Selasa, 03 November 2015

Menyindir

Hari Selasa malam, saya menyaksikan tayanganLate Show with David Letterman. Sebuah tayangan lucu nan nyelekit. Nyaris semua pribadi kondang di dunia pernah tersindir dengan komentarnya. Dari Donald Trump sampai Osama bin Laden.
Belum lagi kalau ia sudah mulai membacakan informasi penuh tawa gelak dan sindiran itu, yang dituangkan dalam beberapa lembar kertas di sesi fun facts-nya. Hal yang juga menjadi ciri khasnya di sesi itu—meski buat saya jorok—adalah saat ia menggunakan air liurnya untuk membuka lembar demi lembar kertas berwarna biru muda itu.
”Enaaaak…. Gila”
Sindiran dipakai agar manusia yang disindir menjadi ngeh kalau disindir dengan tujuan akhirnya manusia itu kembali ke jalan yang benar. Supaya tidak terlalu kasar menyindirnya, dipakailah cara lebih manusiawi, salah satunya dengan guyonan.
Bahasa atau gerak yang mengundang tawa. Kalau manusia disindir, reaksinya hanya dua. Nrimo atau melawan. Kalau nrimotak usah dibicarakan karena tak mengundang friksi. Nah, kalau marah, akan jadi perkara.
Pertanyaannya kemudian, mengapa marah? Ya... karena tersindir. Mengapa tersindir? Ya… karena hal yang disindirkan memang dilakukan dan celakanya ketahuan. Pertanyaan lagi, mengapa mesti marah kalau ketahuan? Bukankah itu tidak direkayasa seperti gosip karena ada buktinya? Marah kan kalau dituduh tanpa bukti atau tanpa diketahui. Jawabannya, karena manusianya sakit hati, tidak suka kalau ketahuan melakukan hal yang diinginkan dirinya sendiri, tetapi tak diinginkan orang lain.
Sebetulnya saya menulis parodi ini bukan untuk Anda, tetapi untuk saya sendiri. Saya sedang curhat dengan diri saya sendiri mengenai masalah sindiran.
Waktu saya disindir karena berselingkuh, saya jengah. Saya tak suka kesenangan saya diusik, padahal teman-teman saya sedang menasihati secara tak langsung agar saya cepat-cepat sadar.
Saya marah karena mereka membuat saya berpikir saya melakukan kekeliruan yang secara sadar saya tahu, tetapi saya tak bisa melawan karena enak. Saya paling tak suka diingatkan kesalahan yang saya sendiri sudah tahu. Itu menyebalkan.
Saya disindir karena perbuatan saya tak senonoh. Saya sebagai manusia dipersenjatai dengan otak yang bisa membuat yang tak senonoh menjadi beberapa nonoh. Saya ingat masa memasuki dunia remaja, membaca buku stensilan dan film biru kemudian menjadi kolektor. Dari sana otak saya berkembang ke segala arah.
Sekarang, apa yang saya tonton masa remaja terjadi di depan mata. Dari yang biasa sampai luar biasa. Kemudian saya tanya teman saya mengapa melakukan hal-hal itu, mereka menjawab ringan, ”Enak gila….”
”On and Off”
Enak gilalah yang membuat manusia membiarkan otaknya berpikir kemudian melatih membungkam nurani. Tak hanya soal seks, tetapi juga membunuh, meracuni tubuh, korupsi, cari muka, menjilat dalam segala cara dan bentuk. Apalagi enak gila itu dijadikan nasihat atau bentuk a helping hand bagi mereka yang butuh pertolongan melupakan sakit hati dan atau sakit segalanya dengan cepat, tanpa harus bertele-tele kelamaan.
Saya dengan otak saya bisa memanipulasi sedemikian rupa dan mengatakan hasil manipulasi bukan manipulasi, tetapi rasionalisasi. Kemudian setelah bisa masuk di rasio, tentu diterima dilanjutkan dengan kelihatan masuk akal, dan berakhir menjadi tak apa-apa alias kebiasaan.
Dan ketika sudah menjadi kebiasaan, kalau disindir, reaksinya hanya: pertama, marah; kedua, bisa jadi bebal karena sudah terbiasa, tak merasa lagi salahnya. Malah bisa menjadi bumerang dan mengatakan yang menyindirlah yang salah.
Manusia dengan akalnya suka curang. Kalau yang enak dirasionalkan dan diterima, yang enggak enak seperti membuktikan api itu panas tak mau membakar diri. Mereka bisa mengatakan, ”Gila apa. Goblok bener.”
Tetapi kalau korupsi, berselingkuh, menyogok dan menyodok, sudah tahu salah, bukan tempatnya tetapi dirasionalkan dengan kalimat macam ini. Manusia itu penuh kelemahan dan kecurangan, maka itu ndak apa-apa. Itu sangat manusiawi. Apalagi ada tambahan komentar, ”Enak, gila….”
Setelah saya menyaksikan tayangan penuh sindiran itu saya bertanya kepada diri sendiri. Saya ini mau menjadi manusia yang membiarkan otaknya berpikir tanpa nurani, atau dengan nurani, atau hanya kadang-kadang saja dengan nurani. Kalau saya sampai disindir, siapa pun itu, sejujurnya saya harus berterima kasih ketimbang naik pitam.
Mereka yang menyindir berada di luar kehidupan saya, pasti mereka lebih bisa melihat secara obyektif saya sudah membutuhkan pertolongan. Karena sindiran mereka itu adalah bukti nurani saya lagi off. Saya baru tahu on and off bukan cuma istilah mematikan dan menghidupkan lampu, ternyata bisa untuk nurani juga.
Masalahnya, saya mau memanfaatkan fasilitas on and off itu atau tidak. ”Yaaa... saya mau memanfaatkan. Memanfaatkan untuk meng-off-kan, maksudnya,” nurani saya langsung berteriak sebegitu kencangnya sampai saya malu sendiri karena saya menulis parodi ini seperti manusia yang sok suci, ternyata suara terdalam saya tak demikian adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar