Selasa, 01 Januari 2019

"Gak" Peduli


Di sebuah meja bulat Sembilan orang berkumpul,. Mereka adalah teman-teman saya yang sudah cukup lama tak berkumpul dalam kebersamaan. Kami sedang merayakan hari jadi salah seorang teman. Di meja bulat sebesar itulah sejuta cerita ditumpahkan, termasuk apa yang saya hendak tulis pada hari Minggu ini.

Apakah?

Satu dari Sembilan teman itu baru kembali dari perjalanan bisnisnya. Naik pesawat di kelas bisnis. Tempat duduknya diserobot dua ibu yang sudah tua dan terlihat sangat garang. Pramugari tak berkutik dan membiarkan teman saya duduk di tempat yang bukan semestinya.

Kalau melihat judul di atas, dua ibu tua itu tak peduli terhadap teman saya. Lebih tepatnya  kepada hak teman saya untuk memnduduki tempat yang semestinya.  Pramugarinya juga tak peduli dengan teman saya. Dengan memberikan tempat dudukyang bukan semestinya, ia tak peduli memperjuangkan hak teman saya untuk duduk di tempat yang semestinya.

Waktu saya Tanya kepada teman saya mengapa pramugari tidak menegur dua ibu tua itu, teman saya menjawab,mungkin pramugarinya keder duluan, segan untuk menegur dua ibu yang selain sudah berumur, juga terlihat galak. “Ya sudahlah, udah tua ini.” Begitu teman saya menutup ceritanya.

Pada hari Minggu ini, saya ingin bertanya kepada bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian. Pernahkah Anda begitu tak peduli terhadap orang laindalam kehidupan sehari-hari? Tak peduli perasaan orang lain, yang penting keinginan dan tujuan Anda tercapai. Tak peduli orang lain akan menderita, yang penting saya tidak menderita.

Dalam kehidupan sehari-hari, yang saya maksud itu saat Anda di bandara dan menyerobot antrean, misalnya. Ataukah sebagai karyawan atau katakana sebagai atasan, Anda sama sekali tidak peduli dengan urusan berlangsungnya kehidupan perusahaan tempat anda bekerja.

Apakah Anda memarkirkan mobil seenaknya seenaknya saja sehingga orang lain tak bisa memarkirkan mobilnya dengan benar? Apakah anda mengomel ditangkap polisi, bahkan bisa jadi Anda melakukan hal yang lebih dari sekedar mengomel, tetapi Anda tak peduli melanggar lampu merah dan tak membawa SIM?

Apakah anda menyetir mobil dengan seenaknya saja sehingga kemungkinan orang lain mendapat kecelakaan karena ulah Anda yang tidak peduli itu? Bagaimana kalau seandainya kalau orang lain yang tak peduli dengan anda, dan Anda yang diserobot, atau yang mengalami kecelakaan?

Jangan sewot

Apakah Anda tak peduli dengan pernikahan Anda dan memilih berselingkuh? Seperti teman saya pada suatu malam,  ia mengatakan bahwa dalam kehidupan pernikahan, kita butuh teman lain diluar pasangan kita. Mendengar cerita itu, sayakemudian berfikir manusia itu memang paling pandai mencari alasan karena tak peduli dan alasan itu tak pernah salah.

Pertanyaan kemudian, mengapa Anda melakukan perilaku tak peduli itu? Mengapa? Kalau saya menjawab pertanyaan itu, jawabannya adalah begini. Pertama, saya tak peduli karena saya sejujurnya tak tahu bahwa  kalau saya peduli itu sebetulnya untuk keuntungan saya sendiri dan bukan untuk orang lain.

Sehingga semakin saya tak peduli terhadap orang lain, sejatinya saya semakin merugikan diri sendiri. Waktu saya tak peduli dengan orang lain, saya berfikir yang rugi adalah orang lain. Itu yang membuat saya tak peduli. Padahal, saya yang rugi.

Kalausaya peduli dengan kehidupan perusahaan tempat saya bekerja, misalnya, saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Dengan bekerja bersungguh-sungguh, saya akan memiliki kesempatan mendapatkan kenaikan pangkat, gaji dan bonus, serta pendidikan tambahan.

Ketika saya tak peduli dengan perusahaan, kemudian saya bekerja sekedarnya saja, dan berfikir bahwa perusahaan yang rugi, sesungguhnya saya keliru besar. Karena sejatinya, saya telah kehilangan kesempatan untuk naik pangkat, naik gaji, dapat bonus, dan mendapatkan tambahan pendidikan.

Kalau saya menyetir dengan kepedulian yang sangat, saya tak perlu sampai harus dtangkap polisi. Saya menyelamatkan diri sendiri dari kecelakaan, yangbisa saja terjadi ketika melanggar lampu lalu-lintas. , dan tak berakhir tinggal di hotel prodeo karena kecelakaan itu menghilanglan nyawa orang lain. Kalaupun saya bebas, saya akan hidup selamanya dengan predikat sebagai seorang pembunuh.

Alasan kedua, mengapa saya tak peduli dengan orang lain karena sejujurnya saya tak peduli dengan diri sendiri, saya tak benar-benar mengasihi diri saya sendiri. Kepedulian terhadap orang lain itubuat saya harus dimulai dengan peduli dengan diri sendiri.  Peduli dengan orang lain itu hanya bisa dilakkan kalau saya mampu dengan sungguh-sungguh mengasihi siri saya sendiri.

Jadi, kalau suatu hari Anda diserobot, dan anda menegur dengan baik, kemudian yang ditegur tambah galak, Anda tak perlu sewot. Itu sebuah cermin bahwa Anda  sedang berhadapan dengan manusia yang tak mengasihi dirinya sendiri. Manusia yang memilih merugikan dirinya sendiri. Dan saya berharap, kejadian itu tak menginspirasi Anda untuk tidak mengasihi diri Anda sendiri.


Koran kompas, 16 Desember 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar