Oleh Samuel
Mulia
Soal anjing pernah saya
tulis. Sekarang "kesetrum" lagi. Jadi, saya menulis dengan judul sama
sekali lagi. Seri kedua. Katakanlah begitu. Kesetrumnya gara-gara dua hal.
Pertama, waktu menyimak tayangan Mbak Oprah soal anjing yang membuat beberapa
manusia terpidana di dalam penjara memiliki kualitas hidup lebih baik. Terutama
mengatasi kesepian dan tekanan batin. Kedua, saya teringat sebuah kejadian
tepat tanggal 31 Desember tahun lalu. Saya sedang berada di dalam taksi dan
berhenti di lampu merah. Ketika saya menoleh ke kiri, pada mobil yang
berdampingan dengan taksi, saya terpana dengan tulisan di pintu mobil Jeep itu.
K9 Protection yang masih dibubuhi lambing bergambar kepala anjing dan
bodycopy-nya yang mengelilingi gambar itu berbunyi: loyal, tough, dependable.
Lebih rendah
"Anjing,"
demikian saya mengucap, nyaris tak ada suaranya diikuti helaan napas yang
panjang dan kemudian timbullah beberapa pertanyaan, Sederhana, tetapi menikam.
Mencoba menghilangkan, tetapi susahnya setengah mati. Begini pertanyaan itu.
Mengapa anjing yang binatang malah dipakai sebagai "teman", bukan saya
yang manusia? Kok bisa manusia digantikan binatang? Perlukah saya malu kalau
ternyata anjing itu lebih berkualitas ketimbang saya, kualitas seperti yang
ditunjukkan kata-kata di pintu mobil Jeep itu? "Ya iyaaalaaahhh…. So,
pasti, anjing lebih baik dari kamu," nurani saya mengambil kesempatan emas
menghabisi saya yang sudah kesetrum. Kemudian nurani yang berteriak pagi hari
itu langsung membuka borok sehingga ngeh ternyata saya memang lebih rendah dari
anjing. Maka, tak salah kalau anjinglah yang menuntun, sementara saya ini cuma
bisanya menuntut. Menuntun juga bisa, sih. Menuntun ke jurang, maksudnya. "Pertama,
mulut lo itu banyak omongnya." Demikian menurut nurani saya. Anjing punya mulut
untuk menggonggong. Saya kalau sudah menggonggong tak bisa berhenti dan merasa gonggongan
saya paling benar. Sebagai manusia saya lupa dan sering lupa atau pura-pura
lupa manusia itu kadang hanya mau didengar, tak mau diberi petuah, meski
nyata-nyata tindakannya salah.
"Kamu
itu," kata nurani saya. "Makin orang salah, makin merasa itu
kesempatan emas untuk menggonggong. Apalagi kalau satu tangan membawa kitab
suci, tangan lain nunjuk-nunjuk. Kamu itu belajar jadi pendengar yang baik, bukan
pengkhotbah yang menghakimi," lanjut dia lagi. Saya membalas sambil
berbisik. "Namanya juga pengkhotbah, bukankah tujuan akhirnya menghakimi
meski caranya sehalus sutra?" Nurani saya langsung membentak,
"Syaaatttt…appp."
Tetap masih rendah
Nah,
anjing tak bisa berbahasa manusia, tetapi sangat mampu berbicara dengan
manusia. Ketika berbicara, anjing tak bisa membawa kitab apa pun dan tak bisa
menggerakkan telunjuknya untuk menuding. Dia hanya bisa menatap dengan nurani.
Biasanya ditandai dengan air mata sedih, kepala tertunduk, yang menyiratkan ia
mengerti pemiliknya sedang bersedih hati. Atau ia akan mengibaskan ekornya
tanda bersenang hati. Kibasannya tak bisa diatur, tetapi otomatis, karena
sukacita dari dalam. Loyalitasnya tak bisa dibuat-buat, itu sudah dari sononya.
Tidak seperti saya yang selalu jeli dan penuh siasat mengatur kapan perlu
mengibas dan kapan perlu loyal. Tak seperti anjing yang senang setiap kali pemiliknya
pulang ke rumah setelah seharian ditinggal, saya tak selalu bisa senang saat pasangan
saya pulang, dan kadang berharap ia tak pulang-pulang. Itu mengapa saya
mengibas di tempat lain, yang lebih membahagiakan. Itu karena sifat loyal saya
lebih rendah dari anjing. "Hi-hi-hi… mungkin jij juga enggak punya loyalitas."
Suara dari dalam itu susah sekali dibungkam.
Kedua,
kata nurani saya, mulut saya seperti air sungai yang mengalir alias tukang
gosip. Anjing menyalak, menggonggong, tetapi tak bisa menggosip. Saya membalas
sambil berbisik lagi, "Siapa bilang? Kita aja yang enggak tahu. Kalau anjing
menggonggong, artinya doi lagi ngomongin manusia. Eh… tuan gue ternyata cong,
bo...." Nurani saya tak bisa terima, "Bisa diem enggak?"
Ketiga, yang namanya anjing itu tak pilih bulu. Ia menuntun orang buta dan orang melek, dipelihara manusia bawel atau yang rendah hati, rendah diri atau bahkan yang tak punya harga diri. Miskin atau kaya, jelek atau cantik, retardasi mental atau kelewat pandai, no problemo. Kalau saya ini milih-milih bulu. Yang kaya saya tolong, yang miskin nanti dulu. Saya malas dan tidak sabar menuntun orang buta. Saya tak setangguh anjing. Enggak sabaran, mudah menyerah, mudah rapuh, makanya tak bisa menjadi tempat bergantung.
Kalau saya mengendus dan menemukan sesuatu yang tidak benar dan kebetulan yang saya endus manusia VVIP, saya bisa memanipulasi endusan saya karena tangan saya sudah keburu ditempeli sesuatu dan di garasi mobil sudah ada kendaraan oda empat baru. Saya tidak tough. Anjing tak mungkin pilih bulu dan sangat tangguh. Mau dikasih mobil la wong enggak bisa nyetir. Mau dikasih duit enggak bisa buka tabungan dan beli reksa dana. Dikasih makan dan tulang saja, masih bisa mengendus kemudian menyalak kalau ada yang tidak beres. Makanya bernama anjing pelacak. Saya tak membayangkan ada anjing pelacak kena sogokan terus berhenti melacak. Itu mengapa anjing dilatih manusia untuk menuntun, bukan manusianya yang dilatih menuntun. Makanya dengan saya manusia lain itu tak bisa memiliki kualitas hidup lebih baik. Pagi itu saya disetrum, ternyata saya lebih rendah dari anjing.
Kalau sekarang ada yang mengatai saya anjing, saya tak perlu marah. Mungkin saya harus memandangnya dari sudut positif. Kalau saya dianjingkan, itu artinya saya dianggap loyal, tough, dependable. "Samuel Mulia… sit… c'mon… sit… yes… good dog…."
Ketiga, yang namanya anjing itu tak pilih bulu. Ia menuntun orang buta dan orang melek, dipelihara manusia bawel atau yang rendah hati, rendah diri atau bahkan yang tak punya harga diri. Miskin atau kaya, jelek atau cantik, retardasi mental atau kelewat pandai, no problemo. Kalau saya ini milih-milih bulu. Yang kaya saya tolong, yang miskin nanti dulu. Saya malas dan tidak sabar menuntun orang buta. Saya tak setangguh anjing. Enggak sabaran, mudah menyerah, mudah rapuh, makanya tak bisa menjadi tempat bergantung.
Kalau saya mengendus dan menemukan sesuatu yang tidak benar dan kebetulan yang saya endus manusia VVIP, saya bisa memanipulasi endusan saya karena tangan saya sudah keburu ditempeli sesuatu dan di garasi mobil sudah ada kendaraan oda empat baru. Saya tidak tough. Anjing tak mungkin pilih bulu dan sangat tangguh. Mau dikasih mobil la wong enggak bisa nyetir. Mau dikasih duit enggak bisa buka tabungan dan beli reksa dana. Dikasih makan dan tulang saja, masih bisa mengendus kemudian menyalak kalau ada yang tidak beres. Makanya bernama anjing pelacak. Saya tak membayangkan ada anjing pelacak kena sogokan terus berhenti melacak. Itu mengapa anjing dilatih manusia untuk menuntun, bukan manusianya yang dilatih menuntun. Makanya dengan saya manusia lain itu tak bisa memiliki kualitas hidup lebih baik. Pagi itu saya disetrum, ternyata saya lebih rendah dari anjing.
Kalau sekarang ada yang mengatai saya anjing, saya tak perlu marah. Mungkin saya harus memandangnya dari sudut positif. Kalau saya dianjingkan, itu artinya saya dianggap loyal, tough, dependable. "Samuel Mulia… sit… c'mon… sit… yes… good dog…."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar