Ketika
saya membaca tewasnya aktor layar lebar, Philip Seymour Hoffman, gara-gara
narkoba dengan jarum di lengannya, pertanyaan pertama yang melintas di kepala
saya adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya sendiri merasa aneh. Begini.
Apakah ia meninggal dalam puncak bahagianya dan bukan sebaliknya?
Cinta
diri
Pertanyaan
berikutnya, apakah kejadian itu membuktikan bahwa ia mencintai diri dengan luar
biasa? Saya jadi berpikir, katakan kalau saya ini tidak bahagia, tindakan apa
yang kira-kira akan saya lakukan untuk mengatasi ketidakbahagiaan itu?
Jawabannya
sangat sederhana, tetapi belum tentu eksekusinya. Kalau tidak bahagia,
yaa…mencari jalan bagaimana menjadi bahagia. Mengapa demikian? Karena saya
sungguh mencintai diri saya, maka saya mencari solusinya.
Dengan
kepandaian yang pas-pasan, saya berpikir bahwa mencintai diri akan melahirkan
kebahagiaan diri. Jadi, karena saya mencintai diri maka saya mencari jalan
keluar apa pun caranya, untuk bisa membahagiakan hidup yang tidak bahagia itu.
Bisa jadi mister Hoffman berpikir seperti saya untuk mencari jalan keluar, dan
ia memilih jalan seperti yang Anda dan saya telah baca di beberapa media.
Karena
kalau solusi yang dipilih seseorang itu tidak membuatnya bahagia, ia tak akan
melakukannya, bukan? Apa pentingnya melakukan sesuatu yang tidak
membahagiakan, la wong sekarang saja sudah tak bahagia? Masak
ketidakbahagiaan dibuat berkali-kali dan dijadikan sebuah target kebahagiaan?
Beberapa
jam setelah pertanyaan melintas di benak saya akan kematian aktor kondang itu,
saya menyaksikan film berjudul Running With Scissors. Dan
dalam sebuah adegan, seorang ibu menjelaskan kepada putranya, mengapa ia
menyerahkan anaknya untuk diadopsi. ”Aku sangat mencintaimu dan aku
ingin engkau bahagia. Engkau akan mendapat kebahagiaan di tempat itu.” Kira-kira
demikian kalimatnya.
Menyaksikan
adegan dalam film itu, saya jadi berpikir, bukankah seharusnya kalau seorang
ibu itu mencintai anaknya, yaa…sudah menjadi kewajiban, bahwa ia yang
menciptakan kebahagiaan buat yang dicintainya, dan bukan malah mengusulkan
anaknya untuk mencari kebahagiaan di luar sehingga orang lain diberi beban yang
seharusnya menjadi bebannya.
Entah
dari mana saya mulai berpikir, mungkin kalau sebagai ibu, saya tak pernah
mencintai diri sendiri, sudah sewajarnya saya tak bisa menciptakan kebahagiaan
diri, apalagi menciptakan untuk orang lain.
Apa
yang saya mau bagikan kepada orang lain, la wong cinta yang
melahirkan kebahagiaan saja tak ada di dalam diri saya. Dan kalaupun ada,
jumlahnya sedikit sekali sehingga tak mencukupi untuk dibagikan kepada yang
seharusnya mendapatkannya.
Jadi
benarlah kata si ibu, karena ia mencintai anaknya, ia tak berkeinginan anaknya
tak bahagia bersamanya. Solusi yang dipilihnya, menyodorkan anaknya untuk
diadopsi. Sebuah solusi yang tak masuk akal buat saya, tapi apa boleh buat.
Manusia
bodoh
Teman
wanita saya memiliki pasangan yang doyannya berselingkuh, saya menyarankan
untuk mengakhiri perkawinannya saja. Ia mengatakan itu tak masalah, selama ia
masih memiliki rumah dan harta. Materi duniawi itu membuat ia bahagia.
Buatnya,
itu penting sekali, karena hidup kekurangan bukanlah cita-citanya sejak remaja
dulu. Ia mencintai dirinya dengan sangat, dikhianati adalah risiko dari begitu
dalamnya mencintai diri sendiri.
Anda
pikir dia tak waras? Saya sebagai temannya saja sudah menganggap dia tidak
waras. Mengapa saya berpikir demikian? Mungkin karena sesungguhnya, saya tak
mengerti isi kepala orang lain, karena saya terbiasa melihat kebahagiaan orang
lain hanya dengan kacamata saya sendiri, dengan standar kebahagiaan saya.
Saya
sungguh tahu, tapi sering tak menyadari bahwa standar mencintai diri dan
kebahagiaan diri itu, berbeda untuk setiap orang. Mungkin itu harus saya
camkan, sehingga saya mengerti mengapa ada manusia seperti mister Hoffman, ada
ibu seperti dalam film yang sangat depresif itu, dan ada manusia bernama teman
wanita saya tadi.
Saya
sendiri sedang jatuh cinta kepada manusia yang menurut teman-teman saya tak
pantas untuk dicintai. Yang juga sejujurnya telah membuka mata dan hati saya,
bahwa di dunia ini ada manusia yang tak dianugerahi hati dan nurani yang sehat.
Dan kalaupun ia dianugerahi, ia tak tahu dan pura-pura tidak tahu bagaimana
memanfaatkannya untuk membahagiakan orang lain.
Tetapi
saya sedang berusaha untuk ’mengajarkannya’ menggunakan dengan melihat
bagaimana besarnya cinta saya kepadanya, dan bukan menasihatinya agar ia
menyehatkan hati dan nuraninya. Dan keputusan saya untuk melakukan itu,
membuahkan predikat sebagai manusia bodoh. Teman saya berkata begini.
”Ternyata
ada di dunia ini, manusia yang lebih bodoh dari kebodohan itu sendiri.”
Buat
orang lain, saya bodoh. Buat saya sendiri, saya sedang mencintai diri dan
mencari kebahagiaan, meski jalannya ajaib buat orang lain. Tapi cinta diri itu
harus diperjuangkan, apa pun cara yang dipilih.
Dan
perjuangan itu bukan untuk disetujui atau tidak disetujui oleh orang lain,
meski berisiko mendatangkan penghakiman dan predikat terkotor yang pernah ada
di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar