Di sebuah meja bulat Sembilan orang berkumpul,.
Mereka adalah teman-teman saya yang sudah cukup lama tak berkumpul dalam
kebersamaan. Kami sedang merayakan hari jadi salah seorang teman. Di meja bulat
sebesar itulah sejuta cerita ditumpahkan, termasuk apa yang saya hendak tulis
pada hari Minggu ini.
Apakah?
Satu dari Sembilan teman itu baru kembali dari
perjalanan bisnisnya. Naik pesawat di kelas bisnis. Tempat duduknya diserobot
dua ibu yang sudah tua dan terlihat sangat garang. Pramugari tak berkutik dan
membiarkan teman saya duduk di tempat yang bukan semestinya.
Kalau melihat judul di atas, dua ibu tua itu tak
peduli terhadap teman saya. Lebih tepatnya
kepada hak teman saya untuk memnduduki tempat yang semestinya. Pramugarinya juga tak peduli dengan teman
saya. Dengan memberikan tempat dudukyang bukan semestinya, ia tak peduli
memperjuangkan hak teman saya untuk duduk di tempat yang semestinya.
Waktu saya Tanya kepada teman saya mengapa pramugari
tidak menegur dua ibu tua itu, teman saya menjawab,mungkin pramugarinya keder
duluan, segan untuk menegur dua ibu yang selain sudah berumur, juga terlihat
galak. “Ya sudahlah, udah tua ini.” Begitu teman saya menutup ceritanya.
Pada hari Minggu ini, saya ingin bertanya kepada
bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian. Pernahkah Anda begitu tak peduli
terhadap orang laindalam kehidupan sehari-hari? Tak peduli perasaan orang lain,
yang penting keinginan dan tujuan Anda tercapai. Tak peduli orang lain akan
menderita, yang penting saya tidak menderita.
Dalam kehidupan sehari-hari, yang saya maksud itu
saat Anda di bandara dan menyerobot antrean, misalnya. Ataukah sebagai karyawan
atau katakana sebagai atasan, Anda sama sekali tidak peduli dengan urusan
berlangsungnya kehidupan perusahaan tempat anda bekerja.
Apakah Anda memarkirkan mobil seenaknya seenaknya
saja sehingga orang lain tak bisa memarkirkan mobilnya dengan benar? Apakah
anda mengomel ditangkap polisi, bahkan bisa jadi Anda melakukan hal yang lebih
dari sekedar mengomel, tetapi Anda tak peduli melanggar lampu merah dan tak
membawa SIM?
Apakah anda menyetir mobil dengan seenaknya saja
sehingga kemungkinan orang lain mendapat kecelakaan karena ulah Anda yang tidak
peduli itu? Bagaimana kalau seandainya kalau orang lain yang tak peduli dengan anda,
dan Anda yang diserobot, atau yang mengalami kecelakaan?
Jangan
sewot
Apakah Anda tak peduli dengan pernikahan Anda dan
memilih berselingkuh? Seperti teman saya pada suatu malam, ia mengatakan bahwa dalam kehidupan
pernikahan, kita butuh teman lain diluar pasangan kita. Mendengar cerita itu,
sayakemudian berfikir manusia itu memang paling pandai mencari alasan karena
tak peduli dan alasan itu tak pernah salah.
Pertanyaan kemudian, mengapa Anda melakukan perilaku
tak peduli itu? Mengapa? Kalau saya menjawab pertanyaan itu, jawabannya adalah
begini. Pertama, saya tak peduli karena saya sejujurnya tak tahu bahwa kalau saya peduli itu sebetulnya untuk
keuntungan saya sendiri dan bukan untuk orang lain.
Sehingga semakin saya tak peduli terhadap orang lain,
sejatinya saya semakin merugikan diri sendiri. Waktu saya tak peduli dengan
orang lain, saya berfikir yang rugi adalah orang lain. Itu yang membuat saya
tak peduli. Padahal, saya yang rugi.
Kalausaya peduli dengan kehidupan perusahaan tempat
saya bekerja, misalnya, saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Dengan
bekerja bersungguh-sungguh, saya akan memiliki kesempatan mendapatkan kenaikan
pangkat, gaji dan bonus, serta pendidikan tambahan.
Ketika saya tak peduli dengan perusahaan, kemudian
saya bekerja sekedarnya saja, dan berfikir bahwa perusahaan yang rugi,
sesungguhnya saya keliru besar. Karena sejatinya, saya telah kehilangan
kesempatan untuk naik pangkat, naik gaji, dapat bonus, dan mendapatkan tambahan
pendidikan.
Kalau saya menyetir dengan kepedulian yang sangat,
saya tak perlu sampai harus dtangkap polisi. Saya menyelamatkan diri sendiri
dari kecelakaan, yangbisa saja terjadi ketika melanggar lampu lalu-lintas. ,
dan tak berakhir tinggal di hotel prodeo karena kecelakaan itu menghilanglan nyawa
orang lain. Kalaupun saya bebas, saya akan hidup selamanya dengan predikat
sebagai seorang pembunuh.
Alasan kedua, mengapa saya tak peduli dengan orang
lain karena sejujurnya saya tak peduli dengan diri sendiri, saya tak
benar-benar mengasihi diri saya sendiri. Kepedulian terhadap orang lain itubuat
saya harus dimulai dengan peduli dengan diri sendiri. Peduli dengan orang lain itu hanya bisa
dilakkan kalau saya mampu dengan sungguh-sungguh mengasihi siri saya sendiri.
Jadi, kalau suatu hari Anda diserobot, dan anda
menegur dengan baik, kemudian yang ditegur tambah galak, Anda tak perlu sewot.
Itu sebuah cermin bahwa Anda sedang
berhadapan dengan manusia yang tak mengasihi dirinya sendiri. Manusia yang
memilih merugikan dirinya sendiri. Dan saya berharap, kejadian itu tak
menginspirasi Anda untuk tidak mengasihi diri Anda sendiri.
Koran kompas, 16 Desember 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar