Tepat satu minggu yang lalu saya berulang tahun. Hari itu saya merayakan dengan perasaan galau. Bahkan, satu hari sebelumnya, saya lupa kalau keesokan hari akan berulang tahun. Mungkin karena sudah separuh abad lebih, ulang tahun itu menjadi seperti hari biasa saja. Tidak ada yang istimewa.
Bersyukur
Bertambahnya umur bukan lagi sebuah hal yang luar
biasa. Apalagi bertambah tua dengan kesehatan yang membuat saya tak bisa lagi
berlari, mendaki gunung. Bertambah tua dengan rasa takut melihat banyak teman
yang meninggal dunia. Bertambah usia dengan setiap hari mengonsumsi obat ini
dan itu supaya tidak pikun, supaya tidak stroke, supaya tidak segalanya.
Bertambah tua dengan kesepian yang sangat meski ada sejuta teman yang dimiliki.
Pagi itu saya berdoa mengucap syukur meski setelah
itu otak saya berpikir. Mengapa saya selalu mengucap syukur kalau sedang
merayakan hari ulang tahun atau seperti satu bulan lalu saat pergantian tahun.
Apakah saya mengucap syukur karena takut kalau tidak mengucap syukur, maka tahun
yang baru dan umur yang baru akan mendatangkan petaka?
Apakah saya ini mengucap syukur karena itu adalah
aktivitas yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan semata setiap berulang
tahun? Apakah dalam mengucap syukur, konten dari rasa syukur itu hanya karena
saya bisa diberikan perpanjangan hidup dengan umur yang baru dan sepanjang
tahun lalu saya sehat? Atau karena keluarga saya bahagia? Karena anak cucu
sehat walafiat, dan uang saya yang dari sekian M menjadi sekian T?
Apakah konten dari rasa syukur itu sebaiknya hanya yang menyenangkan batin dan daging semata? Bagaimana kalau saya bersyukur bertambah umur, anak saya sehat, dan cucu bahagia, tetapi di usia yang bertambah tua itu saya berselingkuh karena menemukan cinta yang lebih baik dari pasangan yang sudah mendampingi setelah sekian puluh tahun, dan perselingkuhan itu mendatangkan rasa bahagia?
Atau ternyata dalam menjalankan usaha yang membuat
menjadi kaya raya, saya telah melakukan hal yang tidak benar meski itu juga
mendatangkan rasa bahagia. Apakah ucapan syukur saya menjadi tidak pantas lha
wong saya bahagia meski cara untuk menemukan kebahagiaan itu tidak benar?
Bingung
Saya ini diajari untuk mengucap syukur dalam segala
hal. Sampai hari ini saya tidak mengerti nasihat itu. Segala hal itu apakah berarti
hal benar dan yang tidak benar? Jadi, kalau itu yang dimaksud demikian, maka
bentuk ucapan syukur selain bertambah umur, juga dapat berupa ucapan syukur
jadi koruptor dan berselingkuh tanpa ketahuan.
Belakangan, setiap jam 12 siang, saya mendoakan orang
yang menderita sakit. Dari yang diserang dimensia dan halusinasi sampai yang
kena kanker dan penyakit auto imun. Yang terakhir adalah teman saya seorang
wanita, yang suaminya juga beberapa waktu lalu diamputasi.
Kalau saya berulang tahun, artinya saya diberikan
kesempatan panjang umur, tetapi keadaan saya seperti mereka yang saya sebutkan
di atas, bagaimana saya dapat mengucap syukur dalam segala keadaan? Apakah saya
akan tetap mendendangkan lagu panjang umur serta mulia?
Atau itu hanya saya saja yang punya iman setipis
kartu kredit? Karena bisa jadi orang- orang di atas itu melihat bahwa kanker
nasofaring atau kanker kulitnya atau kelumpuhannya atau tak punya kaki lengkap adalah
sebuah hal yang positif.
Kalaupun saya berpikir harus mengucap syukur dalam
segala hal, apakah itu berarti saya ini bersyukur memiliki pengalaman baru?
Pengalaman baru menggunakan kaki palsu, maksudnya. Mengucap syukur bisa
merasakan apa yang namanya dimensia, halusinasi, karena selama ini sehat
walafiat?
Bisa merasakan apa itu kelumpuhan yang selama ini
tak pernah mengalaminya? Jadi, sama seperti kalau dulu tak punya uang sekian T,
sekarang bisa punya uang sekian T. Apakah begitu? Sungguh sampai tulisan ini
dibuat saya tidak mengerti dengan nasihat itu. Bahkan, ketika saya berdoa untuk
mereka saja, saya berdoa dengan geleng-geleng kepala.
Saya ini bertanya dengan diri saya sendiri. Untuk
apa saya melakukan ucapan syukur itu? Apakah agar saya menjadi orang yang tahu
diri meski tidak ada orang lain yang tahu kalau saya tahu diri? Atau saya
melakukan itu agar saya tidak dikategorikan sebagai manusia tak tahu diri meski
tak ada orang yang akan menghakimi saya ini tak tahu diri?
Kalau rasa bersalah tebersit ketika saya tidak
mengucap syukur, apakah itu karena tidak mengucap syukur itu adalah sesuatu
yang tidak benar? Kalaupun demikian, masih ada artinyakah saya ini mengucap
syukur dalam rasa bersalah?
Apakah rasa bersyukur tetap harus dilakukan karena
kalaupun kaki saya diamputasi dan mendapat kanker yang mematikan, kan saya ini
masih bisa merayakan ulang tahun, bisa melihat anak dan cucu saya sehat serta bahagia,
dan saya ini kaya raya.
Karena itu, ucapan syukur yang sustainable tersebut
sebaiknya dengan mencari penyeimbang. Dengan demikian, diharapkan tidak akan
terjadi kekecewaan, dan saya dapat terus mengucap syukur sepanjang hidup ini.
Dan, tak perlu harus malu, kalau saya sampai lupa
bahwa saya sedang memanipulasi rasa syukur itu, dan kemudian menjadi terbiasa
bahwa memanipulasi akan menjadi lebih baik daripada tak mengucap syukur sama
sekali. Begitukah? Sungguh saya ini bingungnya setengah mati.
Kompas, 20 Januari 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar