Oleh
: Samuel Mulia
Saya
sedang duduk di tepi pantai di atas kursipanjang. Deburan air laut terdengar
diselingi suara burung. Langit pulau dewata, seperti biasa, biru bersih dan
indah. Angin sepoi-sepoi menciumi kulit dan makin membuat rasa malas itu
menjadi-jadi.
Entah
mengapa, di tengah suasana itu, saya teringat akan pesan dari seorang asisten desainer
yang sangat rajin menyirami saya dengan pesan-pesan mulia yang menyemangati dan
menggampar pada waktu yang bersamaan.Begini pesan mulia itu. ”I can accept
failure butI can not accept not trying”.
Gagal
Kalimat
itu menerbangkan saya pada masa lalu yang menjengkelkan karena trauma masa
kecil oleh kepala sekolah yang membuat saya merasa ia harus bertanggung jawab
terhadap ketidakmampuan saya memiliki kepercayaan diri sekarang ini untuk
berani mencoba; karena tak bisa atau tak mau melihat dan menghargai kalau saya
ini sudah mencoba dan gagal menjadi murid pandai.
Ada
teman saya yang mengomentari saat saya berkeluh kesah soal yang satu ini. ”Kan,
kamu sudah dewasa sekarang. Elo dong yang juga bersikap dewasa.” Benarkah
demikian? Benarkah saya yang sekarang ini bisa tidak keder hanya karena saya
dewasa dan bisa berpikir untuk tidak keder tanpa mengingat bahwa fondasi saya
yang sesungguhnya begitu kedernya? Kalau saya tak bisa matematika dan sudah encoba
dan ternyata hasilnya cuma ya.., gitu deh, mengapa saya dikelompokkan menjadi murid
tidak pandai? Tak hanya guru di sekolah. Ayah saya saja pernah menggertak dan
naik pitam karena saya tak bisa menjawab pertanyaan ilmu pengetahuan alam yang disodorkan
kepada saya. Saya sudah berusaha, tetapi tak bisa.
Kemampuan
saya tak pada yang eksak, tetapi pada yang tidak eksak, yang umumnya sangat tidak
dihargai sebagai juara kelas. Namun, sepertinya ia tak mau tahu. Maka, ia
berteriak dan saya makin tak bisa menjawab. Kemudian saya berpikir, apakah
quote-quote indah yang mengajarkan berpikir positif itu benar adanya? I can
accept failure, misalnya. Saya, sih, bisa-bisa saja menerima kegagalan. Itu
sudah pasti. Lha, wong hidup saya sendiri, kok. Akan tetapi, masalahnya, apakah
guru, kepala sekolah, dan ayah saya mau menerima kalau saya gagal?
Tetap gagal
Menurut
pengalaman saya, sih, mereka tidak mau dan tidak bisa menerima. Buktinya? Pengelompokan
terhadap murid pandai dan tidak, saya di-kumon-kan (meminjam istilah sekarang)
supaya saya bisa sama pandainya dengan anak tetangga dan, kalau sudah semua dilakukan
dan saya tetap gagal, mereka kemudian berteriak begini. ”Gitu aja ndak bisa.” Saya
jadi teringat akan obrolan dengan seorang teman beberapa hari sebelum
peluncuran film perdana pada akhir bulan lalu, di mana saya berperan sebagai
bintang utama sebuah film semidokumenter. Begini ia mengirim pesannya. ”Bagaimana,
uda siap dihina tanggal 31? Ha-ha sudah siaplah. Orang dari lahir juga selalu dihina-hinakan
ha-ha-ha-ha.” Kemudian pesannya dilanjutkan begini. ”Aku sih berdoa sukseslah.
You have to start from nothing to become something.”
Saya
hanya berpikir, kalau seandainya guru dan ayah saya bisa berpikir seperti teman
saya, mungkin saya menjadi orang yang paling berbahagia. Berbahagia karena
dihargai karena mencoba dari nol dari nothing, bukan dinilai karena bermain
buruk. Dinilai karena saya berani mencoba, bukan takut kalau hasilnya tidak
menyenangkan banyak orang dan kemudian merasa tertekan pada akhirnya. I can not
accept not trying. Kalau dari kacamata saya sebagai yang tertindas, saya setuju
bahwa semua orang harusnya mau melihat bahwa saya udah mencoba. Namun, apakah
guru dan kepala sekolah serta ayah saya bisa setuju dengan kalimat itu? Persis
seperti quote lain macam begini. The most important thing is not the destination
but the journey. Benarkah guru, ayah saya, dan orang lain mau menghargai the
journey, dan the trying-nya itu, dan bukan hanya semata-mata destinasinya alias
hasil akhirnya? Itu mengapa saya harus berpikir untuk tidak keder meski
sejujurnya saya selalu keder. Maka, saya mengerti mengapa kalau dalam seminar saya
takut bertanya, takut mengungkapkan ide saya, takut di suruh duduk di depan.
Karena saya sudah terbiasa untuk tidak dihargai karena trying-nya.
Saya
takut dianggap goblok memberi ide yang mungkin tak pernah terlintas dan tak
biasa dilakukan, apalagi berhadapan dengan manusia yang tak pernah mau menerima
kegagalan karena hidupnya tak pernah gagal, dan tak bisa menerima bahwa manusia
itu bisa saja punya rambut sama hitam, tetapinya IQ-nya macam-macam. Dari yang
jongkok sampai yang bias kayang.
Itu
yang membuat saya mulai berpikir, mengapa quote-quote itu acapkali dalam bentuk
sebuah kalimat yang indah didengar, indah untuk dimengerti, dan menyemangati
pada waktu bersamaan. Mungkin karena yang membuatnya pernah mengalami perlakuan
yang ”tidak senonoh”. Dan, sayangnya, yang menghargai kalimat macam itu adalah
manusia macam saya; bukan mereka yang pernah mengalami, tetapi tak mau
menghargai the journey dan the trying itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar