Itulah keluhan yang dituliskan oleh seorang wanita di sosial media, pada pagi hari ketika saya lagi bersemangatnya menyambut hari. Kemudian diikuti dengan satu kalimat yang saya percaya juga hadir di kepala Anda dan saya ketika kekecewaan mau tak mau harus diterima. Tuhan tahu yang terbaik. Terima kasih Tuhan.
Kusut
Keluhan dan kalimat penutup itu membuat saya jadi
berpikir, mengapa selalu demikian terjadi. Berkeluh terus berakhir dengan Tuhan
tahu yang terbaik. Seharusnya keluhan atau kekecewaan tak perlu terjadi kalau
sejak awal seseorang menyadari bahwa Tuhan itu selalu tahu yang terbaik, bukan?
Selanjutnya, saya sungguh tak bisa mengerti, mengapa
ia berterima kasih, la wong dari keluhannya itu saja saya bisa merasakan
kekecewaan yang begitu dalam. Maka saya mulai berasumsi. Mungkin ia berterima
kasih karena pada akhirnya ia bisa berserah kepada Tuhan dan tidak lagi
bersikeras menggantungkan harapan kepada kekuatannya.
Kemudian saya bertanya, apakah ucapannya itu benar
datang dari lubuk hati yang mengerti atau diucapkan sebagai rasa hormat kepada
Tuhan, meski sejujurnya hatinya tak rela untuk menyerah kalah?
Saya tak menemukan jawabannya, tapi malah jadi
berpikir. Apakah saya perlu mengeluh atau saya terus berjuang dengan kesabaran,
sampai apa yang saya inginkan tercapai, karena saya tahu bahwa Tuhan bisa
melakukan segala hal. Bahkan, untuk sesuatu yang menurut manusia sudah tak
masuk akal. Meski ada risikonya, saya akan disebut manusia buta yang gila.
Atau risiko yang sangat jamak, yaitu mendengar suara yang berbunyi kalau perjuangan saya itu bukan sesuatu yang dikehendaki Yang Maha Kuasa, atau kamu jangan memaksa kehendak. Tuhan lebih tahu, dan Ia tahu yang terbaik buat kamu.
Kalau saya sudah dikuliahi soal percakapan macam
itu, maka saya menjadi seperti benang kusut. Karena suatu hari seorang teman
mengatakan kepada saya bahwa dalam memohonkan sesuatu, saya harus punya iman
yang kuat, percaya bahwa Yang Maha Kuasa akan bekerja untuk mengabulkan
permohonan itu.
Ia berkata begini. ”Tetaplah berdoa meski
tanda-tandanya belum terlihat. Setia sama Tuhan dan permohonanmu itu, biarkan
imanmu menyala-nyala meski keadaan sudah mustahil untuk dikatakan bisa
berhasil. Segala sesuatu tak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Kemudian ia melanjutkan lagi. ”Manusia itu terbatas,
Yang Maha Kuasa itu tidak. Doa dan imanmu itu merupakan alat melepaskan
belenggu keterbatasan kemanusiaanmu. Makanya, jangan terlalu percaya sama
manusia.”
Jalan keluar
Maka saya seperti pelanduk mati di tengah-tengah.
Bingung. Apakah saya harus berjuang dengan iman yang terlihat seperti orang
gila yang buta, artinya saya sedang berjuang bersama Tuhan, atau menyerah
dengan mengatakan ya sudahlah…terima saja kenyataan itu, sebagai bukti bahwa
Tuhan sendiri yang akan mengelola keinginan dan harapan saya.
Saya jadi ingat dalam beberapa cerita yang saya
dengar, terutama saat mendengar seseorang yang berjuang melawan penyakit yang
tak bisa lagi disembuhkan secara medis. Sebuah penyakit yang sudah masuk ke
stadium terminus. Dalam situasi ketika uang tak bisa lagi menolong, apakah yang
dilakukan manusia?
Maka sejuta cerita yang saya dengar memiliki dua
versi. Versi pertama berserah dan menerima sepenuhnya untuk Tuhan menentukan
hasil akhirnya. Dan kalaupun hasil akhirnya tak seperti yang diharapkan,
yaaa…sudahlah, terima saja. Tuhan tahu yang terbaik.
Versi yang kedua, si penderita menyemangati hidupnya
bersama Tuhan. Jadi sebuah kerja sama aktif antara manusia dan Tuhan. Semangat
hidup itu mungkin merupakan gambaran bahwa seseorang memercayai bahwa segala
sesuatu bisa terjadi.
Oleh karena itu, semangat hidup itu mungkin
menggambarkan iman seseorang bahwa ia bisa sembuh, bukan sebuah gambaran
seseorang yang bersikeras alias ngotot untuk sembuh. Semangat hidup itu tidak
sama dengan ngotot.
Ngotot itu ngawur. Ngotot itu buta.
Semangat hidup itu tidak ngawur dan tidak buta.
Semangat hidup itu mengetahui
sebuah keadaan atau situasi yang mengecewakan,
kemudian menerima keadaan itu, selanjutnya memiliki keinginan untuk sembuh, dan
berusaha mewujudkan kesembuhan bersama Yang Maha Kuasa.
Jadi, semangat hidup itu mengandung kerelaan untuk
menerima situasi apa pun, menyatakan keinginan, menunjukkan usaha, dan
menunjukkan kerja sama dengan Yang Maha Kuasa. Versi kedua itu melahirkan
pendapat yang mungkin juga pernah Anda dengar bahwa kesembuhan itu bisa juga
terjadi kalau memiliki semangat hidup yang tinggi.
Maka pagi itu, setelah bingung saya mendapat pilihan
jalan keluar untuk menjalani hari-hari hidup saya selanjutnya yang sudah pasti
seperti ayunan. Pertama, saya bisa memilih untuk ngotot. Kedua, saya memilih
untuk ngotot terlebih dahulu sampai
kelelahan, kemudian memutuskan untuk menyerah dengan berucap, yaa…sudahlah.
Tuhan tahu yang terbaik.
Atau yang ketiga, memilih dari sejak awal menjalani
kehidupan yang seperti ayunan itu dengan semangat hidup yang tinggi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar