Seorang
tetangga mengajak saya ikut lari seperti yang belakangan ini dilakukan banyak
orang. Saya menampik tawarannya itu karena saya tak kuat lari dan sejujurnya
lebih enak tidur, apalagi diperintahkan untuk bangun subuh-subuh.
Kemudian
ia berkomentar lagi. ”Ini beda larinya. Kagak pake sepatu, kagak pake baju
olahraga, larinya kagak di jalan raya.” Saya membalasnya. ”Mang lari apaan?” Ia
menjawab, ”Lari dari kenyataan, bro.”
Belum
merdeka
Di
sore itu kami tergelak bersama. Kemudian malam datang dan kami berpisah. Ia
pulang mengurus keluarganya, saya bingung mau pulang karena tak ada yang
diurus. Mungkin ini waktunya ikut lari dari kenyataan.
Sudah
beberapa minggu belakangan saya merasa sangat jenuh dengan kehidupan yang saya
jalani, tanpa menampik bahwa kebahagiaan juga turut hadir di antaranya. Tetapi
mungkin kebahagiaannya hanya dua puluh persen, sisa delapan puluh persennya
adalah yang melelahkan batin.
Maka
dua teman saya bersepakat mengajak saya ke luar kota, setelah melihat gelagat
saya yang aneh. Awalnya saya menolak ajakan itu. Lelah batin itu ternyata
mendatangkan kemalasan. Malas bergerak, malas menghadiri undangan, malas makan,
malam mandi. Tetapi paksaan yang cukup bertubi-tubi dari kedua teman itu
membuat saya mengalah dan berakhir bersama mereka di akhir pekan.
Dua
hari menghilang tanpa berpikir apa-apa lumayan membuat baterai saya menyala
lagi. Mungkin yang namanya habis di-recharge itu yaa… seperti perasaan setelah
akhir pekan itu. Tetapi setelah semuanya berakhir, dan saya kembali lagi pada
rutinitas, kembali melihat tempat tinggal yang sama, perasaan sebal mulai
menyerang lagi.
Entah
mengapa, belakangan ini juga, saya sering sakit kepala acap kali bangun pagi
setelah sekian jam tanpa masalah tidur pada malam hari. Padahal, saat berakhir
pekan bersama teman-teman, sakit kepala itu raib entah ke mana.
Dalam
keadaan tertentu, saya bisa menggigil di tengah hawa yang panas dan sebaliknya
bisa
kegerahan
di ruang berpendingin. ”Kayaknya elo menopause deh,” komentar seorang teman.
Kalau sudah demikian, ingin rasanya berlibur lagi, ingin melarikan diri dari
kenyataan yang menyebalkan lagi.
Mungkin
hal ini yang menyebabkan ada orang suka mengonsumsi narkoba. Mendapat
kebahagiaan sesaat, melarikan diri sesaat dari kenyataan yang mendatangkan rasa
sukacita yang meski sejenak, tetapi memberi rasa yang berbeda.
Kemudian
terlintaslah dalam benak saya, apakah lari dari kenyataan seyogianya dilakukan
sesering mungkin? Mengapa lari dari kenyataan itu dilakukan? Kalaupun ingin
lari darinya, apakah itu bisa dilakukan, la wong saya ada di dalam kenyataan
itu sendiri? Bagaimana saya bisa lari darinya?
Merdeka
Kemudian
saya memendamkan semua pertanyaan itu beberapa minggu lamanya. Sampai pada
suatu sore di akhir pekan, saya seharian terpaksa harus berdiam di tempat
tinggal karena Jakarta diguyur hujan.
Setelah
bosan melihat tayangan televisi, mencoba belajar memasak dengan berakhir
menyantap ayam goreng gosong, saya memutuskan untuk melakukan aktivitas jalan
cepat dan lari di halaman apartemen seperti yang setiap hari saya lakukan.
Setelah
aktivitas dilakukan, saya beristirahat di atas rumput. Memandang sore hari
dengan langit yang tak terlalu biru sambil mendinginkan badan yang berkeringat.
Nah, di saat itulah saya kembali mengingat pada sejuta pertanyaan mengenai lari
dari kenyataan.
Saya
cukup lama terdiam sebelum mulai mencoba dengan tenang mengapa saya ingin
sekali lari
dari
kenyataan itu. Hal pertama dan mungkin satu-satunya penyebab adalah saya tak
bisa menerima kenyataan hidup saya sendiri. Kalau kenyataan dunia, apa boleh
buat. Suka tidak suka, saya harus menerimanya.
Jadi,
sejujurnya melarikan diri sejenak di akhir pekan itu tak menyelesaikan masalah.
Mungkin sama seperti mengonsumsi narkoba itu tak menyelesaikan masalah. Itu
mengapa sepulang melarikan diri, saya mengomel lagi. Itu mengapa saya ingin
berlibur lagi, ingin lari lagi. Saya hanya melupakan tetapi tidak menerima
kenyataan.
Mengapa
saya tak bisa menerima kenyataan hidup saya? Yaa… sederhana saja. Karena memang
belum dapat menerima saja. Jadi, saya harus menerima kenyataan bahwa saya tidak
bisa menerima dan bukan pura-pura bisa menerimanya.
Saya
suka naik pitam kalau dikuliahi kalau saya ini dianggap kurang bersyukur saat
saya tak bisa menerima kenyataan yang tak saya sukai. Saya merasa dipersalahkan
kalau menjadi jujur dan selalu dianggap sungguh mulia ketika saya menjadi
munafik. Terlintas dalam benak saya kalau munafik itu memberi banyak keuntungan
ketimbang menjadi jujur.
Maka
setelah mendinginkan diri, saya pikir saya akan mengomel untuk beberapa waktu
lamanya sampai pada suatu hari nanti akan datang waktunya saya bisa menerima
kenyataan hidup saya.
Kan
katanya semua itu pasti berakhir. Kebahagiaan akan berakhir, penderitaan pun
akan berakhir, maka ketidakmampuan saya untuk menerima kenyataan ini pun akan
berakhir.
Jadi,
di suatu hari nanti saya tak perlu lagi berlari-lari. Dan hari itu akan menjadi
sebuah hari kemerdekaan buat saya. Lari dari kenyataan itu tidak memerdekakan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar