanya berdasarkan untung, rugi, dan fungsi. Maka buatnya,
gengsi itu adalah hanya sebuah kesia-siaan belaka kalau diikuti.
Saya
teringat di masa kecil dahulu, ia tak segan-segannya membawa pena dengan merek
sebuah pembalut wanita. Pena itu didapatnya dari bonus yang disertakan bersama
kotak pembalut wanita yang dibeli istrinya.
Ketika
kami menegur untuk mengganti dengan pena yang lebih baik, ia berkomentar
begini, ”Ngapain beli lagi. Kan udah dapat gratis. Pena sama aja. Mau mahal
atau enggak, sama-sama buat nulis.Emang selama ini kita bisa punya uang
gara-gara aku nulis pakai pena emas? Kamu bisa sekolah ke luar negeri, itu yaa…
karena pena plastik ini.”
Iman
Pada
masa masih menjadi mahasiswa, saya sudah bekerja di sebuah perusahaan ekspor
pakaian jadi. Sedikit bagian dari upah pertama sebesar dua ratus lima puluh
rupiah itu saya belikan roti kesenangan ayah di salah satu toko roti terenak di
kota Denpasar. Kalau tidak salah, cerita ini pernah saya tulis sebelumnya.
Ketika
saya menyerahkan roti kesenangannya itu, komentar yang pertama kali keluar dari
mulut yang penuh perhitungan keuangan itu begini. ”Kamu enggak usah royak-royal.
Kayak orang kaya aja. Mending kamu simpan uangnya.”
Jadi
yang pertama terlintas di benaknya selalu uang, selalu untung rugi. Ia sampai
lupa bahwa di dunia ini ada istilah keajaiban. Mungkin orang seperti ayah saya
keder kepada yang tak bisa diperhitungkan, keder kalau tak bisa melihat untung
rugi dari awal. Saya sendiri tak tahu apakah menurutnya, kehadirannya di dunia
ini sebuah keberuntungan atau kerugian.
Saya
menulis semua ini berdasarkan apa yang saya lihat soal bagaimana ayah saya mengelola
hidup dengan memberi persentase sangat besar di sisi perhitungan uang, memberi
persentase besar untuk akalnya dan kemampuannya berhitung. Dan yaaa… kok
kebetulan ayah saya itu bisa dikatakan otaknya tokcer apalagi soal angka.
Sebelum
ia meninggal dunia, ia sempat terbaring di rumah sakit. Kondisinya saat masuk
sedikit buruk dan kemudian beberapa hari kemudian menjadi sehat walafiat.
Menurut perhitungannya sebagai dokter, ia akan sehat dalam satu minggu dan bisa
kembali ke rumahnya. Pada kenyataannya, ia memang kembali. Kembali ke rumah
Penciptanya.
Kalau
saya melihat ke belakang, ayah juga banyak menghadapi kekecewaan karena di
tengah kepandaiannya yang super, ia juga beberapa kali menghadapi kegagalan
dalam usaha dan perhitungan dan kemampuan otaknya tidak menyelamatkannya.
Mungkin
ayah saya salah berhitung. Namun buat saya, hidup itu bukan semata-mata soal
yang harus dihitung. Berhitung itu diperlukan, tetapi itu bukan tempat
bergantung sepenuhnya.
Berhitung
tidak menjamin masa depan yang pasti. Berhitung ada batasnya dan melelahkan.
Berhitung itu membuat keder, berhitung itu mengecilkan arti Yang Mahakuasa,
berhitung itu membatasi Tuhan untuk bekerja sepenuhnya dalam hidup seseorang,
dan lama-lama berhitung bisa menjadi Tuhan untuk hidup. Itu menurut saya yang
IQ-nya jongkok banget.
Dengan
kondisi IQ macam itu, saya memilih selain berhitung, untuk berani hidup juga
dengan iman. Membiarkan Yang Mahakuasa terlibat di dalam perhitungan yang saya
buat. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan otak, tidak dengan perhitungan
angka dan kalkulator. Tetapi yang menurut pengalaman saya sungguh meringankan
perjalanan, tidak mengecewakan, tidak membuat keder dan selalu menguntungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar