Seseorang yang saya temui di sebuah chat room bertanya, apakah saya mau menjadi kekasihnya. Pertanyaan itu membuat rasa penasaran saya timbul dan bertanya kembali, mengapa ia sampai melakukan penawaran semacam itu. "Cari variasi, Mas, supaya hubungan nggak jadi hambar." Demikian ia menjelaskannya.
Bumbu
Setelah keluar dari ruang mengobrol itu, saya jadi
kepikiran. Benarkah agar sebuah hubungan menjadi tidak hambar, berselingkuh itu
menjadi salah satu solusi jitu? Mengapa ketika hubungan itu menjadi hambar,
solusinya adalah mencari di luar rumah?
Bukankah ketika hubungan disepakati untuk dijalani,
maka segala risiko harus ditanggung dua belah pihak. Bukankah penyebab
terjadinya keadaan hambar atau tidak hambar adalah akibat dari keputusan yang
dibuat dari dalam rumah oleh dua manusia?
Nah, kalau itu terjadi dari dalam rumah, mengapa
mencari jalan keluar di luar rumah? Atau apakah tindakan mencari ke luar rumah
itu benar adanya karena bisa jadi di dalam rumah sudah tak ada lagi ditemui
jalan keluarnya? Begitukah?
Bagaimana kalau kemudian yang di dalam rumah merasa
bumbu yang dari luar enaknya setengah mati dan tak bisa dilepaskan? Atau
bagaimana kalau setelah belanja bumbu di luar, beberapa waktu kemudian, bumbu
itu terasa hambar? Apakah solusinya akan memiliki pola yang sama, artinya
mencari lagi bumbu yang lain?
Kalau demikian, apakah secara umum mereka yang berpasangan melakukan hal itu ketika kehambaran menyerang sebuah hubungan? Apakah Anda yang sudah berpasangan dan membaca tulisan ini juga melakukan hal yang sama? Maksud saya, Anda berbelanja bumbu di luar karena bumbu yang di dalam tak bisa lagi menggarami hubungan itu sendiri?
Kalau seandainya variasi dibutuhkan agar hubungan
tidak hambar, apakah berselingkuh merupakan satu dari sekian solusi ? Atau
mencari bumbu di luar agar tidak hambar sesungguhnya bukan sebuah solusi,
tetapi menggambarkan manusianya saja yang memang doyan berselingkuh?
Apakah sesungguhnya kehambaran sebuah bentuk nyata
dari kepengecutan manusia yang menjalaninya? Mereka tahu sebuah hubungan tak
lagi bisa diteruskan, hanya saja mereka takut akan status setelah hubungan itu
berakhir, takut berimbas pada kehidupan anak dan malas menjadi sendiri lagi.
Malas untuk memulai hubungan dari nol kalau di suatu
hari mereka ingin memiliki hubungan asmara kembali. Jadi mereka memutuskan
untuk bersama dan mencari variasi atau membeli bumbu di luar rumah sebagai solusi
dari sebuah kepengecutan.
Setrum
Saya sendiri tak tahu bagaimana sebuah hubungan bisa
menjadi hambar karena sampai hari ini saya belum pernah memiliki hubungan
asmara. Saya hanya mendengar dari berbagai macam manusia yang bercerita soal
hubungannya kepada saya.
Dari berbagai macam cerita itu, saya menyimpulkan
sendiri bahwa hubungan asmara itu mirip seseorang yang mendapatkan sesuatu
seperti yang diinginkan hatinya. Entah itu mobil baru, rumah baru, atau seperti
teman saya mendapat binatang peliharaan yang baru.
Maka di tahap awal akan begitu banyak perhatian
dicurahkan. Semua dirawat dengan baik dan cermat. Tetapi, selang beberapa bulan
kemudian, akan ada penurunan dari semua perawatan dan perhatian itu. Akan ada
sejuta alasan kalau ditanya mengapa itu terjadi, tetapi mungkin yang utama
adalah manusia itu dasarnya memiliki rasa bosan, apalagi kalau sudah tak ada
tantangannya lagi.
Dari sejuta cerita yang masuk ke telinga, tak
dimungkiri ada yang memiliki cerita sebuah perjalanan asmara yang setelah
sekian belas tahun masih bisa menyetrum meski tak sekencang dahulu sehingga
mereka tak sampai perlu mencari bumbu di luar hubungan itu.
Mungkin, kalau di suatu hari saya memiliki hubungan,
dari sejak awal akan saya katakan kepada pasangan saya bahwa saya ini manusia
sama seperti dirinya. Banyak maunya, banyak bohongnya, banyak takutnya, bisa
berubah kapan saja, rada egois atau egois banget.
Bahwa sebagai manusia saya bisa jatuh cinta seperti
orang tidak waras, tetapi kemudian bisa seperti orang waras sehingga kalau
sedang tidak waras, perilakunya bisa menggebu-gebu. Tetapi, kalau lagi waras
bisa biasa-biasa saja. Tentu saya tak akan lupa untuk mengatakan saya ini
manusia yang juga cepat bosan.
Saya akan mengatakan dari sejak awal bahwa hubungan
saya adalah dasarnya cinta dan bukan karena paksaan, bukan karena pasangan saya
kaya raya, atau alasan yang materialistis atau fisik sifatnya. Tetapi, cinta
saya sama sekali tak bisa dijadikan sebuah jaminan untuk diperlakukan
semena-mena.
Dan yang terakhir, saya akan mengingatkan kepada
diri sendiri kalau kita ini cuma manusia. Sama-sama punya kelemahan, sama-sama
punya kelebihan. Sama-sama punya kekurangan. Jadi jangan menuntut apa pun
karena kita sama-sama tak suka dituntut dan tak bisa dituntut. Kita hanya bisa
sama-sama memiliki pengertian. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar