Entah mengapa beberapa bulan terakhir ini saya mulai berpikir untuk lebih sering bepergian. Bahkan, sampai kepikiran untuk menjual salah satu aset untuk tujuan itu. Saya merasa seperti katak di bawah tempurung kota besar.
Seandainya ayah saya yang kikir itu masih ada dan
mendengar cita-cita itu, saya kok yakin ia akan menjerit dan mengusulkan untuk
tetap tinggal di bawah tempurung saja. Sejak lama, sejak saya kecil, royal itu
adalah predikat yang diberikannya untuk saya.
Gelagapan
Di bawah tempurung itu artinya, yang saya ketahui,
yaa... itu-itu saja. Makanya, seperti katak di bawah tempurung, dunia yang saya
ketahui itu adalah kemacetan, kurangnya toleransi, mudah naik pitam, tidak
menginjak bumi, susahnya bertabiat rendah hati, bermain gengsi, kalau bisa
senantiasa bersaing, mengeluarkan isu yang mematikan.
Karena dunia tempurung saya seperti itu, maka
katanya, dan saya yakin Anda setuju, saya disarankan keluar dari tempurung itu
sehingga saya bisa melihat dunia yang berbeda. Tujuannya ke luar dari tempurung
itu cuma satu. Supaya menjadi manusia yang lebih terbuka.
Dengan terbuka, katanya, saya tidak lagi berpikir
bahwa dunia sayalah yang paling benar, pendapat sayalah yang paling benar.
Bahwa di luar tempurung ada yang bisa hidup sederhana dan tidak bermain gengsi,
tetapi tetap bermartabat. Bahwa ada dunia di luar tempurung, yang toleransi itu
tidak dianggap sebuah kekalahan, bukan juga sebuah bentuk kepengecutan.
Maka, keluarlah saya dari tempurung bernama Ibu Kota yang selama ini saya anggap sudah sangat lengkap dan tidak perlu harus keluar. Jalan-jalan ke Jawa Tengah yang saya ceritakan dua minggu berturut-turut dalam artikel mingguan ini adalah aksi nyata kalau saya mengeksekusi saran untuk keluar dari tempurung. Saya mau mencoba menjadi "katak" yang enggak gelagapan.
Katak yang tidak gelagapan berbuat baik karena
selama ini saya tidak gelagapan berbuat kejahatan. Supaya saya tidak gelagapan
mengeluarkan kata-kata yang membangun karena keseringan tidak gelagapan
mengeluarkan kata yang menikam, yang jleb, jleb, jleb.
Supaya saya tidak gelagapan mendengar ada orang
memiliki pendapat yang berbeda, karena selama ini saya tak pernah gelagapan
memaksa dan mengintimidasi orang yang telah diciptakan berbeda dari sononya,
untuk dijadikan sama mengikuti cara pandang saya.
"Enjoy the ride"!
Maka, saya melakukan sebuah perjalanan keluar dari
tempurung dan bukan sekadar berlibur. Sepulang dari perjalanan itu, saya
menjadi katak yang sedikit lebih punya toleransi. Dari perubahan yang sangat
sedikit dan tidak signifikan itu, saya merasa kok bepergian itu macam penyedot
debu.
Ia menyedot kotoran yang ada di tempurung yang
selama ini saya lihat bukan sebagai kotoran, tetapi sebagai sebuah cara
bertahan hidup. Sebelum saya melakukan perjalanan itu, saya membaca buku
mengenai perjalanan yang akan saya tempuh. Tentu saya membaca waktu masih di
dalam tempurung. Ternyata, membaca selama di dalam tempurung sangat berbeda
reaksinya dengan melihat kenyataan.
Sekarang saya mengerti kalau tinggal terlalu lama di
dalam tempurung, orang akan mengatakan: "Elo bisanya cuma teori
doang." Maka, keluar dari tempurung mampu menghilangkan yang doang itu. Di
dalam tempurung, saya merasa kebahagiaan itu harus spektakuler, tetapi
pengalaman di luar tempurung menunjukkan bahwa kebahagiaan itu bisa berasal
dari hal-hal yang sederhana dan bukan sekadar murah.
Seorang penjual batik meluangkan waktu mengantar
saya makan nasi rames dan pecel. Kapan terakhir saya rela menyediakan waktu
hanya untuk mengantar teman untuk makan? Di dalam tempurung, kemacetan
dijadikan alasan sebagai bentuk kalau saya tidak egois.
Saya tidak egois karena kemudian mengirim pesan
berikut petanya yang sekarang dengan mudah diunduh dalam sekian detik, sebagai
sudah meluangkan waktu untuk orang lain, sudah melakukan kebaikan. Di dalam tempurung
terjadi abrasi nurani.
Saya membaca buku untuk menambah pengetahuan, tetapi
buku memberi saya keterikatan emosi yang dibayangkan dan bukan yang nyata saya
alami. Buku membawa saya melayang ke awan, bepergian mengajak saya menginjak
tanah.
Buku memberi saya pengetahuan bahwa kerukunan
antarsesama itu baik, tetapi menyaksikan kalau kerukunan itu dieksekusi secara
nyata, itu menjadi sungguh berbeda. Buku itu bisa dimisalkan seperti saya
dengan mudah mengatakan aku cinta padamu. Bepergian itu mengeksekusi secara
nyata kalimat aku cinta padamu itu dengan mengantar teman di tengah kemacetan
sambil berkata: "Enjoy the ride!" Jadi tidak teori doang, tidak
ngomong cinta doang.
Pengalaman yang saya dapati di luar tempurung itu
tidak diperuntukkan untuk mengubah saya saat terjadinya perjalanan itu saja,
seperti belajar berbesar hati dengan teman seperjalanan yang gitu deh itu,
tetapi saat bertemu dengan klien yang super bawel, atau menjalani hidup yang
seperti ayunan.
Berubah menjadi manusia yang berkualitas lebih baik
tidak bisa hanya dengan berusaha sekali atau sesekali saja keluar dari
tempurung. Saya harus sering melakukannya, dan bepergian adalah salah satu
caranya.
Sayang ayah saya sudah tiada. Ia meninggal dalam
pengertian bahwa saya adalah anaknya yang royal. Sayangnya, saya juga baru tahu
pada usia sesenja ini bahwa bepergian bisa mencabut predikat royal itu. Sayang.
●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar