Lima hari berturut-turut saya menerima kabar dukacita. Saking tiap hari menerima berita itu, saya jadi berpikir kapan giliran saya tiba. Bagaimana rasanya meninggal itu? Apa yang perlu dipersiapkan menyambut datangnya hari itu?
Tentu tak ada yang menjawab suara nurani itu, yang
tertinggal hanyalah perasaan takut di ujung semua pertanyaan itu.
Persiapan
Takut. Kenapa? Biasanya kalau saya takut atau keder
menghadapi sebuah keadaan, karena saya kurang atau malah tidak punya persiapan.
Dan saya tahu pasti, persiapan itu penting dilakukan sebelum perang.
Coba tanyakan kepada seorang pengusaha, atau
koruptor, atau maling, semua perlu persiapan. Persiapan siapa targetnya,
bagaimana cara pencapaian targetnya, bagaimana cara membobol atau mencurinya,
bagaimana kalau strategi ini gagal, apakah ada strategi lain yang dapat
digunakan.
Namun mengapa persiapan itu menjadi penting. Karena
baik pengusaha, koruptor, dan maling, targetnya harus tercapai. Karena kalau
tak tercapai atau gagal itu akan mengecewakan, baik bagi pengusaha dan seluruh
perusahaan, baik malingnya dan mereka yang menadah hasil pencurian itu.
Oleh karenanya target setiap saat harus ditentukan.
Target dan persiapan itu sudah tak bisa dipisahkan. Target itu yang memacu
semangat, persiapan itu adalah medium menggerakkan dan menyalurkan semangat.
Persiapan yang matang itu sebuah cerminan menyalurkan semangat dengan benar, target yang tercapai adalah pembuktian kalau persiapan yang matang itu bak senjata yang menembaki sasaran dengan tepat.
Biasanya kalau persiapan sudah matang, tak ada rasa
takut atau kalaupun takut itu akan kecil sekali persentasenya. Mengapa
persiapan itu harus matang, agar targetnya bisa dicapai sesuai dengan apa yang
direncanakan.
Tetapi persiapan itu baru akan dilakukan, kalau
seseorang tahu target apa yang akan dituju, berapa besar yang akan dicapai.
Karena dengan mengetahui targetnya, senjata yang digunakan akan disesuaikan.
Mengapa saya keder mendengar kabar dukacita? Mengapa
saya takut meninggal? Seperti saya katakan di atas, kalau saya takut, itu
karena persiapannya kurang atau tidak ada sama sekali. Kadang, targetnya saja
saya tidak tahu.
Target
Mengapa saya tak tahu target saya? Karena tidak
barang sedetik pun, meninggal dunia menjadi target hidup saya. Baik target
jam-jaman, target harian, mingguan, bulanan maupun tahunan.
Target saya hanya ingin kaya, ingin punya ini, punya
itu, punya rumah di sana, di sini dan di situ. Punya perusahaan di lima benua.
Target saya jadi ketua organisasi ini, organisasi itu, dan sejuta target
lainnya.
Saya tak pernah berpikir untuk memiliki target
meninggal dunia. Tidak hanya meninggal saja, tetapi meninggal dengan persiapan
yang matang. Jadi saya ini hanya takut melulu, tetapi tak berniat mengurangi
ketakutan. Karena buat saya yang diutamakan adalah target duniawinya. Yang
surgawi nanti saja.
Maka target itu penting dibuat, untuk menghindari
kalimat nanti saja dipikirkan. Itu mengapa setiap perusahaan di dunia ini,
setiap akhir tahun mulai rapat tak henti-hentinya untuk mempersiapkan target
yang dicapai tahun yang akan datang.
Dari mempelajari situasi politik, ekonomi, keuangan,
dan lain sebagainya. Internal dan eksternal faktor dipikirkan masak-masak,
sehingga ketika tahun yang baru datang, mereka siap menghadapinya.
Pertanyaannya kemudian, apakah saya siap menghadapi
kematian saya? Apakah di setiap akhir tahun selama setengah abad ini, saya
sudah berpikir persiapan apa yang harus saya lakukan untuk target yang ingin saya
dapati di tahun yang baru?
Karena meninggal dunia datang seperti maling
sehingga tak tahu kapan akan datangnya, maka seperti yang saya tulis di atas,
hal yang satu ini targetnya bukan hanya dijadikan target tahunan, tetapi
jam-jaman, harian, mingguan, dan bulanan.
Jadi kalau tahun ini saya mencapai target satu
miliar, maka tahun depan harus mencapai lima miliar. Jadi kalau meninggal dunia
saya jadikan target, maka tahun ini kalau saya masih belum bisa memaafkan, ya
target berikutnya harus bisa mengurangi lima puluh persennya. Dan dalam tahun
berjalan, bisa jadi target perusahaan melebihi apa yang ditargetkan, maka
memaafkan juga bisa melebihi lima puluh persen pencapaiannya.
Kalau tahun ini sudah membuat orang lain hidupnya
sengsara, tahun depan harus dikurangi.
Sama saja kalau pengeluaran tahun ini berlebihan,
maka dengan laporan keuangan yang benar, tahun depan beberapa pengeluaran yang
tidak perlu harus dihilangkan. Mengapa semua itu harus dilakukan? Supaya
perusahaannya sehat, supaya manusianya yang bekerja menjadi sejahtera.
Maka sama saja, kalau persiapan meninggal dunia
dipikirkan masak-masak, ’pengeluaran’ yang tidak perlu bisa dihilangkan, maka
yang meninggal dan yang ditinggalkan juga menjadi sejahtera.
Sehingga kalau datang berita dukacita tahun depan,
saya tak perlu keder lagi, tetapi lebih bersemangat untuk mencapai target. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar