Saya
duduk di sebelah seorang laki-laki dalam penerbangan dari kota Singa kembali ke
Ibu Kota tercinta ini. Seorang laki-laki dengan bau badan yang menyengat,
rambut berminyak tak disisir.
”You
are what you eat”
Apa
yang tampak di luar menggambarkan siapa sesungguhnya pria ini. Saat santap
malam disajikan, ia menjawab dengan kasar ketika seorang pramugari menawarkan
pilihan makanan dan minuman. Tidak ada ucapan terima kasih atau kata please
keluar dari mulutnya.
Saat
acara makan berlangsung, ia seperti sedang makan di rumahnya sendiri, gelas dan
plastik pembungkus perlengkapan makanan dibuka dan dibiarkan tergeletak
berantakan. Lengan kanannya dinaikkan ke atas dan melewati batas kursi tempat
saya duduk sehingga saya cukup terganggu karena tindakannya itu.
Setelah
selesai menyantap hidangan hingga ludes, ia tampak tak merasa perlu merapikan
tempat makan itu. Alhasil, saya seperti melihat bak sampah melayang di
ketinggian tiga puluh enam ribu kaki.
Dan
saat pramugari hendak mengambil kembali ”bak sampah” itu, ia tak bergerak untuk
membantu dan asyik menyaksikan tayangan film di layar kecil.
Padahal
ia duduk di kursi tengah, yang tentunya agak menyulitkan bagi mbak pramugari
untuk mengambil langsung ”bak sampah” itu.
Beberapa
saat sebelum kejadian itu, saat para penumpang memasuki pesawat dan mencari
tempat duduk yang sesuai, seorang pria yang berseberangan dengan saya duduk
sambil membaca buku. Tak lama kemudian datang dua penumpang yang duduk di
tengah dan dekat jendela pesawat.
Ketika
salah satu dari kedua penumpang itu mengatakan permisi karena mau lewat, si
bapak tua ini tetap asyik membaca, ia tak merasa perlu menghentikan kegiatan
membacanya, bahkan untuk sejenak saja, dan berdiri untuk memberi peluang bagi
kedua penumpang itu untuk bisa mencapai tempat duduknya.
Ia
memilih hanya menggeser kakinya ke arah tepi kursi sehingga kedua penumpang itu
dengan susah payah melangkahi kakinya untuk meraih tempat duduk.
Melihat
kejadian itu, saya tak berkehendak memberi pembelajaran soal etika di hari
Minggu ini, saya malah teringat atas sebuah pernyataan teman saya yang di suatu
hari pernah berkata begini, ”Apa yang kamu lihat dari luar, yang
dilakukan seseorang, baik cara mereka berbicara, cara mereka berbisnis, cara
mereka berpakaian, dan cara mereka makan, itu semuanya mencerminkan sifat
manusia itu sesungguhnya, mencerminkan bagaimana mereka dibesarkan dan
bagaimana mereka akan memahami nilai kehidupan ini.”
Tiga
jenis sajian
Selama
perjalanan yang ditempuh selama sembilan puluh menit itu, saya jadi berpikir
soal membangun personal branding. Ketika saya masih kecil, masih anak-anak,
ketika saya tak tahu apa artinya santun dan sopan, saya mendapatkan pelajaran
dari kehidupan ini. Kehidupan yang berasal dari keluarga, saat menjalani masa
pendidikan dari taman kanak-kanak sampai sarjana, dan tentunya dari kehidupan
sosial.
Banyak
dari teman saya yang berstatus ibu mengatakan, masa paling penting dalam
mengajarkan kesopanan, kesantunan, mengalah, menjaga sesamanya, tidak egois,
dan sejuta hal lainnya adalah di masa kecil itu.
Kemudian
saya malah jadi teringat dengan keluarga saya sendiri. Saya tak pernah merasa
bahwa orangtua saya berhasil membuat kami anak-anaknya seperti anak-anak teman
dekat saya itu. Kami tak memiliki kerukunan seperti yang diceritakan
teman-teman saya itu. Bahkan buktinya semakin nyata, saat kami sekarang tumbuh
menjadi manusia yang nyaris sepuh.
Beberapa
teman saya malah bete dengan orangtuanya karena merasa dianaktirikan sehingga
pada masa sekarang ini, mereka berusaha membuktikan bahwa keputusan orangtua
mereka melakukan itu adalah sebuah kesalahan.
Saya
sungguh memaklumi dan tak bisa menyalahkan dengan pengalaman masa kecil,
khususnya saat orangtua mendidik anak-anaknya. Namun, saya merasa bahwa adalah
salah kalau setelah tumbuh menjadi manusia dewasa dalam usia dan mental, saya
tetap memilih cara hidup yang demikian, yang menyakitkan orang lain, yang
membuat orang lain merasa kesal.
Saya
sungguh setuju kalau masa lalu tak bisa diubah dan itu akan memengaruhi
perjalanan kehidupan sampai sekarang ini, tetapi saya tak boleh lupa bahwa Sang
Kuasa juga memberi saya otak untuk berpikir, untuk mengetahui yang baik dari
yang benar, yang baik dari yang begitu kelirunya.
Personal
branding itu adalah pengalaman
masa kecil, apa pun pengalaman itu, dipadukan dengan kejernihan cara berpikir
pada masa dewasa. Kemudian kedua campuran itu diberi bobot oleh yang
menjalaninya.
Yang
satu akan menghasilkan sajian yang membuat orang menikmatinya dan kembali lagi,
yang lainnya menyuguhkan sajian yang hanya sekali saja untuk didatangi, dan
yang terakhir yang membuat orang enggan datang, bahkan hanya untuk mencicipinya
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar