Apakah sesuatu yang positif bisa begitu toksiknya? Rupanya bisa. Awalnya saya tak percaya. Tetapi untuk merasakan toksik yang dilahirkan dari kepositivan, Anda harus membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Sebab pada awalnya, semua akan terasa baik-baik saja.
Positif
Apa saja yang termasuk hal-hal positif? Saya percaya
Anda pasti sudah tahu. Mudah sekali, bukan? Tak membutuhkan IQ dan pendidikan
yang tinggi untuk mengambil contoh atau kejadian yang positif. Menolong sesama
manusia dan alam dalam berbagai bentuk, misalnya. Atau memberi waktu untuk
mendengar dan juga memberikan jalan keluar jika diperlukan, atau diam saja
menjadi pendengar yang baik, karena manusia acapkali hanya ingin didengar dan
mereka sejujurnya sudah tahu solusinya.
Atau memberi sumbangan untuk membantu mereka yang
tertimpa musibah, atau menemani orang terdekat untuk melakukan aktivitas
sederhana seperti jalan kaki, menjenguk yang sedang sakit atau sekadar
mengantar teman pulang ke rumah dari kantor atau dari sebuah acara. Tentu masih
ada sejuta contoh lainnya.
Sesuatu hal yang dilakukan dengan niat dan aktivitas
yang positif, hasilnya pasti akan positif juga. Maksudnya, tidak hanya hasil
yang akan dicapai berguna, tetapi memberikan dampak yang baik juga untuk yang
melakukan dan yang menerima perlakukan positif itu. Bukankah katanya memberi
itu memberi kebahagiaan jauh lebih besar dari pada menerima.
Meski tak dapat dipungkiri yang menerima juga pasti bahagia. Saya pernah memberi dan saya pernah menerima. Saya kok merasa derajat kebahagiaannya sami mawon. Waktu saya menerima pujian atas apa yang saya lakukan itu rasanya seperti melayang, memberikan energi untuk semakin yakin dengan apa yang saya pilih untuk dilakukan.
Saya juga pernah memberi pujian, meski kata
teman-teman dekat mengatakan, saya kikir untuk memberi pujian. Kalau sampai
seorang Samuel memberi pujian, wah…itu luar biasa. Perkataan itu benar adanya.
Karena saya sejujurnya iri tak bisa sehebat mereka, makanya saya jadi kikir
memberi pujian. Tapi di mata orang saya kelihatan sangat selektif dalam memberi
pujian. Pandangan semacam itulah yang saya butuhkan. Padahal……
Melihat yang menerima pujian sangat bahagia, saya
juga turut bahagia. Sayang tak ada alat
ukur yang telah teruji, apakah benar memberi akan jauh lebih membahagiakan
daripada menerima, dan alat yang mampu memperlihatkan apakah saya tulus memberi
pujian dari hati atau hanya basa basi.
Nurani saya yang sudah setahun ini mingkem, kembali
bersuara. “Alat ukurnya sudah ada dari sejak dulu. Namanya nurani. Kamu aja
yang gak peka”
Toksik
Cerita di atas adalah pemikiran saya jauh sebelum
saya mengubah cara pandang saya itu. Ternyata dalam aktivitas positif yang
dilakukan orang pada saya, mampu menimbulkan gangguan. Gangguan itu dalam
derajat ringan sampai parah. Tentu derajat ini adalah ukuran untuk kemampuan
diri saya sendiri menerima aksi positif itu.
Gangguan yang terparah adalah kebaikan yang
ditunjukkan kepada saya yang berhasil membuat saya menjadi seperti mereka.
Kebaikan yang ditujukan ternyata bisa membuat kesejahteraan batin hilang
perlahan-lahan. Malah berakibat menjadi sebuah kejengkelan.
Contoh. Teman teman saya tahu kalau kesehatan saya
itu yaa… gitu deh. Jadi mereka seringkali mengingatkan saya untuk berhati-hati,
menjaganya harus ekstra teliti daripada orang yang sehat. Kalau saya sedang
jalan-jalan dengan mereka, atau mendaki bukit, mereka akan selalu bertanya,
kamu capek? Kalau capek bilang, ya. Pelan-pelan saja jalannya, gak usa
terburu-buru.
Awalnya saya merasa itu sebuah perhatian yang sangat
saya hargai. Tetapi lama kelamaan kebaikan yang dilontarkan berkali-kali itu
mengecilkan keberadaan saya. Kalau saya sudah memutuskan berjalan kaki atau
naik bukit, dan kalau saya sudah mengatakan saya tidak lelah, saya tak perlu
diingatkan terus menerus untuk berhati-hati. Terus menerus dijejal dengan
kalimat kalau capek bilang ya.
Saya memang goblok, tetapi saya tahu kekuatan dalam
diri saya. Saya merasa bahwa perbuatan baik mereka lama-lama menjadi sebuah hal
yang tidak menghargai kekuatan saya. Saya dibuat lemah karena perhatian yang
tulus itu. Nasihat mulia itu sebaliknya mematahkan semangat untuk naik ke atas
bukit.
Saya sempat berpikir, kalau mereka yang sangat
khawatir dengan saya, kalau mereka adalah tipe orang yang pada kenyataanya
panikan atau parnoan, mengapa kekhawatiran dan kepanikan itu ditularkan kepada
saya yang tidak khawatir dan tidak panik, melalui perhatian yang super mulia
itu? Mengapa mereka bercita-cita untuk mengubah saya jadi manusia yang seperti
mereka?
Mengapa mereka tidak menghargai informasi yang saya
berikan kalau saya itu tidak lelah? Berarti mereka tak menghormati informasi
itu, bukan? Dan tetap kekeuh berpikir bahwa karena saya tidak sehat, itu sama
dengan saya perlu dinasihati berulang kali seperti seolah olah saya ini gak
punya otak dan nurani.
Maka peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu. Cara
paling efektif mengerdilkan sesama manusia, adalah dengan perbuatan baik yang
toksik. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar