Belakangan perasaan iri hati saya kambuh lagi. Perasaan iri terhadap kesuksesan orang lain dalam membangun usahanya. Bahkan ketika masa sulit seperti sekarang ini, mereka tetap masih bertahan dengan gegap gempita.
Beberapa klien saya dan seorang sahabat saya yang
bekerja di hotel berbintang lima mengakui bahwa angka pendapatan mereka tahun
ini jauh lebih baik daripada tahun lalu.
Tokek
Saya tak memungkiri bahwa setelah membaca surat
kabar belakangan ini, beberapa perusahaan besar pun terimbas untuk menutup
usahanya. Saya makin keder. Perusahaan raksasa saja bisa tumbang, bagaimana
yang seukuran semut seperti usaha yang saya miliki bisa bertahan?
Semenjak iri hati dan rasa khawatir itu timbul dalam
waktu yang bersamaan, maka saya mulai memanjatkan doa meminta bantuan Yang
Mahakuasa untuk turut campur agar usaha saya jangan sampai gulung tikar.
Mengapa baru sekarang meminta bantuannya? Karena selama ini kekhawatirannya
masih bisa ditanggung sendiri.
Hidup saya selama ini yaaa. seperti itu. Kalau lagi
perlu berdoa, ya saya berdoa. Kalau merasa mampu tanpa doa, yaa… saya tak
berdoa. Kadang kalau sedang dalam keadaan waras, saya ini berpikir bahwa
kehidupan spiritual yang saya jalani itu mirip seperti aksesori semata. Hanya
sebagai pelengkap. Kadang dipakai, kadang tidak. Bergantung pada “baju” yang
dikenakan.
Contohnya seperti ini. Kalau lagi di rumah ibadah ada yang nyelak mengambil tempat duduk, saya bisa memaafkan meski dongkolnya setengah mati. Kalau mendengar khotbah pendeta yang membosankan, saya bisa bertahan duduk meski sambil mengucek mata supaya tak ketiduran.
Tetapi coba, kalau ada yang menyelak di dalam
kehidupan sehari-hari atau mendengar seminar dengan pembicaranya yang
mendatangkan rasa bosan, Anda saya yakini tahu, apa yang akan saya lakukan.
Saya mungkin seperti seseorang yang sedang
mengendarai sepeda motor yang kalaupun melakukan kesalahan, bisa lebih galak
dari korbannya, dan tidak akan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.
Padahal, saya ini diajarkan kalau salah harus dengan berani mengakui kesalahan
dan meminta maaf.
Ajaran itu kalau sudah ada di rimba kota besar macam
Jakarta ini, langsung hilang dari ingatan. Hajar saja dulu, mengancam saja
dulu. Nah. nanti kalau sedang celaka dan sakit keras, maka baru mulai untuk
minta ampun. Siklus itu terus berjalan seperti itu. Hajar, ampun, hajar, ampun.
Bisa dikatakan mirip tokeklah.
Tabur “seimprit”, tuai segunung
“Makanyaaaa. hidup tuh yang bener. Mau sukses di
dalam usaha itu hidup elo tuh juga mesti bener, bro….” Demikian nasihat yang
disuarakan oleh seorang teman yang sekarang menjadi pendeta. Sejujurnya tak
pernah terlintas di kepala kalau perbuatan saya dalam kehidupan sehari-hari itu
dapat memengaruhi kesuksesan dan keberuntungan usaha yang saya jalani.
Saya selalu berpikir saya ini belum beruntung dalam
usaha yang saya jalani karena tak punya bakat menjadi pengusaha, tak punya
bakat menjadi pedagang. Seperti acap kali saya tuliskan, saya ini juga tidak
pandai berhitung.
Saya berpikir bahwa kesuksesan sebuah usaha itu
semata-mata karena aktivitas duniawi. Mengatur keuangan yang benar, modal yang
cukup, strategi pemasaran yang jitu, jeli melihat peluang, dan memiliki para
profesional yang bekerja secara profesional.
Tak sekalipun terlintas dalam benak saya bahwa
perselingkuhan saya, kemunafikan dalam berbagai bentuk yang saya lakukan,
kecerdikan dan kejelian saya menipu, ketidakhormatan saya kepada orangtua,
kejelian saya melihat peluang untuk menipu, kesombongan saya yang dibungkus
seperti serigala berbulu domba itu akan memengaruhi sebuah kesuksesan usaha.
Bahkan saya ini berpikir, kalau Tuhan itu tahu pasti
kalau saya ini hanya manusia yang lemah dan sering jatuh dan jatuh dalam
kesalahan yang sama, meski ada yang membuat pepatah jangan jatuh dalam
kesalahan yang sama.
Dan, Tuhan itu pasti memaafkan kalau saya ini hanya
manusia yang lemah, yang sering jatuh dan jatuh dalam rayuan dunia. Oleh karena
itu, saya tak merasa bersalah menjadi manusia yang sangat kikir untuk bisa
menjadi sukses dan kaya raya.
Membuang sangat sedikit untuk mendapatkan hasil yang
sangat banyak. Jadi, bukan mengikuti konsep tabur tuai. Kalau menabur sedikit
yaa… tuai sedikit. Saya maunya menaburnya seiprit dapatnya segunung. Mengapa
saya berpikir begitu?
Karena dalam kehidupan sehari-hari, kok, kayaknya
yang berselingkuh di mana-mana, yang menipu dan yang menabur seiprit-iprit
tetap sukses dan tambah kaya raya. Jadi saya merasa bahwa kombinasi menjadi
manusia seiprit dan strategi pemasaran serta perhitungan keuangan yang akurat,
yang akan mengantar saya menuju puncak gunung.
“Woee. bisa diem enggak. Daripada elo ngabisin waktu
buat nyindir melulu, mending elo bebenah diri kayak bebenah rumah aja, gih.
Yang kotor dibersihin, yang gak guna dibuang. Siapa tahu abis berbenah diri
usaha elo beneran bisa sukses seperti nasihat temen elo yang pendeta itu.”
Demikian nasihat nurani bawel yang tiba-tiba nimbrung. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar