Berkecukupan tidak berarti berbahagia, kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Demikian pesan yang dikirimkan seorang teman yang setia nyaris setiap pagi bertahun lamanya mengirimkan pesan-pesan mulia yang memberi kekuatan.
Perjuangan
Beberapa minggu sebelum itu, saya membaca kalimat
yang ditulis seorang teman di media sosial miliknya. ”Make love not war”.
Seperti biasa, setelah membaca pesan-pesan itu saya manggut-manggut tanda
setuju. Tetapi, karena kebiasaan sifat yang telat mikir, maka ketika tak
sengaja saya membaca kembali pesan-pesan itu, mulailah otak ini berpikir keras.
Otak yang tak bisa berhenti berpikir itu mengawali
dengan sebuah pertanyaan. ”Bukannya peperangan, pertikaian, permusuhan awalnya
terjadi gara-gara cinta ya, Bro? Jadi semakin elo make love semakin make war.”
Pertanyaan yang begini ini suka menghasilkan sakit kepala.
Tiga tahun lalu saya pernah jatuh cinta. Dan
hubungan kami lebih dari sekadar sahabat. Sekali waktu saya memperkenalkannya
kepada salah seorang teman dekat. Singkat cerita, saya merasa sejak perkenalan
itu terjadi, ia juga menaruh perasaan yang sama seperti saya.
Bahkan, ia menunjukkan perasaan itu di sebuah media sosial kalimat yang saya yakin Anda ketahui sebagai sebuah kalimat orang yang sedang mencoba untuk menunjukkan hati yang kasmaran, berupa perhatian.
Nah, karena saya merasakan gelagatnya itu, saya
mulai melakukan strategi ”perang’ untuk tidak membiarkan orang yang saya cintai
direbut orang lain. Apalagi beberapa orang menasihati saya, kalau kamu benar
jatuh cinta, maka perjuangkan itu. Maka di masa tiga tahun lalu itu, saya maju
ke medan laga untuk memperjuangkan sesuatu yang saya anggap pantas untuk
diperjuangkan.
Pertama, perang ringan terjadi dengan manusia yang
saya cintai itu, kemudian disusul dengan memusuhi teman yang sekali waktu itu
sungguh dekat dengan saya. Permusuhan itu bahkan berlanjut sampai hari ini dan
mengajari saya untuk tidak memercayai orang bahkan teman yang dekat sekalipun.
Peperangan itu juga telah mengajarkan agar saya berhati-hati memperkenalkan pasangan
hidup kepada orang lain.
Menghalau musuh
Saya mengerti bahwa cinta itu datangnya tak bisa
diketahui, dan kita tidak pernah mengetahui kepada siapa kita akan jatuh cinta.
Kalau berbicara dari kacamata teman dekat saya itu, pernyataan itu sungguh
benar adanya, bahkan ia tak bisa disalahkan. Karena ia sendiri mungkin tak
menduga bakal jatuh cinta dengan orang yang saya cintai.
Tetapi, manusia itu suka lupa kalau cinta itu bisa
membutakan. Buta itu mampu membuat seseorang tega memancing peperangan dan
menjadi tidak peduli. Terus mengapa saya ini perlu sampai berperang dan tak
mengalah saja?
Meski saya cemburu, saya maju ke medan laga bukan
untuk menunjukkan kecemburuan, tetapi sebuah aksi untuk memperjuangkan apa yang
pantas saya perjuangkan, serta membela dan melindungi orang yang saya cintai
dan diri saya sendiri. Saya ini jomblo selama berabad-abad, jadi saya harus
melindungi diri agar tidak jomblo lagi.
Karena orang kalau jomblo kelamaan seperti saya,
cara pandangnya berbeda. Sekali mendapatkan kesempatan jatuh cinta, maka
perjuangan untuk mempertahankannya akan kencang seperti tsunami, karena takut
kalau sampai jomblo lagi dan berlangsung berabad-abad.
Kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam
ketenangan. Kalimat itu juga menggelitik otak saya semakin bawel. Saya sangat
setuju pada akhirnya ketenangan itu yang dicari. Dalam kasus saya, kecemburuan
dan permusuhan terjadi karena ketenanganlah yang saya cari. Karena kalau saya
tidak tenang, saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan, menjalani hidup dengan
gelisah, dan akhirnya tidak menghasilkan kebahagiaan.
Ketenangan tidak dihasilkan dengan diam tenang.
Dalam kasus saya, saya hadapi permasalahannya, terjadi friksi dengan orang yang
saya cintai, dan saya memutuskan untuk menjauhi teman dekat saya itu sebagai
sebuah usaha untuk tidak dekat lagi pada sumber petaka. Karena kalau saya
membiarkan persahabatan itu terjadi, saya hanya melakukan aksi bunuh diri.
Sebuah aksi untuk membiarkan diri saya untuk tidak tenang dan tidak berbahagia.
Setelah semua ’peperangan’ itu saya lakukan, saya
menjadi tenang, saya menemukan ketenangan dan saya berbahagia. Pertikaian itu
pun dilakukan ibu saya, sampai ia beradu mulut dengan seorang penjaga toko kain
karena mengatai anak laki-lakinya seperti perempuan.
Peperangan kecil itu saya yakini juga karena cinta,
sebuah bentuk pembelaan dan sebuah bentuk mencari ketenangan. Karena saya yakin
kalau ia tak mengonfrontir penjaga toko itu, ia pasti pulang dengan rasa kesal.
Nah, peperangan itu kadang mesti dilakukan agar kekesalan itu tidak berlarut
dan diam bercokol.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hati saya
bertanya. Apakah perang, pertikaian, twitwar, atau apa pun bentuk permusuhan
yang saya lihat dan baca belakangan ini juga didasari karena cinta, serta untuk
mendapati ketenangan dengan berusaha menjauhkan sumber petaka yang membuat
mereka tak bisa tenang?
Nah, kalau saya yang giliran bertanya dan bingung
seperti ini dan tak bisa mendapat jawaban, otak saya diam sejuta bahasa. Hilang
seperti ditelan bumi dan meninggalkan saya dalam kekesalan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar