Teman saya punya usaha rumah makan. Berlokasi tidak jauh dari sebuah rumah makan lainnya. Nah, rumah makan lainnya ini merasa tidak senang dengan kehadiran rumah makan teman saya itu. Padahal teman saya tak pernah menganggap ia sebagai pesaingnya.
Yaah. namanya manusia tentu berbeda-beda, bukan? Tak
hanya merasa tidak senang, tetapi mereka juga acap kali mendekati rumah makan
teman saya itu untuk melakukan pengecekan ramai tidaknya pengunjung yang
datang.
"Mengapa kalian gak bisa buat yang kayak
gini?"
Setelah mendengar ceritanya itu, di dalam mobil yang
mengantar saya kembali ke kantor setelah makan siang di rumah makan teman saya
yang nikmat itu, saya mulai kembali pada kenangan masa lalu saat pertama kali
membuka usaha majalah.
Tak berbeda dengan pemilik rumah makan yang merasa
tersaingi itu, saya juga melakukan tindakan yang sama. Tidak datang mengitari
kantor mereka yang saya anggap pesaing, tetapi mengecek rubrikasi di dalam
majalah yang mereka terbitkan.
Singkat cerita, setiap bulan saya seperti cacing
kepanasan. Saya mudah kesal di ruang rapat dan selalu menyuarakan pertanyaan
yang sudah saya pastikan memekakkan gendang telinga staf saya "Mengapa
kalian gak bisa buat yangkayak gini? Mengapa kalian gak bisa dapat sponsor yang
sama?"
Dan dilanjutkan dengan sejuta mengapa ini dan mengapa itu. Saya yakin staf saya hanya tertawa gelak melihat pimpinan yang tak percaya diri, yang panikan hanya karena toko sebelah memiliki keberuntungan yang berbeda.
Kemudian datanglah masanya saya kelelahan karena
kepanikan yang tak masuk akal. Lelah bukan karena fokus kepada apa yang saya
lakukan, tetapi fokus kepada pesaing. Maka seperti biasa, ketika Anda
kelelahan, Anda menyediakan waktu untuk beristirahat.
Saya mengambil waktu rehat dari kepanikan dan rasa
iri hati plus sakit hati, dan kemudian memutuskan untuk berkonsentrasi penuh
pada usaha saya sendiri. Saya harus akui, sekarang saya berbahagia, bahkan
ketika diterpa gosip bahwa usaha saya bangkrut.
Saya harus akui karena fokus, saya bersukacita, saya
bisa melihat segala kekurangan dan kelebihan dalam perusahaan sehingga kemudian
ditata sesuai dengan solusi yang tidak didasari dengan kepanikan dan rasa
dendam.
Lembah kegelapan
Masih dalam perjalanan kembali ke kantor, saya
tersenyum membayangkan belingsatannya pesaing rumah makan teman saya itu. Saya
tersenyum tidak untuk mencibir, tetapi tersenyum membayangkan mereka sedang
melewati sebuah periode yang gelap, yang pada suatu hari akan datang masanya
mereka akan kelelahan, dan semoga setelah itu, mereka bangkit setelah raibnya
rasa terancam dan iri hati.
Sebab, sudah saya alami, bahwa berjalan dalam lembah
kegelapan yang membutakan tak akan membuat saya berbahagia. Ketidakbahagiaan
itu tak akan menghasilkan apa-apa kecuali perasaan tertekan. Apa yang
diharapkan seseorang kalau usahanya dijalani dengan perasaan tertekan? Dan
sedihnya tertekan karena dirinya sendiri.
Karena bahagia, maka sekarang saya tak lagi melihat
perusahaan lain sebagai pesaing. Saya bahkan mengundang mereka yang dahulunya
saya anggap sebagai pesaing untuk datang menghadiri acara yang saya buat agar
saya bisa membagi rasa bahagia saya kepada mereka.
Saya tak pernah merasa terancam karena pesaing saya
tahu rahasia dapur saya. Teman saya bercerita kalau ia diusir dari rumah makan
yang terancam itu. Padahal, sebelum memiliki rumah makan, teman saya itu sudah
berkali-kali makan di tempat itu.
Mendengar cerita pengusiran itu, saya sungguh
bersyukur saya tak lagi berkonsentrasi pada perasaan terancam dan berjalan
dalam lembah kegelapan. Persaingan itu bukan untuk mengancam, persaingan itu
memacu seseorang. Persaingan itu tidak dibuat untuk menjadikan seseorang
menjadi jahat, tetapi untuk menjadikan orang melihat ke dalam dirinya sendiri
apa sesungguhnya kekuatan mereka.
Karena saya ini kok percaya, kalaupun resep nasi
goreng yang baku diberikan kepada beberapa orang, hasil dan rasanya pun tak
akan sama. Maka dari itu saya mulai berpikir, mungkin ketika seseorang ingin
membuat usaha, hal pertama yang mereka harus lakukan bukanlah mendatangi
kalkulatornya dan ahli keuangan untuk membuat sebuah rencana keuangan yang
tokcer.
Mungkin hal pertama setelah punya impian atau
cita-cita, maka seseorang sebaiknya mengevaluasi kekuatan mental dan fisiknya
untuk menggapai cita-cita itu. Kekuatan mental itu bukan diperuntukkan untuk
memenangkan peperangan atas pesaing. Kekuatan mental itu untuk menjaga agar
kekotoran tidak leluasa masuk ke dalam pikiran yang bisa jadi mengubah
pengusaha yang baik pada awalnya, menjadi begitu bengis pada akhir usahanya.
Usaha yang besar dan sukses seyogianya dibangun
dengan rasa cinta, rasa bahagia dan percaya diri. Apalah gunanya seorang
pengusaha bisa merasa menang atas pesaingnya, tetapi ia tak bisa memenangkan
ketakutan di dalam dirinya sendiri? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar