Suatu malam setelah bekerja seharian, saya kelaparan. Hari itu mulut dan perut ingin dikenyangkan dengan makanan ala Indonesia. Maka saya memilih sebuah warung di mal. Yaah… warung sekarang bisa berdiri di mal. Makanan ndesomasuk pasar papan atas. Harganya tentu beda. Mereka menjual makanan rakyat dengan harga setinggi langit, dengan dekor dan pernik perlengkapan makanannya murah meriah. Mau dikatakan itu tidak adil... saya sendiri saja tak tahu adil itu artinya apa. Apalagi tidak adil.
Saya memilih tempat duduk di luar, bisa memerhatikan gaya orang lalu lalang berjalan, gaya mereka berdandan. Belum lagi kalau memergoki gaya beberapa pribadi kondang yang acap kali muncul di pasar rakyat papan atas itu. Biasanya, pemandangan semacam itu memancing diskusi dengan teman-teman. Maksudnya, membicarakan kekurangan orang lain.
Pertanyaan 1
Malam itu saya tak berniat melihat manusia yang bergerak karena terburu terpukau kalimat dalam poster sebuah bank yang sedang berpromosi, tepat di depan warung rakyat itu. Kalimatnya berbunyi begini, ”Apa yang membuat orang berdatangan ke cabang … (nama banknya)? Gratis bensin, voucher, koin emas”.
Waktu pertama membacanya, saya hanya berkata, oh... oke juga ya. Kemudian saya melanjutkan menikmati soto mi dan empek- empek palembang. Tetapi, setiap kali saya mau menyendokkan makanan itu ke dalam mulut, kepala saya mendongak dan sekali lagi membaca tulisan itu. Kejadian itu berlangsung sampai makanan lezat itu tuntas di piring yang jauh dari kesan piring mewah. Karena berkali-kali membaca, lama-lama timbul sebuah pertanyaan. Tidak kepada bank itu, tetapi kepada diri sendiri.
Pertanyaannya begini, apa yang membuat orang berdatangan ke tempat saya? Apa yang membuat orang mau berteman dan atau berbisnis dengan saya? Sampai di situ saya berhenti berdiskusi dengan kepala sendiri karena ada komentar-komentar yang ternyata lebih menarik soal manusia yang berseliweran keluar dari mulut teman-teman di seputar meja makan. Padahal, malam itu saya sudah tak berniat mendengar celoteh karena kelelahan. Tetapi, harus diakui, kalau lagi kelelahan, percakapan ringan- ringan kurang ajar itu sedapnya mirip dengan makanan yang saya santap.
Pertanyaan 2
Saya lalu pulang ke rumah. Pertanyaan setelah melihat poster tadi muncul kembali, padahal saya sempat melupakannya. Saya ulangi lagi pertanyaan yang sudah saya ajukan saat makan di warungndeso dengan harga kota itu. Setelah sekian menit, saya tak mendapat jawaban, tetapi malah timbul pertanyaan baru.
Pertanyaannya begini. Kalau saya memisalkan diri sendiri adalah bank, bukankah seharusnya orang mendatangi saya karena layanannya terbukti prima, karena staf saya sangat membantu dan tak hanya mengerti produk yang dijual, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan finansial calon nasabah sehingga nasabah baru tak perlu khawatir menanam uang di tempat saya?
Bukankah sebagai bank saya harus mampu membuat nyaman nasabah dan calon nasabah, bukan hanya karena interior kantor yang oke, tetapi juga karena staf yang gesit, yang mengerti waktu adalah uang dan menunggu adalah neraka. Selain gesit, mereka juga memiliki keramahan yang bukan karena diberi pelatihan, tetapi keramahan dari hati.
Dan, calon nasabah datang bukan karena diiming-imingi sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan nilai dalam diri saya sebagai institusi. Bukankah seharusnya yang dijual nilai dari dalam, bukan yang sekadar di luar? Katanya yang bernilai itu yang tak lekang waktu karena akan menciptakan loyalitas dan pada akhirnya menciptakan pemasukan?
Atau, zaman sekarang menjual nilai sudah tak penting-penting amat? Apakah tak lekang waktu itu sudah terlalu kuno? Pertanyaan saya tak terjawab, malah diakhiri dengan pertanyaan baru lagi. Kalau saya tak memberi bensin gratis atau koin emas, apakah calon nasabah tertarik datang? Atau, saya saja yang memiliki cara pandang calon nasabah saya sekarang hanya senangnya diiming-iming semata tanpa perlu diedukasi dengan nilai?
Pertanyaan 3
Contoh tadi adalah saya berandai-andai menjadi bank. Bagaimana kalau saya adalah saya sendiri. Bukankah seharusnya saya didatangi orang karena mereka melihat nilai di dalam saya, bukan ”aksesori” di luar itu? Nilai itu adalah saya manusia yang bisa dipercaya; kalau orang berteman dan berbisnis, saya adalah orang yang berkomitmen dan tak menjadi pengkhianat. Bukan hanya karena saya punya koin emas seperti pamannya Donald Bebek.
Nurani saya malam itu juga tak bisa tidur. Saya pikir kalau saya kenyang, nurani ikut kenyang. Saya lupa kenyang itu urusan perut, nurani itu urusan jiwa. Maka, si jiwa itu berbisik. Mungkin karena tahu sudah pukul satu pagi, ia berbisik meski nyelekit-nya sama saja. ” Gue mau nanya. Kalau lo sendiri berteman dengan seseorang, itu karena apa?”
Hari sudah lewat tengah malam, saya mengantuk sekali. Mau pura-pura tak mendengar nurani, tidak mungkin. Mau pura-pura tak mengerti bahasa Indonesia, lebih tak mungkin lagi. Maka, saya diam saja, tetapi tak bisa tidur. Biasanya kalau tak bisa tidur, saya menghadap Sang Pencipta dan umumnya berhasil tertidur.
Malam itu saya memutuskan melakukan hal yang sama. ”Tuhan, ampuni karena saya berteman dengan alasan perlu networking, sebetulnya sih males banget sama manusianya. Tuhan, maafin kalau saya ini berteman karena dia kaya banget, teman- temannya oke, lumayan buat gengsi dan recognition. Bapaknya juga pejabat.
Tuhan, ampuni karena tadi ada yang naksir dan jeleknya minta ampun, tetapi dia udah nanya-naya mau apa untuk hadiah Natal. Maaf Tuhan, saya enggak suka, tetapi hadiah Natalnya itu lho. Jam tangan, bepergian keliling dunia, atau tas dari kulit buaya. Tadi saya bilang, mau tiga-tiganya. Karena kalau bepergian, kan perlu jam dan tas. Maapin, maapin, Tuhan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar