Saya sedang menikmati pemandangan laut di atas kapal
pinisi. Pemandangan yang menakjubkan itu sering kali diselingi dengan
pemandangan bukit kecoklatan yang tak kalah menariknya.
Musim panas yang datang sungguh menyengat dan
membuat rumput yang menutupi bukit menjadi kering kecoklatan. Meski demikian,
beberapa pohon cukup rindang justru tumbuh dan tetap mempertahankan warna
hijaunya, seolah ia tak kalah dengan terik yang menyengat.
Kesal
Di saat saya sedang menikmati kedua pemandangan itu,
nurani saya menyambar dengan cepat. ”Apakah hidup yang terik telah membuat kamu
seperti rumput kering kecoklatan atau seperti pohon hijau yang tetap rindang?”
Pertanyaan itu benar menghunjam kalbu.
Pasalnya, beberapa hari belakangan sebelum saya
mengambil cuti liburan selama satu minggu, hari-hari saya dipenuhi dengan
kesehatan yang menurun dan tak henti-hentinya menyerang sampai satu hari
sebelum saya berlibur.
Ketika teman-teman memenuhi koper mereka dengan
pakaian renang, bermuda, sepatu olahraga, dan seluruh perlengkapan liburan,
saya mengisi koper tak hanya dengan pakaian, tetapi sejuta obat ini dan itu,
serta perlengkapan untuk memeriksa kadar gula dan tekanan darah setiap hari.
Melihat perbedaan isi koper itu saja, saya sudah merasa sebalnya setengah mati. Apalagi, ini adalah kali pertama saya berlibur dengan satu tas khusus yang mirip kotak P3K, dengan sejuta catatan cara tepat untuk mengonsumsi obat.
Yang satu harus dikonsumsi setengah jam sebelum
makan, yang satu lagi harus diminum tepat pada waktu makan, dan satu lagi
setelah selesai. Pagi, siang, dan malam. Pemeriksaan kadar gula pun cukup
mengganggu acara liburan itu.
Mengganggu karena pemeriksaan yang dilakukan setiap
hari itu tak hanya setelah bangun pagi, tetapi sebelum makan siang, sebelum
makan malam, dan pada pukul 10 malam. Acap kali kegiatan bersenang-senang harus
dihentikan sejenak, hanya untuk pemeriksaan yang sungguh mengesalkan itu.
Saya duduk di beranda terbuka di atas kapal besar
ketika nurani saya menghunjam dengan pertanyaan yang tak diharap datangnya.
Sambil menikmati alam indah itu, saya terdiam dan merenungi pertanyaan itu.
Mengurangi terik
Saya memiliki keinginan yang sangat menjadi manusia
yang mampu berdiri tegak seperti pohon hijau yang rindang. Bahkan berkeinginan
untuk mampu merindangkan keadaan di sekitarnya ketika hidup begitu teriknya.
Saya ingin tidak kesal ketika hidup itu tidak mau
berkompromi melihat saya tersakiti karena teriknya. Bahkan saya tak ingin
kecewa kalaupun sesudah saya memoleskan badan dengan krim anti matahari, bahkan
krim setelah terkena matahari, badan saya tetap gosong dan kulit jadi
mengelupas.
Saya ingin memiliki kemampuan untuk menerima bahwa
keadaan tidak akan membaik bahkan saat saya sudah melindungi diri dari sejak
awal. Tetapi, sesungguhnya, saya sering kali merasa kesal, karena setelah
mengadakan persiapan, saya tetap tertimpa kekeringan seperti rumput yang
menutupi bukit-bukit itu. Saya yang pesimistis ini malah berpikir, makin saya
berbuat hal yang positif, kok saya jadi makin menjadi sengsara.
Sebagai rumput kering, saya acap kali diserang rasa
iri hati yang sangat melihat mengapa pohon hijau itu bisa bertumbuh menantang
matahari bahkan menghijau dan menjadi rimbun. Saya tak bisa menerima melihat
teman-teman saya yang tidak pernah berolahraga, merokok seperti minum air,
bahkan ada yang sama sekali tak suka makan sayur dan buah, sampai ada yang
tidak bekerja karena memang tidak mau bekerja, tetapi mereka tumbuh seperti
pohon yang rindang di bukit-bukit kering itu. Mereka terlihat lebih sehat,
subur, makmur dari saya yang setengah mati harus bekerja keras untuk hidup.
Saya tidak bisa menerima bahwa terik yang menyengat
semua permukaan bumi, hanya mengeringkan bagian yang ini, dan tidak bagian yang
itu. Saya acap kali berpikir mengapa mereka yang melakukan persiapan dengan
cermat sejak awal, memiliki hasil yang jauh lebih kecil daripada yang
mempersiapkan sekadarnya saja atau malah sama sekali tidak melakukannya.
Apakah mereka yang sejak awal tidak melakukan
persiapan menghadapi terik kehidupan, sejujurnya mereka telah mempersiapkan
sesuatu yang tak dilihat kasatmata? Apakah mereka memilih untuk melakoni hidup
yang terik tidak dengan persiapan fisik, tetapi dengan hati yang menerima dan
jiwa yang bahagia?
Ataukah skenario perjalanan hidup yang berbeda untuk
setiap oranglah yang membuat perbedaan reaksi dan hasil dari sengat kehidupan
yang terik? Saya lahir dengan IQ jongkok, yang lain dengan IQ kelewat tinggi,
sehingga sejujurnya saya tak bisa mencontek skenario hidup orang lain untuk diterapkan
pada diri saya sendiri.
Di beranda kapal besar itu, ketika matahari mulai berkemas untuk tenggelam, saya sungguh tak tahu menjawab pertanyaan itu. Yang saya tahu, saya bergumam sendiri. ”Enggak bisa ya intensitas terik mataharinya dikurangin buat yang punya IQ jongkok. Masak intensitas teriknya sama, IQ-nya beda. Kan yaa… enggak adil. Paling enggak kalau dikurangin, kan rumputnya enggak sampai kering-kering amat.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar