Selasa, 03 November 2015

Cinta

Seorang karyawan paruh waktu bercerita kepada saya bahwa setelah menikah, suaminya memintanya untuk tidak lagi bekerja. Padahal menurut ceritanya, ia cukup sedih karena ia sangat senang dengan pekerjaannya itu. ”Kata suami saya, karena cintanya pada saya, ia tak ingin melihat saya bekerja. Katanya dia saja yang bekerja.”



Egois atau pengecut?
Cerita itu melambungkan ingatan saya kepada peristiwa yang saya alami sendiri. Pertama, waktu saya ingin menjadi perancang busana. Kedua, saat saya diusir ayah karena tidak mau berenang bersamanya. Alasannya begini.
Untuk kasus yang pertama, ayah memberi alasan bahwa pekerjaan sebagai perancang busana tak memiliki jaminan pasti bahwa di masa tua saya punya cukup uang dan materi agar saya bisa bertahan hidup. Saya mengerti mungkin di masa tiga puluh lima tahunan lalu, cita-cita itu terlalu sulit untuk dibayangkan.
Selain mungkin juga itu sebagai sebuah cara menghalangi niat seorang anak laki-laki berprofesi sebagai perancang busana. Mungkin ayah akan lebih menyetujui kalau saya jadi tukang jahit jas, seperti tukang jahit jas langganannya yang beranak istri.
Untuk kasus kedua, ia mengatakan bahwa berenang itu sehat, tidak perlu membutuhkan banyak orang untuk dilakukan, biayanya juga jauh dari mahal karena modal hanya celana renang, dan bukan alat-alat yang sebelum olahraga saja sudah membuat dompet kosong melompong.
Dua kasus yang telah membuat ayah saya naik pitam itu, menurutnya hanya didasari sebuah cinta seorang ayah kepada anaknya, agar anaknya tidak sengsara di masa tua dan sehat senantiasa.
Kejadian dengan ayah membuat saya naik pitam, dan kekesalan itu bercokol dengan abadi di hati, sehingga kalau mendengar dan melihat beberapa peristiwa yang saya tulis sebagai pembuka tulisan di hari Minggu ini, kekesalan itu makin menjadi.
Dan seperti biasa, kekesalan macam itu melahirkan sebuah pertanyaan di dalam hati sendiri. Kok cinta itu melarang? Kok cinta menghasilkan kekesalan? Apakah benar itu sebuah bentuk konkret dari cinta sejati?
Apakah itu tidak karena keegoisan seseorang, atau ketakutan akan masa depan yang tak bisa mereka prediksi hasilnya, sehingga dengan atas nama cinta, ia dianggap baik dan bukan terlihat sebagai seorang pengecut?
Anak durhaka
Mengapa seorang suami melarang seorang istri melakukan pekerjaan yang disukainya? Bukankah kalau itu benar cinta, seharusnya ia mendukung dan memberi kesempatan untuk mengembangkan kesenangannya itu menjadi lebih besar?
Mengapa ayah saya sampai berpikir bahwa perancang mode itu tidak akan menjamin bahwa saya bisa hidup berkecukupan di masa tua kalau seandainya saya bisa mencicipi masa tua? Apakah cinta itu sebisa mungkin diterjemahkan ke dalam angka alias berkecukupan?
Kalau cinta itu benar tidak menyiksa, dan tidak menimbulkan kekesalan, mengapa ayah tidak mendukung saya menjadi pelari yang juga tidak akan membuat dompetnya kosong melompong? Apakah cinta itu adalah sebuah bentuk penguasaan dari salah satu makhluk kepada makhluk lainnya? Meski yang dikuasai memiliki rasa cinta sehingga rela untuk dikuasai?
Apakah penguasaan itu terjadi agar yang dikuasai tak akan mengalahkannya di suatu hari nanti? Sehingga sejak awal ia sudah dikebiri sebelum waktunya dengan senjata yang disebut cinta? Begitu?
Teman saya pacaran dengan seorang laki-laki biasa. Kalau saya katakan biasa itu maksudnya penampilannya biasa, kekayaannya biasa. Tetapi orangtua tidak setuju karena alasan mata pencaharian pacarnya itu tidak menjamin masa depan yang bebas kesuraman.
Sampai sekarang hubungan itu masih berlangsung tetapi tak bisa ke mana-mana. Alasan orangtua tidak menyetujui, karena orangtua yang tak ingin melihat anaknya sengsara di masa yang akan datang. Karena cintalah mereka tidak setuju.
Saya sampai berpikir setelah mendengar cerita klise itu. Apakah cinta itu mampu membuat seseorang menjadi peramal nasib manusia lainnya? Bisa memprediksi bahwa masa depan suram itu milik mereka? Bagaimana kalau mereka keliru? Bagaimana kalau teman saya menikah dengan laki-laki luar biasa yang disetujui orangtuanya, dan beberapa tahun kemudian jatuh miskin?
Ketika saya protes akan alasan ayah saya di atas, ia bilang begini. ”Saya ini orangtua, saya hidup lebih lama dari kamu, saya tahu yang terbaik untuk kamu?” Waktu saya tambah besar saya bertanya dalam hati. Benarkah hidup yang lebih lama, jam terbang yang lebih lama menjadi sebuah alasan tepat memaksa kehendak orang lain?Apakah hidup dan jam terbang lebih lama menjamin bahwa perjalanan hidup seseorang itu akan semuanya sama? Sayang ayah saya sudah meninggal dunia. Seandainya belum, sekarang ini saya pasti sudah ada dalam diskusi panjang yang mungkin tak akan ada habisnya, dan bisa jadi ia akan berpikir anak di depannya ini sungguh durhaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar