Sini, Biar Tante yang Bayarin …
Kalimat itu keluar dari mulut teman saya yang tak lama lagi akan mengakhiri masa lajangnya. Ia bercerita tantenya menawarkan diri membiayai pernikahan itu. Teman saya menolak, dan ia menjelaskan, ”Aku enggak maulah, Mas. Nanti kalau suatu hari ada apa-apa, diungkit-ungkit. Malesss…”
Kemudian saya teringat ayah saya. Waktu saya tidak mampu membeli apartemen, ia yang membayari. Hati saya senang sekali meski saya harus mencicil setelah itu. Tetapi, namanya ayah sendiri, cicilannya juga sesuka hati. Tak ada bunga, tak ada penalti, tak ada hukuman, tak ada tukang tagih dan tukang pukul yang siap menghajar karena jatuh tempo pembayaran tak segera dilunasi.
Semua itu memang tak ada, tetapi karena dia yang membayari, efeknya baru saya rasakan setelah sertifikat apartemen itu keluar. Ia mengunjungi dan memutuskan tinggal beberapa hari di apartemen seri perkutut itu. Karena kecil, saya katakan kepada Ayah untuk tinggal di hotel saja. Bukan saya tak mau dikunjungi orangtua, apalagi yang sudah mau melunasi tempat tinggal vertikal itu. Satu-satu alasan adalah supaya ia lebih nyaman.
Dia menolak. Karena, bagaimanapun sempitnya rumah anaknya, paling enak ya kumpul sama keluarga. Saya tidak cocok dengan prinsip itu. Prinsip yang terlalu emosional yang tak bisa saya terima. Karena buat saya, kumpul dalam satu atap dan tidak, tak ada pengaruhnya buat saya untuk menurunkan atau menaikkan kualitas cinta dan hormat saya kepada orangtua. Bukan soal kumpulnya dan kedekatannya. Buat apa saya kumpul dan secara fisik saya dekat, tetapi di dalam hati saya geram dan kesal.
Nyaman vs ”umpel-umpelan”
Jadi, saya mau memberi rasa nyaman kepada Ayah, ia malah merasa umpel-umpelan itu lebih enak. Waktu itu saya naik pitam. Dan Anda tahu, kalau sudah naik pitam, mata saya gelap, lupa apartemen itu belum saya lunasi. Saya masih berpredikat debitor. Maka, pitam atau tidak pitam, rasa berutang itu tiba-tiba menyeruduk di nurani yang biasanya bawel itu. Coba, apa lagi yang bisa dilakukan selain nurut saja? Maka, saya nurut meski hati kesalnya setengah mati. Saya merasa hak sebagai individu, bukan sebagai anak, telah diambil atas nama ”sini biar Papa yang bayarin dulu”. Atas nama kasih. Yukkk… Maka, mulailah saya harus membayar ”harga”.
Ayah tinggal di Pulau Dewata di tanah yang luas dengan rumahnya yang besar sehingga ia bisa melakukan kegiatan berjalan kaki sore harinya dengan leluasa. Pergi menjenguk saya di apartemen seperti burung perkutut itu, kegiatan JJS—jalan-jalan sore—nya tetap dilakukan. Anda bayangkan, ia biasa JJS di tanah seluas seribu lebih sekian meter persegi, sekarang melakukan aktivitas hariannya itu di apartemen seluas enam puluh tujuh meter persegi lebih nol koma sekian meter.
Maka, segala pernik bernama kursi dan lemari digeser ke tepi dinding supaya ia bisa berjalan dengan leluasa. Setelah selesai melakukan itu, semua yang digeser itu didiamkan saja. Singkat cerita, selama ia tinggal, interior yang kata teman saya apik itu berantakan setengah mati. Saya kesal, eh… salah saya tak boleh kesal karena sudah menerima pernyataan, ”Sini, Papa yang bayarin dulu”.
Di luar semua itu ia masih mengomentari lampunya kurang terang karena ia sudah katarak seperti saya sekarang, dengan matanya yang plus ini dan plus. Padahal saya ingin apartemen saya jadi cantik dan sedikit romantis. Tetapi, ia tak peduli, yang penting bisa membaca. Sebagai anak yang harus dinilai hormat dengan nurut dan sudah menerima kalimat ”sini Papa bayarin dulu”, sekali lagi saya seperti kerbau tercucuk hidung. Nurut lagi dengan hati kesal.
Praktis vs tidak praktis
Sekitar sepuluh tahun lamanya saya tak memiliki cermin. Saya tak membutuhkan itu karena yaa… tak butuh saja. Rambut saya cepak tak perlu sisir, pakai tangan saja. Saya tak membersihkan muka di depan cermin dengan pembersih ini atau pembersih itu. Semua saya lakukan sambil mandi. Dengan gel pembersih muka murah meriah. Pernah membeli yang mahal tak ada pengaruhnya. Nurani saya bilang, ”Ya, iyalahhh… dasarnya juga udah kulit badak, pakai apa saja yaa… gak ngaruh atuh.”
Dan memang demikian kenyataannya. Nah… ayah saya justru membutuhkan cermin, bukan karena kegenitan, karena kulit mukanya juga sama seperti saya dan sejujurnya kakek saya sami mawon. Jadi, kami tiga serangkai berwajah durian. Jadi, dia mengeluh mengapa tak ada cermin di apartemen ini karena ia terbiasa di rumahnya ada cermin.
Itu belum apa-apa. Karena apartemen seri perkutut itu hanya memiliki satu kamar, dan kamar itu dipakai Ayah, maka saya tidur di sofa. Ia memberi saran, cukup baik dan masuk akal, untuk membeli sofa yang praktis. Bisa jadi tempat duduk dan sekaligus jadi tempat tidur. Tetapi, itu bukan saya. Saya tahu itu praktis jauh sebelum ia berkomentar demikian, tetapi saya merasa itu tidak artistik. Ayah saya bukan seniman dan manusia superpraktis, saya seniman habis dan memilih mengapa harus praktis kalau bisa tidak praktis.
Sampai saya berpikir, apakah saya harus mengganti interior dan kebutuhan saya seperti kebutuhan ayah yang begitu berbeda? Untuk pertama kalinya saya merasa kalimat mulia di judul tulisan ini sudah merampas kebebasan saya. Mungkin inilah yang namanya utang budi itu dibawa sampai mati.
Hal itu terjadi juga dengan teman-teman saya yang kalau berkunjung selalu berkomentar, ”Mengapa sih kamu enggak mau pakai galon untuk air minum.” Saya tahu itu praktis, tidak membuat saya bolak-balik beli yang botolan. Tetapi, itu mereka. Dan mereka bukan saya. Saya lebih mengusung keindahan total dari sebuah interior daripada kepraktisan. Itu buat Ayah dan teman saya, keliru.
Terus saya berpikir, kalau bolak-balik buat saya bukan problem dan saya bahagia karenanya, mengapa saya harus membeli galon dan membuat saya tidak bahagia? Teman saya mengusulkan dibuatkan lemari agar tetap terlihat apik. Masalah saya bukan soal tak mau buat lemari, saya tak mau membeli galon, titik.
Setelah kejadian itu berlangsung, maka kebahagiaan yang sesungguhnya adalah memiliki ”kebebasan” tanpa ada rasa terikat dengan kalimat yang tampaknya mulia, ”Sini Papa atau Mama atau Tante bayarin.”
Selalu saja ada harga yang harus dibayar kalau Anda berutang. Kok berutang? Rasanya mungkin tidak, tetapi mereka yang mengatakan kalimat mulia itu sebenarnya sudah menanamkan rasa berutang di dalam diri yang hendak ditolong. Oleh karenanya, selalu saja ada kalimat berbunyi seperti kalimat pada awal tulisan ini yang keluar dari mulut teman saya yang mau mengakhiri masa jalangnya itu. Eh… salah lajang, maksudnya. Dan kalimat yang keluar dari yang memberi pertolongan. ”Dasar kurang ajar, sudah ditolong masih saja… bla-bla-bla.”
Kemudian saya bertanya, apakah kurang ajar itu? Apakah itu karena yang diberi pertolongan itu tidak manut seperti kerbau kepada yang menolong? Setelah dipikir-pikir, saya punya bakat seperti itu. Saya menolong orang dengan syarat yang tersimpan di dalam nurani dan menjadi samar sekali kelihatannya. Sejujurnya, setelah saya pikir-pikir lagi, yang kurang ajar itu saya. Dan kurang ajar yang sesungguhnya itu mempersalahkan orang lain untuk ketidaksiapan saya sebagai penolong berhadapan dengan kerbau yang tak mau mencucukkan hidungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar