SAYA ini senang sekali mengamati manusia, termasuk
diri sendiri. Tentu pengamatan saya sebatas pengamatan dua mata saja. Tidak ada
buku referensi, data akurat, atau hasil penelitian yang teliti dan jitu yang
mendukung tulisan ini.
ABCDE vs KLMNOP
Saya teringat kepada masa di sekolah dahulu. Dalam
satu kelas kami mendapat pelajaran yang sama. Satu tambah satu sama dengan dua.
Itu diajarkan untuk saya yang IQ-nya anjlok dan mereka yang IQ-nya menjulang
tinggi, bahkan tinggi sekali.
Dengan materi pelajaran yang sama, kami diuji. Saya
tidak mendapat juara, mereka menjadi juara kelas. Secara tidak langsung, saya
menjadi murid yang biasa. Kalau mau lebih kelihatan manusiawi dan santun, murid
yang biasa-biasa banget.
Buat saya,
adanya peringkat juara adalah sebuah diskriminasi dan bukan pemacu semangat.
Penilaian itu datang dari mata manusia yang masuk ke dalam kategori murid yang
biasa-biasa banget. Saya tidak tahu kalau dari kacamata murid yang IQ-nya
tinggi banget.
Dalam mata pelajaran agama maupun etika, saya dan
murid-murid lainnya diajari sebuah pelajaran yang sama. Penghinaan itu tidak
baik, kalau berbicara itu yang santun, sampai soal memaafkan yang juga harus
dilakukan.
Kami sama-sama menyimak semuanya itu, tetapi tak semua dari kami menjalankan nasihat itu. Di dalam rapor kenaikan kelas, nilai tinggi dalam pelajaran ini tak akan memberi kesempatan seseorang untuk menjadi juara.
Dua kejadian
yang kontradiktif itu buat saya cukup membingungkan, tetapi akhirnya saya
menyimpulkan bahwa itulah uniknya manusia. Di satu sisi bisa menjadi penghina
yang luar biasa, di satu sisi manusia menjelma menjadi malaikat yang luar
biasa. Pertemuan kedua sisi manusia yang ekstrem itu melahirkan ungkapan
seperti serigala berbulu domba.
Pendidikan
formal atau tidak formal mengajarkan saya ABCDE, ketika saya beribadah saya
diajarkan untuk KLMNOP. Saya mau menerapkan KLMNOP ketika berdampingan dengan
ABCDE, ternyata beberapa kali malah terjadi friksi.
Perbedaan
memberi warna pada kehidupan. Demikian yang pernah saya dengar. Artinya, saya
dan Anda setuju bahwa setiap orang berhak memiliki pendapatnya sendiri-sendiri
dan perbedaan itu yang menghasilkan warna. Nah, kalau demikian adanya,
seharusnya hidup itu seperti lagu bunga-bunganya Syahrini di Sappada Mountain
yang diakhiri dengan kalimat telak, I feel free. Tetapi ternyata yang ada,
perbedaan tak jarang melahirkan permusuhan.
Mirip kodok
Mengapa
terjadi demikian? Ini perkiraan saya yang didapati dari hasil sebuah perjalanan
hidup. Mungkin sebagai manusia, saya ini takut mengetahui kalau sesuatu yang
baik dan tidak baik itu bergumul seperti pergumulan yang terjadi di padang
Kurusetra, dan Kurusetra itu adalah diri saya sendiri.
Sisi baik
saya bersuara bahwa sisi tidak baik saya harus dihilangkan atau diminimalkan.
Sisi tidak baik saya berteriak mungkin lebih kencang bahwa sisi baik saya
terlalu mengada-ada, karena tak ada manusia yang mampu bersih seratus persen
dari perbuatan tidak baik.
Sisi baik
saya gemar membuat aturan main sebanyak mungkin agar sisi tidak baik saya kalah
telak. Sisi tidak baik saya menyuarakan bahwa aturan main itu hanya guyonan
belaka yang bakal menjadi beban, karena sejak aturan itu mulai dibuat, saya
tahu persis saya tak bisa melakoni semuanya dan bakal menjadi bumerang.
Sisi baik
saya mengatakan uang bukanlah segala-galanya, sisi tidak baik saya bersuara
benar tidak segalanya, tetapi ah… yang benar saja masak saya tidak suka punya
uang banyak. Sisi baik saya takut mengetahui gempuran yang disuarakan sisi
tidak baik. Dan semakin ketakutan, saya semakin membuat aturan main yang begitu
banyaknya.
Kalau sudah
begitu, saya jadi berpikir, mungkin di situlah letak uniknya saya sebagai
manusia. Bukan karena saya hidup mirip kodok di dua dunia, bukan karena saya
memiliki kehidupan dengan dua muka, tetapi keunikannya karena saya terkejut,
kok, kayaknya ketidakbenaran bisa mendatangkan kebenaran.
Saya terkejut
kalau ternyata saya senang punya uang banyak, meski saya tahu itu bukan
segalanya. Saya terkejut karena perbedaan pendapat yang membuat hidup lebih
berwarna, ternyata mengancam keberadaan saya, dan membuat saya tak bisa
bernyanyi bahagia seperti Syahrini dan mengatakan I feel free.
Saya
dinasihati untuk memaafkan. Waktu saya dinasihati itu, saya mengangguk-angguk
tanda setuju. Setelah itu ada suara lain yang berbicara. ”Iya elo emang punya
kemampuan memaafkan, tetapi elo jangan lupa bro, kalau elo juga punya kemampuan
yang sama besarnya untuk tidak memaafkan.”
Maka seringlah saya mendengar ucapan macam begini.
”Sudahlah kita ini, kan, manusia. So pasti pernah salah dan pernah benar.
Pernah baik, pernah tidak baik.” Maka saya bergumam sendiri. Semoga kalau suatu
hari saya angkat kaki dari bumi ini, Tuhan menyetujui seperti banyaknya mulut
yang bersuara seperti itu.
Dan kalau saya lolos dari hari penghakiman, itu karena kemanusiaan saya yang unik, dan bukan karena saya telah membuat aturan main yang baik dan benar, meski tak bisa saya lakoni seratus persen. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar