Setiap pagi saya membaca sejuta
kicauan yang dibuat sejuta manusia di media sosial. Ritual ini sudah mirip
ritual makan pagi. Bahkan kalau makan pagi berhenti setelah pukul tujuh,
membaca kicauan yang sejuta banyaknya itu sering kali berlanjut pada siang,
sore, dan malam hari menjelang istirahat malam.
Cermin
Senangnya membaca kicauan-kicauan itu karena banyak
macamnya, dan lama-lama mengenal manusianya hanya dari kicauan yang dituliskan.
Ada yang bawelnya setengah mati karena semua masalah dikomentari, ada yang
supernegatif, yang sok positif, yang provokatif dengan menuliskan kalimat bak
belati yang dihunjamkan pembunuh kepada korbannya, sampai sering kali saya
terkaget-kaget membacanya.
Ada
yang kicauannya mengundang gelak tawa, tanpa melupakan yang memberi semangat
serta yang superrajin memberi informasi, baik soal keuangan, politik, dunia
selebritas, maupun pengetahuan umum lain. Selain itu, ada yang hanya minta
pendapat sederhana, lebih tampan pakai berewok atau tanpa berewok.
Menariknya dari semua kicauan itu, saya mendapatkan banyak
informasi tanpa harus membaca koran atau buku-buku setebal bantal. Tetapi,
dalam waktu yang bersamaan, kicauan di media sosial tersebut juga seperti
cermin. Saya seperti melihat diri saya sendiri.
Saya ini juga menyindir karena tersakiti. Sindiran yang saya
buat itu karena saya tak kuasa melawan yang menyakiti saya. Saya juga berkicau
bak seorang motivator andal yang memberi nasihat, petuah, atau apa pun itu yang
menyemangati orang lain meski dalam hidup keseharian ketika masalah datang,
yang saya tuliskan untuk menyemangati orang lain gagal saya praktikkan kepada
diri sendiri.
Saya
bisa begitu kesalnya dengan yang saya hadapi pada sebuah hari atau momen
sehingga acap kali beberapa orang membalas kicauan saya, dengan kicauan mereka
yang prihatin dan kemudian memberikan penghiburan untuk menyemangati.
Kadang
saya juga bawelnya setengah mati semua hal dikomentari seperti orang kurang
kerjaan. Meski nurani saya berkomentar, ”Itu bukan kurang kerjaan, emang itu
kerjaan elo.” Kadang saya juga ingin orang lain mengetahui betapa pandainya
saya tentang sebuah pengetahuan.
Jadi,
ritual membaca kicauan itu tepatnya sebuah ritual becermin, seperti setiap pagi
saya selalu becermin saat berdandan sebelum berangkat kerja.
Nasi
rames
Kicauan
yang bak cermin itu belakangan membuat saya berpikir, mungkin manusia itu
disebut sempurna bukan karena ia senantiasa tak melakukan yang negatif, tetapi
yang seperti nasi rames. Di dalam nasi rames, ada macam-macam lauk, antara lain
telor dadar yang diiris, ayam suwir, dan bihun. Rasanya bisa asin, manis, dan
bisa jadi pedas.
Maka
manusia itu juga ada bawelnya, ada sok pamernya, tetapi bisa juga memberi
semangat dan mengundang gelak tawa. Kadang bisa blakblakan, tetapi bisa
tersinggung juga dan menjadi seperti belati. Kemudian otak saya mengajukan
sebuah pertanyaan.
Bagaimana
kalau ada manusia yang berpredikat pemimpin? Apakah mereka ini tidak boleh
seperti nasi rames? Karena ada ungkapan bahwa pemimpin itu harus bisa menjadi
panutan bawahan. Harus bisa gini, bisa gitu, tidak boleh gini, tidak boleh
gitu, harus gini, harus gitu
Nah,
kalau pada suatu hari ada manusia yang biasanya berpredikat bukan pemimpin dan
perjalanan kehidupannya mengantarnya menjadi seorang pemimpin, apakah karena
perbedaan predikat mereka harus mengubah kemanusiaannya? Kalau iya, bagaimana
caranya mengubah kemanusiaan itu? Apakah menihilkan kenegatifan sehingga mereka
tak bisa seperti nasi rames lagi?
Kalau
pemimpin harus menjadi panutan, berarti ada aturan main yang dibuat agar bisa
menjadi panutan. Dan saya yakin aturan menjadi panutan dibuat oleh manusia.
Bagaimana caranya sekarang agar aturan main itu yang dibuat oleh manusia yang
kadang lemah, kadang kuat, dan kadang juga suka kebablasan itu bisa dieksekusi
oleh seorang pemimpin yang berstatus manusia yang juga kadang lemah, kadang
kuat, dan bisa kebablasan?
Ternyata
otak saya mengajukan satu pertanyaan lagi. Apa artinya sesama manusia? Karena
otak saya yang bertanya, otak saya yang menjawab. Otak saya cuma punya IQ jongkok,
jadi jawabannya sesama manusia itu yaa… sama-sama manusia.
Sesama
manusia itu mengandung arti manusia yang memiliki kemampuan melihat kemanusiaan
dalam sesamanya dan bukan melihat predikatnya semata. Sesama manusia itu
sama-sama bisa mengerti manusia itu, ya… kayak gitu. Kayak nasi rames,
maksudnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar