Di suatu acara makan siang, sebuah pertanyaan
dilontarkan oleh klien saya. ”Tahun baru ini kan gak akan lebih baik dari tahun
kemarin, gimana persiapan elo menghadapinya? Aku denger beberapa majalah dan
koran udah pada tutup tuh.”
Tidak bahagia
Makan siang itu adalah ritual yang menjadi favorit
dibandingkan dua acara makan lainnya. Tetapi, kalau sambil makan siang saya
dihadapkan dengan pertanyaan yang menyodok ulu hati, otak, dan nurani, saya
suka rada gimana gitu.
Maka mulut yang baru saja menelan sambal terasi dan
petai plus ayam bakar mengeluarkan jawaban untuk pertanyaan yang jleb itu
dengan sekadarnya. ”Waduh… kalau aku mah dijalanin aja, Mbak. Pokoknya kerja
yang bener aja. Yaah… diirit-iritlah semuanya. Dan kalau sudah begitu, ternyata
harus tutup pintu, yaa… mau gimana lagi. Ya kan, Mbak?”
Saya tak tahu apa yang ada dalam pikiran si mbak
mendengar jawaban itu, tetapi masalah lain segera timbul. Setelah perut sedikit
terisi, bukannya malah ngantuk, saya malah jadi kepikiran. ”Apa ya persiapan
gue tahun ini?” Itu adalah perasaan keder pertama saya di tahun baru ini.
Kekederan itulah yang membuat saya mulai introspeksi.
Saya mulai dengan mempertanyakan diri sendiri tanpa
melihat kamus bahasa Indonesia, apa makna dari persiapan. Buat saya, persiapan adalah
sebuah tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh, bisa jadi tidak di bawah
tekanan atau malah terjadi di bawah tekanan yang bertujuan untuk menghadapi
sebuah situasi.
Tekanan itu bisa bermacam-macam bentuknya. Dari kondisi ekonomi, politik, sampai bos yang gampang panik, bawel, tidak percaya kepada siapa pun, termasuk dirinya sendiri sampai klien yang sama tipenya seperti bos itu.
Nah, itu penjelasan soal persiapan versi otak saya.
Terus bagaimana dengan kata siap itu sendiri? Masih menurut otak saya yang gitu
deh itu, siap adalah keadaan atau kondisi dari faktor internal seseorang yang
diperlukan dalam melakukan persiapan.
Kalau sering Anda dan saya membaca kalimat macam
sudah siapkah Anda, itu berarti sebuah pertanyaan yang sedang mempertanyakan
soal faktor internal Anda dan saya. Seberapa ’sehat’-nya faktor internal itu
dalam menghadapi sebuah situasi, dan bukan soal mempertanyakan pemahaman Anda
dan saya atas faktor eksternal yang menekan.
Bahagia
Selama menjalani kehidupan ini, saya jarang pernah
siap. Sudah berusia setengah abad lebih, sudah terbang ke sana kemari tetap tak
pernah matang-matang. Saya sendiri suka heran, mengapa bisa begitu. Teman saya
suka mengatakan itu karena IQ saya yang lumayan. Lumayan B, katanya. B itu biasa
banget.
Kenapa saya tidak matang? Apakah benar hanya karena
jam terbang yang kurang meski sudah setengah abad lebih? Atau IQ yang B itu?
Saya mengartikan bahwa siap itu adalah cermin atau gambaran seberapa sehatnya
bagian dalam diri itu, yang sejujurnya justru menjadi kekuatan seseorang dalam
melakukan persiapan. Kekuatan di dalam siap itu bukan soal pemahaman materi
yang dipaparkan dalam bentuk power point, bukan dalam pengertian dan
pengetahuan yang dahsyat soal situasi politik dan ekonomi.
Kalau siap adalah sebuah kekuatan, dari mana saya
menghimpun kekuatan itu? Setelah beberapa hari mencari dalam perenungan, saya
mendapatkan jawabannya. Penghimpunan kekuatan itu justru datang dari hal-hal
nonmaterial.
Saya tidak siap karena saya ini tidak bahagia.
Karena tidak bahagia, saya tak bisa tenang. Otak saya tidak tenang, jiwa saya
tidak tenang, emosi saya tidak tenang. Saya percaya Anda pernah mengalami
perasaan tidak bahagia. Itu dalam bahasa sehari-hari diucapkan dengan kalimat
sederhana: ”Gue kesellll banget.”
Kesal itu tidak bahagia. Kata tekanan itu adalah
istilah yang lahir karena melihat sebuah situasi dari kacamata yang tidak
bahagia. Orang kalau tidak bahagia itu, melihat tekanan itu sebagai sebuah hal
yang negatif, dan kemudian merembet ke mana-mana. Ya, kan?
Tidak bahagia mampu menimbulkan reaksi emosional
yang berlebihan, sehingga waktu melihat bos dan klien bawel, melihat keadaan
ekonomi yang tidak nyaman, maka kepanikan akan muncul. Nah, bahagia itu
diperlukan untuk bisa mengurangi reaksi emosional yang berlebihan.
Coba Anda ingat-ingat lagi saat Anda dalam situasi
yang berbahagia, semua rasanya oke-oke saja, bukan? Anda dan saya akan mudah
bersyukur. Aksi bersyukur itu adalah bukti sebuah perjalanan spiritual yang
dapat dilihat secara duniawi.
Siap itu kekuatan yang justru dihimpun dari sikap
dan perilaku yang nonmaterial. Kekuatan melawan tekanan tidak pernah akan bisa
dirasakan dari ketidakbahagiaan. Maka yang utama yang harus Anda lakukan dalam
menghadapi sebelas bulan ke depan dan hari-hari setelah sebelas bulan itu
adalah menghimpun kekuatan secara spiritual dan bukan duniawi. Kekuatan itu
tidak ada dalam presentasi di power point Anda atau di dalam otak Anda yang
terbatas itu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar