Setelah menyaksikan berulang kali serial televisi macam Desperate Housewives, mengapa baru sekarang ini timbul keinginan untuk bertanya kepada ibu saya, apakah ia dan teman-temannya melakukan hal serupa seperti dalam serial di atas itu?
Asumsi I
Sayang, ibu saya sudah tak berada di dunia ini sejak
saya berusia tujuh belas tahun, di mana saat itu serial televisi yang saya
sebutkan di atas belum diciptakan. Tetapi, di hari Minggu pagi sambil menyantap
bubur gandum, saya menjadi penasaran tentang kehidupan ibu saya sebagai seorang
wanita, ibu, istri, dan makhluk sosial.
Saya penasaran apakah ibu pernah berselingkuh dengan
teman ayah atau suami temannya meski perselingkuhan itu terjadi di dalam hati
saja. Sehingga, ketika ia sedang bermain cinta, ia tak membayangkan kegagahan
suaminya, tetapi laki-laki lain.
Apakah ia sejujurnya tak pernah mencintai suaminya?
Apakah ia pernah menyesal menikahi laki-laki yang saya sebut ayah itu? Apakah
ibu saya seorang yang bawel, seorang yang mengeluh dan membuat suaminya merasa
sebal?
Apakah ia seorang yang senantiasa menjadi pencetus
peperangan dalam rumah tangga? Apakah ia juga menjadi penguasa suaminya? Apakah
ia sekali waktu pernah mengucapkan bahwa suaminya kurang kaya dibandingkan
suami orang lain, meski disampaikan dalam sebuah kalimat yang santun?
Apakah perkawinannya yang sekian puluh tahun itu dibangunnya dengan cinta atau keterpaksaan atau gabungan keduanya? Apakah ia seorang wanita yang mampu mempertahankan sebuah ikatan perkawinan atau ia akan menjawab begini pada suaminya, ”Aku mencintaimu sekali waktu. Tetapi apakah aku akan mencintaimu lagi, aku tak tahu.”
Apakah ia seorang sutradara kehidupannya dan
keluarganya? Ia tahu kapan ingin menjadi korban, dan tahu kapan ingin menjadi
pemangsa? Apakah perkawinannya bertahan karena ia bisa membenahi persoalan dan
bukan malah menyerah di tengah jalan? Apakah ibu saya mengerti sesungguhnya
menjadi istri dan ibu?
Apakah ibu saya juga seorang tukang gosip? Apakah
kalau ia sedang bertamu, ia mulai membandingkan isi perabotan rumah temannya
dengan yang dimilikinya? Apakah ibu saya juga seorang manusia yang dipenuhi iri
hati dan senangnya bersaing dengan teman-teman dekatnya, atau dengan sesama ibu
di luar lingkungan teman dekatnya itu?
Apakah ia seorang ratu rumah tangga yang luar biasa,
yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya, rela mengantar dan menjemput
anak-anaknya yang berjumlah tiga orang itu? Mengajari kami etika moral serta
tak lupa mengingatkan bahwa beribadah itu sungguhlah berarti?
Apakah ia mengetahui bahwa anak-anaknya sedang
mencuranginya di belakang punggungnya? Apakah ia kecewa memiliki anak-anak yang
tak seperti anak-anak teman-temannya atau tetangga di sebelah rumahnya?
Fakta
Apakah ia seorang ratu dapur yang memukau atau malah
menyerahkan kebutuhan isi perut anggota keluarganya di tangan seorang pembantu
yang setia membuat dapurnya mengepulkan asap? Apakah ia berbalut pakaian yang
santun tetapi tabiatnya sungguh jauh dari apa yang bisa dilihat oleh kasatmata?
Apakah ia seorang malaikat tetapi juga bisa seperti
setan di saat-saat tertentu? Apakah ibu saya sesungguhnya tidak pernah
mencintai menantunya, tetapi ingin mencoba memorotinya melalui nasihat yang
diberikan kepada anaknya? Apakah ia seorang yang tak bisa berhemat tetapi
memilih untuk memiliki hidup yang penuh dengan kebahagiaan material?
Apakah ibu saya memang seorang pendidik yang perlu
dijadikan panutan dan memiliki kehidupan sosial yang mengagumkan? Apakah ia
begitu frustrasinya bahwa ia tak bisa berkarier karena pekerjaannya sebagai ibu
rumah tangga sudah menyita waktunya begitu dahsyat? Apakah menikah sebuah hal
yang disesalinya selama ini atau ia sungguh bahagia memilih untuk memiliki
keluarga?
Apakah ia seorang menantu yang menyenangkan atau
yang dibenci mertua dan ipar-iparnya?
Apakah ia pernah merasa bahwa Hari Ibu itu memiliki
makna buat dirinya? Apakah ia pernah menikmati Hari Ibu itu sebagai hari di
mana ia menjadi begitu bangganya, tak hanya bisa disebut seorang ibu, tetapi
telah memenuhi kewajiban seorang ibu?
Dan, pertanyaan yang terakhir yang membuat saya
menjadi makin penasaran. Apakah ia meninggal sebagai seorang yang penuh dengan
kebahagiaan, karena ia telah berjuang sampai garis akhir dengan senantiasa
bersyukur?
Atau ia meninggal dalam kebahagiaan karena ia telah
mampu menjalani peran dalam sebuah drama. Pernah menjadi seorang pemangsa dan
menjadi seorang korban? Saya sungguh tak tahu. Semuanya sudah terlambat.
Mau bertanya pada ayah atau kakak dan adiknya,
semuanya sudah tak lagi menjadi warga dunia. Maka saya kemudian berdiri di
depan cermin dan melihat hasil karya seorang ibu. Mungkin bukan ibu saya yang
bisa menjawab sejuta pertanyaan di atas, tetapi Anda melalui kehidupan saya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar