Selasa, 03 November 2015

(Keder)isasi

Di hari orang mencontreng, saya mendapat kiriman SMS. Efeknya selalu sama saja. Membuka batin, eh… menampar sekaligus. Maka saya memutuskan membagikan SMS ini pada hari libur ini. Saya tak tahu persis apa hari Minggu sekarang cocok untuk disebut hari libur karena sudah dua hari minggu saya bekerja pontang-panting. ”Itu mah salah elo sendiri mau kerja di hari libur,” teriakan suara dari dalam hati, seperti biasa.
SMS-nya memiliki pesan singkat bahwa kaderisasi itu penting. Mempersiapkan generasi selanjutnya itu penting. Jadi jangan sampai saya mangkat, terus tak ada yang meneruskan. Saya terusik bukan karena kaderisasinya, tetapi malah saya seperti disetrum terus berpikir, ”Memang saya siap diganti?” Giliran saya yang keder. Jadi saya melakukan kaderisasi, dan pada waktu yang bersamaan saya keder sendiri, saya melakukan kederisasi.
Makin digosok makin asyik
Saya senang mengajar, saya senang melihat ada orang bisa naik kelas. Pengetahuannya bisa bertambah. Bukan soal hanya berhitung, tetapi menolong orang untuk mampu melihat kemampuan dirinya sendiri, kemudian dioptimalkan dan mereka siap menuai. Mengajar itu sebuah kenikmatan, seperti masturbasi. Kali ini masturbasi intelektual. Makin digosok main asyik.
Tentu dengan mengajar, manusia yang saya ajari menjadi tahu dari tidak tahu. Tetapi SMS hari itu membuat saya bertanya lagi. ”Bagaimana kalau yang diberi tahu dari tidak tahu menjadi lebih tahu dari yang memberi tahu?” Maksud saya, kalau yang dikasih tahu menjadi sebuah ancaman, mampuslah akyu.
Kemudian saya teringat ketika mengundurkan diri dari pekerjaan. Dari sebuah posisi yang cukup tinggi. Saya pikir keluar dari pekerjaan itu yaaa… biasa- biasa saja, sama seperti ringannya mengirimkan surat pengunduran diri. Waktu saya membereskan meja penguasa di hari terakhir, masih belum ada perasaan yang mengganggu. Tetapi setelah memencet tombol lift untuk turun ke lobi dan tak kembali lagi, saya seperti melayang rasanya.
Perasaan campur aduk seperti nasi campur. Senang, sedih, jengkel, kesepian, merasa tak laku lagi, tak dihargai, dan sejuta rasa lain. Dan waktu saya meninggalkan kantor, memang tak ada siapa-siapa. Tak ada satu orang pun yang menemani. Beda sekali ketika saya masih jadi penguasa. Tas tangan saya saja ada yang mau membantu menentengnya sambil berkata, ”Selamat pagi, Bos.” Sementara nama saya bukan Bos. Selamat saat itu belum ada yang mau menggendong saya ke mana-mana.
Tiga bulan yang lalu saya hadir di sebuah acara kumpul-kumpul kaum mapan Jakarta. Satu di antara sekian pejabat dan manusia kondang hadir di sana. Saya sedih melihatnya. Ia datang tanpa ajudan, tak ada satu pun yang memedulikannya, kuli tinta yang senangnya menyerbu manusia kondang tak menggubris ketika ia datang. Waktu makan malam tiba, ia mendapat tempat duduk di belakang, seperti manusia yang merasa tak dipentingkan, tetapi harus diundang supaya santun kelihatannya. Padahal, dengan mengundang dan menempatkan dirinya di belakang, buat saya itu saja sudah tak santun.
Lebih cepat lebih baik!
Tak ada satu orang yang datang kepadanya, saya memperhatikan, ia sempat bingung mau ngapain. Satu selebriti kondang wanita, yang ayu dan memang berhati baik yang juga saya kenal cukup lama, datang menghampirinya dan menemaninya. Melihat itu saya sedih sekali. Kemudian saya ingat akan masa lalu tokoh kondang ini. Berjuta lampu kilat, berjuta kali masuk koran dan majalah papan atas, berjuta kali datang di undangan A dan undangan B, sekarang cuma seperti saya. Tak ada yang peduli. Ia seperti daun yang jatuh dan menguning di musim gugur setelah pernah menjalani kehidupan seperti daun hijau yang segar dan berdiri tegak di musim panas.
Malam itu masih di pesta, saya tak bisa berkonsentrasi pada acara yang disajikan. Saya berpikir apakah kalau sekarang saya bisa duduk di baris kedua dari depan, berkumpul dan duduk bersama bankir kondang, apakah dua tahun lagi atau katakan dua hari lagi saya akan dipedulikan? Apakah saya akan tetap diundang, tetapi bukan prioritas? Saya kemudian berpikir, kalau saja saya ini tak punya kolom di koran sekondang Kompas, apakah orang mau menghargai saya? Mau mengundang saya ke sana dan kemari? Kalaupun mereka mau, itu karena mereka tahu apa kemampuan saya, atau karena saya besar gara-gara Kompas?
Ternyata kaderisasi itu lebih gampang daripada melihat dan melakoni jalan yang menurun dan tak dipedulikan. Jadi, kalau kaderisasi itu perlu, yang lebih perlu lagi menyiapkan jalan turun buat yang membuat kaderisasi. Mungkin sudah datang waktunya program kaderisasi diadakan bersamaan dengan program kederisasi. Jadi istilah post power syndrome paling tidak bisa dikurangi jumlahnya, paling tidak yang sedang tidak dipedulikan merasa tetap tegar dan menerima kenyataan. Supaya yang turun dan tak bisa menerima kenyataan paling tidak tak membuat keonaran dalam rumah tangga, menjadi orang yang sarkastis, yang tabiat dan mulutnya sebelas dua belas dengan pisau atau silet atau apa saja yang bisa membunuh.
Saya ingat sebuah kalimat kalau tak salah sebuah pepatah China. Begini bunyinya, tak ada pesta yang tak pernah usai. Mungkin mudah mengatakan dan mudah dimengerti. Tetapi saya pernah menjalaninya, saya tersakiti karena harus usai. Mestinya, saya harus tahu dan menyadari dari sejak mula, dari sejak saya mematut di cermin agar tampilan saya prima saat saya tiba di pesta, kalau akan datang waktunya saya harus siap pulang ke rumah.
Mungkin saya sudah sadar sejak saya mematut di depan cermin, kemudian tak sadarkan waktu pulang karena pengaruh minuman beralkohol yang memabukkan. Mungkin juga sama memabukkannya saat saya mendapat fasilitas saat masih punya kekuasaan. Program kader dan kederisasi sebaiknya secepatnya harus dipikirkan. Lebih cepat lebih baik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar