Dua minggu lalu, di suatu sore saya kedatangan tamu, teman lama semasa
di sekolah menengah pertama. Ia mengajak beberapa temannya. Seorang
wanita yang adalah kakak kelas kami dengan putrinya yang berusia 15
tahun, seorang ibu, dan seorang pria muda tampan berusia 21 tahun.
Pria muda yang kalau saya tawarkan ke dunia sinetron dan model, pasti
langsung melejit. Putih, imut dengan badan yang indah. Dan seperti
kebanyakan selebriti, bintang film dan penyanyi karbitan, yang lima
bulan lalu adalah nobody, dan yang sekarang bisa menentukan angka 40
juta untuk tampil membawakan empat lagu di sebuah acara, maka saya
yakin pemuda imut ini juga mampu melakukan seperti para kelompok
karbitan itu.
Manusia vs binatang
Setelah mengobrol ke sana-kemari, sampailah pada momen di mana pemuda
imut ini bertanya kepada saya, untuk membantunya memberi masukan
pendidikan S-2 yang hendak dijalankannya. Maka, berceritalah si pemuda
tampan nan imut itu soal cita-citanya, kesenangannya bermain angka dan
menganalisis data. Percakapannya itu kemudian diakhiri sebuah ucapan
penutup yang super cliché meski terasa seperti bom yang dimuntahkan di
sebuah medan laga. "Tapi, Papa itu maunya saya ke sini. Papa bilang
buat apa kamu ngitung-ngitung, analisa-analisa segala macam."
Kemudian ia melanjutkan keluhannya itu. "Padahal, kan, seharusnya
kalau milih jurusan adalah sesuatu yang saya inginkan, bukan yang Papa
inginkan. Tapi ya gitu, Om, Papa ngomongnya gitu. Saya sendiri sudah
tak tahu lagi bagaimana membuat Papa bisa lebih terbuka. Bisa
menempatkan dirinya kalau dia menjadi saya."
Pemuda imut itu melanjutkan ceritanya. Sebelum ia duduk di bangku
fakultas ekonomi ini, ia sudah mencoba untuk bisa menjadi mahasiswa
kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya. Ia mendaftar di tiga
universitas dan gagal total menembus ujian masuk. Si papa naik pitam.
Dan makin naik pitam lagi ketika ia mendengar bahwa teman-teman
anaknya berhasil masuk ke fakultas kedokteran. Maka, si imutlah yang
kemudian mendapat ganjaran atas kekecewaan besar manusia bernama papa
itu, dengan kalimat "memang dasar goblok" nya yang meluncur ringan
dari mulutnya dan berubah menjadi sebuah belati yang menghunjam di
dada anaknya.
Mendengar cerita itu, saya sudah tak heran lagi. Saya pernah melewati
masa digoblokkan itu. Dan sore itu saya menangis di hadapannya. Ia
memancing air mata saya keluar, yang keluar karena kejengkelan melihat
begitu tak berdayanya saya dan pria imut ini sebagai anak. Air mata
yang bertanya, mengapa ada bapak macam itu? Bapak yang begitu susahnya
untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak. Saya tak tahu apakah
masalah yang dihadapi pria imut ini sebuah masalah sepele, yang jelas
saya menitikkan air mata.
Beberapa bulan lalu saya membaca seorang ayah meniduri putri
kandungnya dan menjualnya ke rumah bordil di Surabaya, dan di tempat
ia dijual, ia masih menyempatkan diri meniduri anaknya sekali lagi.
Untuk kasus yang satu ini, saya tak bisa menangis lagi. Bingung. Tak
tahu lagi bedanya manusia dengan binatang.
Hidup Papa!
Saya tak pernah tahu, siapa yang memberi job description bahwa kalau
laki-laki berpredikat papa, bisa begitu berkuasanya, begitu otoriter,
tak bisa rileks menjalani peran sebagai ayah. Bahwa kepala keluarga
adalah segalanya. Saya sampai bertanya kepada diri saya sendiri, apa
yang ada di benak para papa, mengenai anak, kalau sampai anak itu
diperlakukan seperti boneka, dan tong sampah pada saat bersamaan?
Coba dengar cerita kisah sejati teman saya di bawah ini. Di masa
kecilnya, teman saya sering kali mendapat ganjaran dengan menggunakan
ikat pinggang ayahnya. "Gue, Sam, kalau bokap marah ama gue waktu
kecil, dia keluarin semua jenis ikat pinggangnya itu, kemudian gue
disuruh milih. Jenis ikat pinggang yang gue pilih, itu yang bakal
dipakai untuk ngegebukin gue."
Cerita itu membuat saya berpikir, apakah para papa semacam itu benar
mengerti tentang mencintai anak? Bisa jadi ada sejuta alasan mulia di
balik penggebukan itu. Dari anak itu harus belajar bertanggung jawab,
sampai alasan mencegah anak jangan sampai kurang ajar. Jadi, sebuah
penggebukan oleh seorang ayah dengan alasan positif tampaknya tak bisa
disebut kurang ajar.
Jadi, ayah tak pernah kurang ajar. Ayah berselingkuh, bukan kurang
ajar. Ayah memperlakukan anak semaunya saja juga bukan kurang ajar.
Ayah korupsi apalagi. La wong hasil korupsinya dipakai untuk
kesejahteraan keluarga. Bagaimana mengatakan papa kurang ajar, bukan?
Saya terinspirasi dari cerita seorang ibu yang hadir pada sore itu,
yang mengenal ayah saya. Ayah saya itu seorang perancang, yang
merancang sebuah jas dengan ukuran badannya sendiri, tetapi acapkali
ia kenakan kepada orang lain, yang ukuran badannya saja sudah berbeda
jauh. Ia akan kecewa berat ketika rancangannya ditolak mentah-mentah.
Ia sampai bisa lupa kalau rancangan di tubuh anaknya itu membuat
gerah, kesesakan, atau ukuran yang kebesaran, yang tidak kelihatan
apik dilihat di badan anaknya.
Maka mungkin, kalau papa cuma jadi dokter, cuma jadi tentara, itu
karena pengetahuan dan pengalaman untuk menjadi seniman tidak ada,
pengalaman untuk menjadi penari balet dan akuntan tidak ada. Jadi,
nasihatnya terbatas hanya dari pengalaman hidupnya. Maka, ia membuat
rancangan sesuai dengan hal-hal yang hanya ia ketahui. Dan pengalaman
merancang yang membuatnya berhasil disimpulkan akan membuat anaknya
berhasil seperti dirinya. Kalau seandainya hanya dokter atau hanya
tentara yang menjamin masa depan, mengapa sekarang ada akuntan publik
atau arsitek yang koaya roaya?
Mungkin mereka yang menjadi akuntan publik, pengacara, dan arsitek
juga dicekoki papanya karena papanya cuma tahu itu saja. Kemudian saya
berpikir, kalau di hadapan saya sekarang ada berbagai manusia yang
sukses dalam bidangnya yang berbeda-beda itu, bisa jadi semua karena
si papa hanya memiliki keahlian di satu bidang saja.
Waduh, kalau begitu tulisan ini keliru menceritakan betapa
menyebalkannya seorang papa itu. Daripada saya harus mengulang lagi
tulisan minggu ini dan mencari ide baru, sekarang mungkin waktu yang
tepat saya berkata dengan lantang. "Hidup Papa!" Ternyata, panjenengan
memang huebat. Tenane huebat.
di sekolah menengah pertama. Ia mengajak beberapa temannya. Seorang
wanita yang adalah kakak kelas kami dengan putrinya yang berusia 15
tahun, seorang ibu, dan seorang pria muda tampan berusia 21 tahun.
Pria muda yang kalau saya tawarkan ke dunia sinetron dan model, pasti
langsung melejit. Putih, imut dengan badan yang indah. Dan seperti
kebanyakan selebriti, bintang film dan penyanyi karbitan, yang lima
bulan lalu adalah nobody, dan yang sekarang bisa menentukan angka 40
juta untuk tampil membawakan empat lagu di sebuah acara, maka saya
yakin pemuda imut ini juga mampu melakukan seperti para kelompok
karbitan itu.
Manusia vs binatang
Setelah mengobrol ke sana-kemari, sampailah pada momen di mana pemuda
imut ini bertanya kepada saya, untuk membantunya memberi masukan
pendidikan S-2 yang hendak dijalankannya. Maka, berceritalah si pemuda
tampan nan imut itu soal cita-citanya, kesenangannya bermain angka dan
menganalisis data. Percakapannya itu kemudian diakhiri sebuah ucapan
penutup yang super cliché meski terasa seperti bom yang dimuntahkan di
sebuah medan laga. "Tapi, Papa itu maunya saya ke sini. Papa bilang
buat apa kamu ngitung-ngitung, analisa-analisa segala macam."
Kemudian ia melanjutkan keluhannya itu. "Padahal, kan, seharusnya
kalau milih jurusan adalah sesuatu yang saya inginkan, bukan yang Papa
inginkan. Tapi ya gitu, Om, Papa ngomongnya gitu. Saya sendiri sudah
tak tahu lagi bagaimana membuat Papa bisa lebih terbuka. Bisa
menempatkan dirinya kalau dia menjadi saya."
Pemuda imut itu melanjutkan ceritanya. Sebelum ia duduk di bangku
fakultas ekonomi ini, ia sudah mencoba untuk bisa menjadi mahasiswa
kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya. Ia mendaftar di tiga
universitas dan gagal total menembus ujian masuk. Si papa naik pitam.
Dan makin naik pitam lagi ketika ia mendengar bahwa teman-teman
anaknya berhasil masuk ke fakultas kedokteran. Maka, si imutlah yang
kemudian mendapat ganjaran atas kekecewaan besar manusia bernama papa
itu, dengan kalimat "memang dasar goblok" nya yang meluncur ringan
dari mulutnya dan berubah menjadi sebuah belati yang menghunjam di
dada anaknya.
Mendengar cerita itu, saya sudah tak heran lagi. Saya pernah melewati
masa digoblokkan itu. Dan sore itu saya menangis di hadapannya. Ia
memancing air mata saya keluar, yang keluar karena kejengkelan melihat
begitu tak berdayanya saya dan pria imut ini sebagai anak. Air mata
yang bertanya, mengapa ada bapak macam itu? Bapak yang begitu susahnya
untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak. Saya tak tahu apakah
masalah yang dihadapi pria imut ini sebuah masalah sepele, yang jelas
saya menitikkan air mata.
Beberapa bulan lalu saya membaca seorang ayah meniduri putri
kandungnya dan menjualnya ke rumah bordil di Surabaya, dan di tempat
ia dijual, ia masih menyempatkan diri meniduri anaknya sekali lagi.
Untuk kasus yang satu ini, saya tak bisa menangis lagi. Bingung. Tak
tahu lagi bedanya manusia dengan binatang.
Hidup Papa!
Saya tak pernah tahu, siapa yang memberi job description bahwa kalau
laki-laki berpredikat papa, bisa begitu berkuasanya, begitu otoriter,
tak bisa rileks menjalani peran sebagai ayah. Bahwa kepala keluarga
adalah segalanya. Saya sampai bertanya kepada diri saya sendiri, apa
yang ada di benak para papa, mengenai anak, kalau sampai anak itu
diperlakukan seperti boneka, dan tong sampah pada saat bersamaan?
Coba dengar cerita kisah sejati teman saya di bawah ini. Di masa
kecilnya, teman saya sering kali mendapat ganjaran dengan menggunakan
ikat pinggang ayahnya. "Gue, Sam, kalau bokap marah ama gue waktu
kecil, dia keluarin semua jenis ikat pinggangnya itu, kemudian gue
disuruh milih. Jenis ikat pinggang yang gue pilih, itu yang bakal
dipakai untuk ngegebukin gue."
Cerita itu membuat saya berpikir, apakah para papa semacam itu benar
mengerti tentang mencintai anak? Bisa jadi ada sejuta alasan mulia di
balik penggebukan itu. Dari anak itu harus belajar bertanggung jawab,
sampai alasan mencegah anak jangan sampai kurang ajar. Jadi, sebuah
penggebukan oleh seorang ayah dengan alasan positif tampaknya tak bisa
disebut kurang ajar.
Jadi, ayah tak pernah kurang ajar. Ayah berselingkuh, bukan kurang
ajar. Ayah memperlakukan anak semaunya saja juga bukan kurang ajar.
Ayah korupsi apalagi. La wong hasil korupsinya dipakai untuk
kesejahteraan keluarga. Bagaimana mengatakan papa kurang ajar, bukan?
Saya terinspirasi dari cerita seorang ibu yang hadir pada sore itu,
yang mengenal ayah saya. Ayah saya itu seorang perancang, yang
merancang sebuah jas dengan ukuran badannya sendiri, tetapi acapkali
ia kenakan kepada orang lain, yang ukuran badannya saja sudah berbeda
jauh. Ia akan kecewa berat ketika rancangannya ditolak mentah-mentah.
Ia sampai bisa lupa kalau rancangan di tubuh anaknya itu membuat
gerah, kesesakan, atau ukuran yang kebesaran, yang tidak kelihatan
apik dilihat di badan anaknya.
Maka mungkin, kalau papa cuma jadi dokter, cuma jadi tentara, itu
karena pengetahuan dan pengalaman untuk menjadi seniman tidak ada,
pengalaman untuk menjadi penari balet dan akuntan tidak ada. Jadi,
nasihatnya terbatas hanya dari pengalaman hidupnya. Maka, ia membuat
rancangan sesuai dengan hal-hal yang hanya ia ketahui. Dan pengalaman
merancang yang membuatnya berhasil disimpulkan akan membuat anaknya
berhasil seperti dirinya. Kalau seandainya hanya dokter atau hanya
tentara yang menjamin masa depan, mengapa sekarang ada akuntan publik
atau arsitek yang koaya roaya?
Mungkin mereka yang menjadi akuntan publik, pengacara, dan arsitek
juga dicekoki papanya karena papanya cuma tahu itu saja. Kemudian saya
berpikir, kalau di hadapan saya sekarang ada berbagai manusia yang
sukses dalam bidangnya yang berbeda-beda itu, bisa jadi semua karena
si papa hanya memiliki keahlian di satu bidang saja.
Waduh, kalau begitu tulisan ini keliru menceritakan betapa
menyebalkannya seorang papa itu. Daripada saya harus mengulang lagi
tulisan minggu ini dan mencari ide baru, sekarang mungkin waktu yang
tepat saya berkata dengan lantang. "Hidup Papa!" Ternyata, panjenengan
memang huebat. Tenane huebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar