“Apa kabar? Sudah lama enggak jumpa. Sehat, kan?”
Demikian kira-kira pesan yang saya terima dari seorang dokter di suatu Selasa
pagi yang berhujan. Awalnya saya berpikir ia akan memberi tahu satu berita
penting yang mungkin akan membuat saya deg-degan. Ternyata, pak dokter,
demikian saya memanggilnya, hanya ingin menanyakan keadaan saya saja.
Egois dan basa-basi
Tetapi, selang beberapa menit, suara nurani saya
bersuara. Kapan kamu terakhir menanyakan kabar pak dokter? Suara yang datang
dari nurani itu acap kali membuat jantung tak hanya deg-degan, tetapi juga
nyaris lepas.
Saya tak pernah menyediakan waktu khusus hanya untuk
menanyakan kabar ataupun keadaan si pak dokter. Biasanya, saya hanya
menyematkan kalimat apa kabar sebagai kalimat pembuka sebelum saya menanyakan
nasihatnya tentang penyakit yang sedang saya alami. Sebuah kalimat penuh
basa-basi.
Setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan,
maka ada kalimat penutup sebagai sebuah ungkapan terima kasih. Itu pun sebuah
ungkapan basa-basi. Jadi, saya memulai dengan basa-basi dan mengakhiri dengan
basa-basi. Saya ini pada dasarnya egois dan suka basa-basi.
Pada 25 Desember lalu, ketika orang merayakan hari
Natal bersama yang dicintai, saya berada dalam kesendirian di rumah. Tak ada
acara ataupun kegiatan yang saya lakukan. Kira-kira pukul 9 pagi, seorang teman
yang tak merayakan Natal mengirimkan pesan. ”Mas, yuk, aku ajak kamu makan
siang sama pacarku. Kamu enggak ke mana-mana, kan?”
Kebaikan hati teman saya dan pacarnya itu sudah lama saya lupakan, sampai pada suatu pagi berhujan itu, saya diingatkan kembali tentang kebaikan mereka di tengah kegulanaan saya pada hari Natal. Jadi, pada Selasa pagi berhujan itu, saya diteriaki oleh nurani dua kali untuk dua kasus. Anda bisa membayangkan bukan, kalau teriaknya sudah sumbang dan keras pula.
Gara-gara teriakan keras dan sumbang itu, saya
bermaksud mengajukan pertanyaan kepada Anda sekalian. Saya mohon maaf sekiranya
dua pertanyaan berikut ini terdengar sumbang. Pertama. Kapan terakhir Anda
meluangkan waktu khusus, hanya untuk menanyakan kabar seseorang atau beberapa
orang yang jarang Anda jumpai atau malah sama sekali tak pernah dijumpai?
Kedua. Kalau Anda pernah melakukan aktivitas
kebaikan itu, apakah Anda melakukannya seperti saya, hanya membutuhkan sesuatu
dari mereka yang jarang atau tak pernah berniat Anda jumpai? Apakah Anda
melakukan sebuah kebaikan yang penuh basa-basi?
Dua menit saja
Buat saya, salah satu yang paling berharga di dunia
itu adalah memiliki waktu. Karena merasa berharga, maka saya menghabiskannya
nyaris untuk diri sendiri. Sayakeblinger dengan yang berharga itu, kemudian
menjadi tidak peka pada kebutuhan orang lain karena asyik memenuhi kebutuhan
diri sendiri.
Salah satu sahabat saya tinggal di ”Pulau Dewata”.
Di tengah kesibukannya sebagai seorang public relations, ia menyediakan waktu
di akhir pekan untuk belajar bahasa isyarat karena ia bermaksud membantu mereka
yang tunarungu. Selain itu, ia juga menyediakan waktu sebagai seorang relawan
dan bertindak sebagai fasilitator untuk menolong proses kesembuhan bagi korban
pelanggaran hak asasi di daerah konflik.
Pada Selasa pagi berhujan itu, setelah dinyanyikan
lagu sumbang yang kencang dan menyetrum, saya jadi berpikir. Kebaikan yang
ditunjukkan mereka bukan dalam bentuk menanyakan apa kabar, mengajak makan
siang, atau menjadi sukarelawan buat yang tak mendengar dan yang dizalimi.
Kebaikan mereka buat saya ada dalam bentuk
menyisihkan waktu untuk orang lain yang bukan teman, yang bukan keluarga, dan
yang bukan darah daging sendiri, di tengah sejuta kerepotan hidup yang juga
mereka alami.
Waktu yang berharga itu tidak dihabiskan untuk
mencari kekayaan tiada henti, bergosip, berjudi, berselingkuh, eksis di sosial
media, jalan-jalan ke mal dari pagi hingga petang, dan menghabiskan waktu
mencari cara untuk menjatuhkan orang.
Mereka mendepositokan waktu untuk kebahagiaan orang
lain. Karena sejujurnya di hari saya merasa kesepian yang sangat, ajakan untuk
makan siang di hari Natal itu seperti sebuah pelipur lara.
Bayangkan, kalau saja saya ini bisa menyediakan
waktu dua menit saja, satu minggu dua kali saja, untuk dua orang saja, maka
Anda bisa menolong saya untuk menghitung, berapa kali dalam setahun saya bisa
membuat orang lain tidak lara, tidak merasa kesepian, merasa dihargai, bisa
curhat dan bisa naik kelas?
Bukankah saya juga merasa bersukacita dan dihargai
ketika ada yang menyisihkan waktu yang berharga dalam bentuk mengirim pesan
sesederhana apa kabar, misalnya? Nah, kalau demikian adanya, bukankah dapat
dibayangkan orang lain mengalami perasaan yang sama kalau saya mau menyisihkan
waktu untuk mereka?
Menyisihkan waktu untuk orang lain itu sebuah pembelajaran bahwa kebahagiaan itu ternyata bisa diwujudkan karena memberi dan bukan semata-mata karena menyimpan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar