Dua minggu yang lalu seorang anggota staf saya menghubungi sekretaris seorang konglomerat di negeri ini. Singkat cerita, laporan yang masuk ke gendang telinga saya adalah, "Massss. ampunn deh. itu mbak galaknya setengah mati. Ketus abis. Belum juga selesai menjelaskan uda main potong aja. Ampunnn. ada orang kayak gitu."
Judes dan galak
Sejujurnya waktu saya meminta tolong, saya sudah
mempunyai perasaan bahwa cerita di atas akan terjadi. Saya sudah beberapa kali
mengalami hal serupa. Saya bukan seorang sekretaris, saya tak pernah
membayangkan pekerjaan yang dihadapi setiap hari sebagai sekretaris. Justru
karena itulah saya kemudian bertanya, mengapa seorang sekretaris bisa sejudes
itu.
Pengalaman saya bekerja yang sudah lebih dari 20
tahun memberikan gambaran bahwa kejadian seperti yang dialami anggota staf saya
umumnya terjadi kepada sekretaris orang-orang besar. Maksudnya besar itu ya
perusahaannya, ya namanya, ya prestasinya. Kalau badannya, itu tak jadi
masalah.
Saya sendiri bertanya-tanya mengapa mereka sampai
harus bersikap seperti itu kepada orang kecil seperti saya. Saya ini berpikir,
kalau bosnya punya nama besar, prestasi besar, kekayaan luar biasa, kan
sejujurnya tak ada hubungannya dengan kebesaran sekretarisnya.
Karena sekretaris itu bermain di belakang layar
meski saya tahu perannya sungguh penting. Karena beberapa di antaranya malah
lebih galak dari seorang istri dalam menentukan jadwal hidup majikannya. Saya
sendiri juga tak tahu apakah istri seorang pengusaha kaya raya nan ternama lebih
kurang jeli ketimbang sekretarisnya untuk melihat kegiatan suaminya. Sungguh
saya tak tahu.
Kalau ada cerita-cerita miring soal profesi sekretaris, atau yang pada akhirnya menikahi majikannya yang dimulai dari perselingkuhan, itu tak saya pikirkan. Karena miring dan berselingkuh itu bisa diciptakan oleh siapa saja, bukan? Miring itu tak memedulikan kaya atau miskin, ternama atau tidak.
Tetapi yang saya ingin tanyakan, mengapa mereka
sampai harus perlu bersikap galak dan ketus? Kalau pekerjaan mereka terlalu
banyak, kalau mereka menyimpan rahasia terlalu banyak, kemudian semuanya itu
memberi tekanan terlalu banyak, dan pada akhirnya mereka menjadi tertekan,
mengapa mereka tidak berhenti saja bekerja?
Ibadah
Mengapa mereka tidak berhenti dari sebuah pekerjaan
yang telah mengubah mereka menjadi manusia yang menyakiti orang lain, yang
membuat mereka menjadi manusia yang tidak berbahagia? Karena saya ini selalu
percaya, perilaku judes, songong, dan galak itu tak pernah dilahirkan dari sebuah
hati dan jiwa yang bahagia.
Sering saya mendengar percakapan macam begini,
"Emang orangnya kayak gitu. Tapi hatinya baik, kok." Benarkah
demikian? Benarkah buah yang busuk dapat dihasilkan dari sebuah pohon yang
diairi, dipupuk, dan dipelihara dengan baik dan benar?
Bagaimana hati yang baik mampu menghasilkan tabiat
yang judes dan galak? Bukankah katanya baik dan tidak baik itu tak pernah
bertemu, seperti tak pernah bertemunya siang dan malam, seperti tak pernah
bertemunya yang negatif dan yang positif? Apakah itu hanya katanya?
Ataukah mereka sudah terbiasa menjadi judes dan
galak, karena melihat majikannya juga seperti itu, meski khalayak ramai melihat
majikannya seperti malaikat. Saya ini tak pernah menjadi sekretaris, hanya
pernah punya sekretaris, tetapi sekretaris ecek-ecek, bukan seperti sekretaris
para konglomerat yang pernah saya lihat, penampilannya saja seperti nyonya
besar.
Saya ini sampai berpikir, apakah karena bekerja
dengan orang besar, mereka merasa turut menjadi besar? Sungguh saya tak tahu.
Yang saya tahu lingkungan itu bisa memengaruhi individu untuk berubah.
Pada akhirnya, saya berkata pada diri sendiri.
Mungkin tak hanya sekretaris yang dapat bersikap seperti itu, kita semua bisa.
Kita semua bisa menjadi jahat, menjadi judes dan galak, bisa menjadi begitu
tidak bersahabatnya, bisa menyakiti orang dengan keketusan. Nurani saya
langsung menyambar. "Elo apalagi, ya, cinn.."
Terus apa keuntungannya bersikap judes? Dan apa
ruginya menjadi manusia yang baik dan bersahabat? Karena buat saya, kalau
seandainya majikannya atau bosnya tak mau melayani permintaan anggota staf saya
untuk diundang sebagai pembicara, itu tak jadi masalah.
Tetapi menyambut orang lain dengan keketusan dan
kegalakan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan melindungi majikan, tak
ada hubungannya dengan jadwal majikan yang padat. Mau padatnya bohong atau
tidak.
Bukankah seharusnya seseorang tak hanya mencitrakan
perusahaannya dengan baik, tetapi mencitrakan profesi dan dirinya sendiri juga
dengan baik? Bukankah ketika seseorang ingin mengakhiri pertandingan hidupnya,
ia tak bisa hanya ingin mengakhirinya dalam kebaikan, tetapi perjalanan
mencapai akhirnya dilakoni dengan sikap yang jauh dari baik?
Saya pernah dinasihati, bekerja itu juga ibadah.
Bagaimana seseorang bisa menjalankan ibadahnya dan menodainya dengan mulut yang
seperti belati? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar