Selasa, 03 November 2015

IP

Suatu hari Minggu malam, saya dan tiga teman menyaksikan acara perjodohan berjudul Take Me Out yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Itu kala pertama kali saya menyaksikannya meski sudah berulang kali saya mendengar teman-teman menceritakan acara itu.
Setelah menyaksikan sekian jam lamanya, acara itu membuat saya tertawa tergelak, terhibur, dan juga membuat saya terenyuh. Pokoknya, membuat perasaan hati campur aduk.
”Uelek”
Mengapa saya terenyuh? Saya menyaksikan seorang wanita muda muncul dan setelah beberapa menit mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri, MC memberikan kesempatan kepada para pria untuk memilih atau tidak. Para pria berdiri dengan meja berlampu di depannya. Kalau mereka memilih, meja berlampu itu berwarna kuning, tetapi kalau mereka tidak berniat memilih, meja berlampu itu berubah menjadi merah.
Dalam hitungan detik, pria sejumlah lebih kurang tiga puluh orang itu semuanya mematikan meja berlampu yang ada di hadapan mereka. Artinya, tak satu pun dari mereka berniat memilih wanita muda itu. Sudah bisa ditebak, wanita itu harus angkat kaki dan pulang dengan tangan hampa.
Menurut cerita teman saya, karena saya tak menyaksikan, di acara perjodohan yang sama dengan judul berbeda, Take Him Out, seorang bapak guru yang hanya bermodalkan sepeda juga mengalami nasib nyaris sama. Saya tak bisa membayangkan kalau saya jadi wanita muda dan bapak itu. Bisa jadi saya pasti malu sekali dan saya yakin muka saya merah padam seperti warna meja berlampu itu. Meja yang dipadamkan itu.
Saya akan merasa ditolak mentah-mentah. Tidak laku. Saya akan sedih pada diri saya sendiri, melihat kenyataan kalau tak ada yang merasa perlu memberikan kesempatan kepada saya untuk di-probe lebih lanjut. Dan yang lebih terenyuh lagi, sejagat Nusantara ini melihat saya tidak laku, saya tak bernilai.
Saya angkat topi kepada keduanya atau peserta yang berani mengikuti acara itu. Berani mengambil risiko. Risiko ditolak itu. Dan lebih terenyuh lagi, saat saya membayangkan menjadi orangtua dan melihat anak saya ditolak di depan umum, alamak... apa rasanya. Itu belum termasuk mendengar komentar mereka yang menolak, yang kadang harus diakui, kejujuran mereka menghunjam perasaan sebagai manusia.
Bukankah sejujurnya tak ada manusia di dunia ini mau mendengar hal yang menyinggung perasaan hatinya? Yang menyakitkan meski faktanya memang demikian? Tetapi, di layar televisi malam itu saya menyaksikan masih ada banyak orang yang berani berhadapan dengan ketersinggungan itu. Saya mendapat pelajaran untuk melihat nilai-nilai yang ora elok yang dahulu diajarkan itu sekarang boleh dibuka habis-habisan di depan umum. Luar biasa. Mungkin itu sebabnya tayangan iklan dalam acara ini ”sejuta” banyaknya. Mereka mendukung ”keterbukaan” itu.
Bodoh
Setelah menyaksikan tayangan di rumah teman itu, saya pulang. Dalam perjalanan di dalam taksi bersama seorang teman, saya teringat akan pertemuan saya beberapa bulan lalu di Kota Buaya. Pada akhir acara pertemuan itu, seorang bapak maju untuk mengumumkan, beliau dengan timnya telah membentuk program mulia mendukung anak-anak kurang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan persyaratan indeks prestasi alias IP minimal harus setinggi gunung.
Maksud saya setinggi gunung itu bukan satu koma atau dua koma, tetapi tiga koma sekian. Kalau bisa, empat koma sekian. Semoga tidak koma alias tidak sadarkan diri saking tingginya IP itu. Beliau juga mengajak para undangan malam itu, kalau punya sahabat atau teman atau kenalan yang kurang mampu tetapi memiliki IP yang tinggi, bisa menghubungi dia. Tujuannya bukan hanya sekadar memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi agar suatu hari mereka-mereka itu bisa duduk di dalam jajaran pemerintahan dan memajukan negeri ini.
Tiba di rumah, malam itu saya tak bisa tidur. Setelah menyaksikan tayangan televisi dan mengingat acara di Kota Buaya itu, saya kemudian bertanya. Tentu kepada diri sendiri. Siapa yang akan mendukung saya, memberi fasilitas masuk ke jenjang lebih tinggi kalau saya ini sudah tidak mampu secara finansial dan punya IP tidak tiga, tetapi hanya satu koma dan dua koma? Maksud saya, koma tak sadarkan diri saking gebleknya.
Apakah saya tak bisa masuk ke dalam jajaran pemerintahan supaya bisa memajukan negeri ini dengan IP macam itu? Ke mana saya harus pergi? Pertanyaan salah, ke mana saya akan dibuang? Sudah miskin, bodoh pula.
Dan kemudian setelah pertanyaan itu, ada pertanyaan berikutnya. Siapa mau pacaran dan berjodoh sama saya kalau saya jelek? Kalau saya cuma punya sepeda dan hanya sekadar pengusaha kue brownies, bukan seorang general manager yang mungkin gajinya sebelas dua belas dengan penjualan kue berwarna gelap itu? Kalau secara de facto di layar televisi dan se-Nusantara tahu saya ditolak mentah-mentah pada menit pertama oleh sekian puluh sosok, ke mana saya harus pergi?
Pertanyaannya salah. Ke manakah saya harus dibuang? Siapa yang mau sama saya kalau semua maunya yang cantik, tampan, kaya raya? Ataukah saya harus kerja pontang-panting untuk menjadi kaya, meski jelek, orang pasti mau sama saya karena ada agenda lain di benak mereka. Mengejar harta saya dan saya tak keberatan daripada tidak laku?
Bayangkan kalau dua kejadian di atas saya jadikan satu skenario, maka saya adalah manusia yang sudah tak mampu alias miskin, bodoh, dan jelek pula. Weleh... weleh... weleh… sampah beneran, bukan?
Ke manakah saya harus pergi? ”Enggak usah pergi ke mana-mana.Sampean jangan gampang nyerah gitu dong. Gini, dengerin. Buat saja yayasan pesaing. Namanya Yayasan Gelek. Wis Guoblok tur Uelek. Ketuanya sampeanPas tenane. Coba kamu bercermin. Tuh… kelihatan kan… kalau kamu itu uelek.”
Seperti biasa, nurani itu memang dibuat ada untuk menghina yang memilikinya. Salah, untuk mengingat pemiliknya. Mengingatkan pemiliknya miskin, bodoh, dan jelek pula, maksudnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar