Dan
gara-gara hidup hanya sekali itulah kita sebut manusia yang mengorbankan
dirinya itu pahlawan, bukan?
Teman
saya, seorang wanita, bercerita kalau ia ditawari untuk melakukan
perselingkuhan dengan seorang pria beristri. Teman saya menampik tawaran yang
menurutnya sangat tidak senonoh itu. Anda mau mendengar reaksi pria itu setelah
tawarannya ditolak? “Hidup cuma sekali aja kenapa mesti dibuat
susah sih. Dinikmatin aja.”
Susah
itu nanti
Saya
tergelak dengan komentar pria itu. Karena dahulu kala, ketika saya masih sehat
walafiat, ketika hidup semuanya nyaris bisa dikatakan tak ada masalah, saya
mengucapkan hal yang serupa.
Kalau
situasi itu begitu nyamannya, semua dalam keadaan terkendali, mulut ini mudah
sekali mendendangkan suaranya, tanpa berpikir kalau semua perbuatan itu ada
risikonya. Susah itu tak akan bisa dirasakan ketika semuanya berjalan lancar.
Terlintas di kepala saja tidak. Susah itu nanti, belakangan datangnya, ketika
yang dianggap tak susah ternyata terjadi.
Menurut
saya, seorang koruptor itu tak akan pernah merasa susah dan tak akan berpikir
risiko yang akan ditanggungnya saat ia melakukan tindakan itu, saat semua bisa
terkendali. Saya percaya bahwa mulut mereka pun bisa jadi menyetujui jawaban
laki-laki yang saya ceritakan di atas.
Padahal,
menurut pengalaman saya, bahaya terbesar yang pernah terjadi dalam kehidupan
manusia, maaf…dalam kehidupan saya maksudnya, adalah ketika situasi superaman
dan superterkendali terjadi. Situasi semacam itu tidak menimbulkan keinginan
untuk bersikap hati-hati.
Di
situasi yang terkendali dan aman itulah saya acapkali berperan sebagai dewa.
Saya merasa bisa mengendalikan masa depan. Saya merasa bahwa situasi tidak
susah itu akan selamanya tidak susah.
Dalam
situasi yang tidak susah itu, saya lupa berpikir bahwa dalam hidup ini
senantiasa akan ada harga yang harus dibayar untuk semua perbuatan. Saya lupa
bahwa hidup itu seperti roda yang berputar.
Dan
kalau pun saya tidak lupa akan ungkapan itu, saya sangat yakin harganya bisa
saya ”bayar” tanpa harus menjadi bangkrut. Saya bisa berpikir hidup bisa saja
seperti roda, tetapi masalahnya, hidupnya siapa dulu?
Hidup
saya enggak bakal jatuh. Perhitungan sudah jeli dan tepat. Situasi tak susah
itu sungguh tidak melenakan, tetapi membuat pongah. Kepongahan itu adalah
sebuah tempat paling subur untuk lahirnya sebuah jamur bernama kejahatan.
Roda
Apakah
bentuk kejahatan itu? Anda pikir saya menjadi pembunuh dan memotong jari
manusia? Tidak sama sekali. Kejahatan itu adalah dalam bentuk sebuah
ketidakpedulian akan situasi rumah tangga orang lain.
Kejahatan
saya adalah bersikap egois dan tidak peduli. Selama saya bahagia, apa peduli
saya terhadap orang lain? Apalagi, seorang teman yang memang punya jam terbang
tinggi soal berselingkuh malah memberikan saya tip dan trik agar tidak gagal
dan tidak ketahuan.
Ia
malah mengatakan, justru dalam situasi semacam ini saya bisa memiliki
kesempatan untuk membuat seseorang pindah ke lain hati. Dalam situasi itulah
saya tak lagi bisa melihat apa itu benar, apa itu baik, dan apa itu keliru.
Maka
saya sarankan, bergaul itu juga mesti berhati-hati. Memilih teman itu harus
jeli. Anda harus peka membedakan teman yang selalu mengantar Anda ke sebuah
situasi tidak susah sehingga Anda tidak menyadari kalau mereka sedang
menggiring Anda ke tepi jurang, dengan mereka yang senantiasa menjaga Anda agar
tidak sampai terdorong masuk ke jurang.
Kalau
Anda mencoba menasihati saya di masa saya tidak susah, saya yakinkan Anda tak
akan berhasil. Kalaupun Anda melihat seolah saya menyimak, saya sama sekali
tidak menyimak. Itu hanya sebuah aksi agar Anda tak tersinggung. Setelah Anda
meninggalkan saya, saya kembali menikmati hidup yang cuma sekali itu saja.
Dan
kalau Anda menegur saya dan menanyakan alasannya, akan ada sejuta jawaban yang
akan saya sodorkan ke hadapan Anda. Sebuah alasan yang masuk akal di kepala
saya dan tak masuk akal di benak Anda.
Apakah
saya peduli kalau itu tak masuk akal di benak Anda? Tentu tidak. Itu mengapa
saya bisa dengan ringan berkomentar seperti pria beristri yang ditampik teman
saya di atas itu. ”Hidup cuma sekali aja, kenapa mesti dibuat
susah sih. Dinikmatin aja”
Saat
saya dalam situasi tidak susah, tiba-tiba datanglah kesusahan yang tak pernah
saya pikirkan sebelumnya. Saya kaget ternyata kok saya tak bisa memprediksi
datangnya kesusahan.
Maka
berhati-hatilah dalam hidup yang cuma sekali ini saja. Sebisa mungkin nikmati
hidup ini dengan tidak membuat orang lain tersakiti. Sering-seringlah
mengingatkan diri Anda supaya tidak pongah kalau hidup itu memang seperti roda
dan Anda itu bukan dewa.
Sekarang
ini saya sedang berusaha menikmati hidup yang sekali saja itu tidak dalam
keadaan pongah agar saya bisa menikmati kematian yang juga sekali saja itu
dengan hati yang bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar