Saya membaca di sebuah media daring hasil penelitian seorang perawat yang menanyai beberapa pasiennya yang akan meninggal dunia, dengan sebuah pertanyaan, apakah penyesalan mereka yang terbesar?
Jawabannya dicatat dalam sebuah buku yang diberinya
judul The Top Five-Regrets of the Dying. Dari kelimanya, saya tergelitik pada
jawaban yang terakhir. I wish that I had let myself be happier.
Kemaruk?
Tiga hari sebelum tenggat tulisan ini jatuh, saya
diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman singkat mengenang salah satu
klien saya yang meninggal dunia, sebelum ia dimakamkan. Dua hal yang saya
dapatkan dari klien saya selama saya mengenalnya adalah kerendahan hati dan
keberanian untuk mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya.
Saya tak akan bercerita panjang lebar bagaimana ia
mendapatkan kebahagiaan itu, tetapi satu hal yang saya tahu, kebahagiaan yang
didapatnya itu melalui sebuah pengorbanan yang tidak sedikit. Sampai pada
akhirnya ketika saya berjumpa beberapa tahun lalu, ia berkata dengan wajahnya
yang semringah, ”Sekarang, saya benar-benar berbahagia.”
Beberapa tahun setelah mendengar jawaban yang saya
pikir klise itu, saya berjumpa lagi di rumahnya saat ia merayakan ulang
tahunnya. Di sana, di siang hari itu, saya benar-benar melihatnya bahwa jawaban
yang diberikannya itu bukanlah sebuah jawaban yang asal-asalan, seperti mungkin
seringnya orang mengatakan saya baik-baik saja meski sama sekali tidak dalam
kondisi yang baik.
Hari itu, sepulang dari perayaan yang sederhana di tengah rumahnya yang mewah tetapi meninggalkan kesan yang hangat, saya memutuskan untuk menjadi seperti dirinya. Membuat hidup saya lebih berbahagia dari yang selama ini saya pikir bahwa menjadi bahagia itu saja sudah cukup.
Kemudian ada yang menanyakan kepada saya, mengapa
saya ingin lebih berbahagia, lha wong saya sudah bahagia? Ia malah merasa bahwa
saya ini orang yang kurang bersyukur. Ia menambahkan lagi, bahwa yang namanya
bahagia itu kalau bisa bersyukur dalam situasi apa pun. Jadi, menurutnya, saya
tidak perlu menjadi lebih berbahagia dari situasi saya yang sekarang ini.
Pertanyaan teman saya itu sungguh mengganggu nurani
dan otak, tepatnya saya tersinggung karenanya. Kalau saya bisa memiliki hidup
yang menurut mata teman saya itu sudah membahagiakan, dan saya masih tetap
merasa perlu lebih berbahagia, apakah itu begitu kelirunya? Begitu
kemaruknyakah?
”Wah... cilaka kita”
Apakah bahagia itu dan apakah lebih berbahagia itu?
Sampai beberapa tahun lalu, saya manusia yang bahagia kalau hanya berurusan
dengan hal-hal duniawi semata. Bahagia saja itu, dalam kasus saya, ternyata
masih menyelipkan rasa iri hati karena yang bahagia itu hanya kedagingan saya
semata.
Ingin lebih berbahagia itu artinya ingin naik kelas.
Ingin lebih dari sebelumnya. Saya ingin lebih berbahagia dalam kualitas hidup
ketimbang kuantitas. Kalau dimisalkan, saya ini punya rumah lima hektar di lima
lokasi berbeda, maka secara duniawi saya akan bahagia banget. Kedagingan saya
yang bahagia.
Tetapi, saya ingin lebih berbahagia. Saya ingin
rumah yang lima hektar itu adalah sebuah rumah di mana orang di dalamnya atau
yang masuk ke dalamnya mampu merasakan sebuah rumah yang penuh dengan cinta,
yang memamerkan kehangatan dan bukan seperti sebuah show unit yang tak
bernyawa.
Saya bahagia memiliki sejuta teman, tetapi saya
ingin lebih berbahagia memiliki teman yang jiwanya juga bahagia. Sebab, jiwa
yang tidak berbahagia itu menghasilkan sebuah pertemanan yang sungguh
melelahkan lahir dan batin. Jiwa yang tidak bahagia itu hanya menghadirkan
gelak yang retak.
Sekarang saya bahagia dengan usaha saya, tetapi saya
ingin lebih berbahagia melihat ruang rapat tidak dipenuhi dengan kepanikan yang
melumpuhkan mimpi, tidak dipenuhi dengan ekspresi macam: ”Wah… payah nih…” atau
”Cilaka kita”, tetapi melihat situasi yang cilaka dan payah nih itu dengan manusia
yang jiwanya berbahagia.
Karena memiliki pegawai atau rekan bisnis yang
jiwanya berbahagia, itu seperti dukungan yang tak tergoyahkan ketika badai
persaingan datang, ketika kesusahan hidup melanda. Jiwa yang bahagia itu mampu
berhitung dengan kalkulator atau otak direktur keuangan yang brilian, tetapi
tidak mendewakan keduanya dan dijadikan tempat bergantung.
Ketenangan dan kebahagiaan jiwa itu memampukan
seseorang melihat jalan keluar di tengah situasi yang wah payah atau cilaka
kita. Setiap pagi seseorang mampu bernyawa dan diizinkan untuk hidup, itu bukan
karena anugerah dari kalkulator dan otaknya yang cemerlang.
Jiwa yang berbahagia itu mampu mengubah cara
berpikir dan mendukung seseorang melakukan apa yang ingin dicapainya dalam cara
yang benar. Dengan demikian, ketika suatu hari seseorang kembali ke rumahnya
yang abadi, ia tak akan berkata di menit terakhir hidupnya, I wish that I had
let myself be happier. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar