Waktu seorang staf saya mengunggah foto dengan
keterangan yang menggambarkan bahwa ia tak mampu menaiki tangga sebanyak 250 di
Gunung Bromo, tiga temannya memberikan komentar seperti ini.
Satu orang mengomentari seperti ini.
"Gakberasa, kok." Satu lagi sangat singkat. "Jompoooo!"
Dengan tambahan emoticontertawa di belakangnya. Yang terakhir menulis dengan
tajam. "Yaelahhh cumasegitu doang deh tangganya. Tanggung, deh!"
Aku bisa, kamu bisa
Sungguh saya tertarik pada ketiga komentar itu, dan
komentar itulah yang memberi ide untuk menulis dan menyuguhkannya pada bapak,
ibu, dan saudara-saudari sekalian. Saya tak mengenal ketiga orang yang memberi
komentar itu. Saya juga tak mewawancarai mereka mengapa mereka sampai menulis
komentar semacam itu.
Saya berasumsi bahwa komentar yang pertama bertujuan
meyakinkan bahwa menaiki tangga dengan anak tangga sejumlah 250 itu tak akan
membuat seseorang kelelahan, dan itu akan dijalani dengan sangat cepat sampai
tak berasa.
Komentar kedua yang super singkat saya yakin itu hanya guyonan semata meski menyindir. Saya tahu bahwa itu menyindir karena ada emoticon yang ditambahkan setelahnya. Kadang untuk menetralkan komentar yang seperti belati paling mudah menambahkan emoticon semacam itu.
Komentar ketiga saya berasumsi bahwa ia melecehkan
kemampuan staf saya. Cuma 250 anak tangga doang saja tak bisa diselesaikan.
Jenis komentar seperti yang terakhir ini sering digunakan untuk menjadi pecut
agar seseorang bisa menyelesaikan apa pun sampai garis akhir.
Ketiga komentar itu mengingatkan saya pada ungkapan,
kalau aku bisa, kamu juga bisa. Kalau aku kuat sampai ke puncak, kamu juga kuat
dan bisa sampai ke puncak. Kalau aku bisa juara satu, kamu juga bisa juara
satu. Kalau aku merasa itu cuma segitu doang, kamu juga bisa berpikir bahwa itu
cuma segitudoang.
Namun, benarkah demikian? Saya percaya bahwa
ketiganya hanya mengomentari tanpa berpikir panjang. Mereka mengomentari dari
sudut pandang mereka semata. Saya juga tak tahu, apakah mereka tahu bahwa
pergelangan kaki staf saya baru selesai sembuh dari keseleo gara-gara main
basket karena kakinya tak kuat menyanggah berat badannya.
Kebesaran atau kekecilan
Di masa saya masih anak-anak dan remaja, saya sering
dicekoki falsafahyaelah cuma segitu doang. Falsafah enggak berasa kok.
Gara-gara itu saya tumbuh menjadi manusia yang malah tidak percaya diri.
Saya acap kali memaksakan diri untuk bisa seperti
mereka yang mengatakan dengan ringan yaelah cuma segitu doang, padahal saya
tahu kemampuan saya tak bisa seperti mereka. Maka, saya tertatih-tatih oleh
sebuah keadaan.
Sekarang saya menyadari bahwa kepala sekolah saya di
masa sekolah dasar dulu mengatakan, kepandaian saya seperti ayam tanpa otak
karena tidak pandai berhitung. Itu mungkin ia berpikir seperti ketiga manusia
di atas.
Bahwa kalau murid yang lainnya bisa, saya juga
seharusnya bisa. Mungkin di masa itu kepala sekolah saya juga berkata dalam
hati, yaelah cuma segitu doang masak gak bisa. Tetapi, apa kenyataannya?
Yang juara satu itu hanya ada satu. Berarti sisa
murid lainnya tidak mampu menjadi juara. Kalaupun juara, hanya di posisi dua
atau tiga. Jadi, kalau aku bisa juara, kamu belum tentu bisa jadi juara.
Tetapi, rupanya dunia tak suka dengan falsafah itu sehingga falsafah kalau aku
bisa juara, kamu bisa juara tetap dikakukan sampai hari ini meski memakan
korban.
Bagaimana kalau staf saya merasa bahwa Gunung Bromo itu tinggi untuk ukurannya? Mengapa orang harus memaksakan ukuran mereka untuk staf saya yang berbeda dengan mereka, dan mengatakan dengan ringan yaelahcuma segitu doang?
Bagaimana kalau sekarang saya yang suka durian
memaksa mereka yang tidak suka durian untuk menyantapnya dengan mengatakan gak
berasa, kok, baunya, enak banget. Yaelah bau cuma segitu aja uda nyerah. Tanggung
deh! Bagaimana kalau begitu?
Membaca komentar tiga anak manusia itu mengingatkan
saya pada kegiatan profesional setiap hari. Ada klien yang selalu mengatakan
bahwa kita mesti seperti bank itu, mesti seperti perusahaan itu. Saya sampai
berpikir mengapa harus begitu? Mengapa senang sekali memakai pakaian orang lain
untuk ukuran badan kita yang berbeda?
Dan, di sisi lain, mengapa orang lain juga merasa
senang sekali mendandani diri kita dengan menggunakan pakaian mereka, dengan
cara mereka berdandan? Bagaimana kalau nanti kekecilan atau bahkan kebesaran?
Apakah mungkin kesenangan yang sesungguhnya itu justru melihat orang lain kesesakan atau kebesaran? Melihat orang lain terengah-engah seperti orang jompo yang dipaksa naik gunung? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar