“Sam,sedih deh gue,
kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat
mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat.
Kemudian, saya
membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda
pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan
itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi
setengahnya.
Kulit kering
Soal kehilangan, saya
jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal. Saya menulis kata ibu
sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian
yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan
supaya mereka bisa sembuh dan tidak “pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil,
doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya.
Tuhan bisa saja menyembuhkan,
tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti
kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh.
Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan baik. Saya tak pernah
mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak sembuh dan kehilangan.
Kehilangan itu
membebaskan saya dari berpikir egois. Contohnya begini. Saya ingin orangtua
tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan
sesak napas setiap saat, mata yang sudah tak melihat, dan telinga yang susah
mendengar, sehingga sering kali malah berantem karenanya. Saya ingin meraka
ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tidak
bisa melihat.
Saya punya teman yang
memiliki kepribadian sangat negatif. Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari
kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelamahan. Tetapi, makin hari,
kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya
nyaris KO.
Kalau dimisalkan
kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena
kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti
tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO
dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu
menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.
Tiga
Folder
Melalui peristiwa itu, saya
belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orang tua, atau siapa pun itu adalah
sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah
menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan
tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan
itu bisa mengubah anda menjadi the better you.
Anda dan
saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna manusia adalah
mahluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi mahluk sosial selalu saja
ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya.
Maka,
setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman.
Ini saran saya saja. Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima
siapa saja. Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahun
teman-teman pada butir satu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu
cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau
turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step
berikutnya.
Ketiga,
sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya
itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering
kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani.
Nah, menurut
pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin peka
saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada
folder-nya masing-masing. Saya memiliki tiga folder. Ada folder untuk teman
yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau
cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan.
Kalau Anda
merasa saya meperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, anda keliru
besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa
jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan. Oleh karena itu,
saya takakan memusuhi, mereka bukan musuh saya.
Kalau mereka
kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam
folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda
pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di mal, saya sarankan sesuatu.
Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana
saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri anda sendiri.
Begini.
Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda
kemudian menyebar cerita kemana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah
mati, padahal yang harus membenahi diri adalah diri Anda sendiri. Maka, cobalah
berusaha menjadi body lotion yang melembabkan kulit kering mulai
sekarang. Anda siapa? Ready, set, go….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar