Oleh
: Samuel mulia
Bersama seorang teman, saya
menikmati sore hari dengan duduk-duduk sambil mengobrol di kedai kopi. Di mal
tentunya. Salah satu obrolan itu begini. Teman saya kesal karena salah satu
temannya kalau berbicara selalu terkesan show off . “Masak doi ngomong gini.
Mobil BM gue lagi dipinjem saudara ke Bandung,” jelasnya. “ Emang penting
nyebutin merek mobil? Enggak bisa ya kalau bilang gini aja… mobil saya sedang
dipinjam saudara ke Bandung. Mang gue peduli obil doi apa?” “ Gue tahu sih doi
mang kaya raya.”
Pohon dan buahnya
Dalam hati saya
terpingkal-pingkal. Mereka yang kaya cukup pantas berbicara seperti itu, laaa…
saya ini kaya saja tidak, kalau bicara, yaaa… kayak gitu itu. Baru saja saya
terpingkal, teman saya nyerocos lagi. “Mbok enggak usah show off . Kalau nanti
ditanya saja baru menjelaskan. Kalau enggak ditanya, biasa aja napa ? Emang susah
ya kalau ngomong keluar kota aja, enggak usah ke luar negeri? Maksud gue, kalaupun
elo ke luar negeri, emang beda rasanya kalau hanya mengucap keluar kota? Nurani
saya langsung menyambar seperti biasa. “Ya iyalaaaahhhhh…” Tetapi begitulah
kenyataan yang ada. Meski saya pikir tak semua orang kalau bicara punya niat
show off . Pemikiran itu tak saya lontarkan kepada teman saya itu. Belum selesai
menjelaskan, suaranya menyambar. “ Gini ya, cong… kalau elo tu orangnya rendah
hati, kalau niat elo dari lubuk hati yang terdalam emang enggak mau show off, yang
keluar yaaa… enggak bakalan sesuatu ang show off. Ngerti?” Saya diam seperti seorang
anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. “Liat elo aja . Waktu elo difoto salah satu
majalah interior, elo bilang elo pakai kemeja dan kemben di atasnya. Menurut elo
, niat elo apa? Pakai baju kayak gitu kalau enggak mau cari sensasi,” katanya lagi.
Setelah redam emosinya, saya menjelaskan kalau saya itu tak mencari sensasi.
Dia meragukan penjelasan itu. “Ra percoyo aku,” begitu jawabnya singkat. “Tidak
ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak ada orang yang katanya
punya niat tidak show off, menghasilkan kalimat-kalimat dan perilaku yang show
off , “ lanjutnya lagi. Ia tak percaya, kemudian saya bertanya pada diri saya
sendiri, apakah saya percaya pada apa yang diucapkan tadi. Bahwa saya tak
mencari sensasi? Kalau mau jujur, ada sekian persen memang mau cari sensasi
saat saya memadukan kemeja pria dengan kemben. Saya bisa menggunakan alasan,
saya manusia kreatif, mau berpikir out of the box. Tetapi nurani sendiri tentu
tak bisa saya kibuli.
Mulut dan isinya
Kadang ucapan yang sepertinya
show off itu katanya bisa jadi menembuhkan kepercayaan orang lain atas diri
kita. Seperti kalau punya satu toko, beda kesan atau respon yang diberikan kalau
punya sekian toko. Secara finansial, mengurusi satu toko sangat tidak efektif dibandingkanpunya
sekian toko. Ya, meski toko-tokonya itu masih dalam berutang dengan bank. Itu
bukan yang hendak saya bicarakan. Mulut saya sudah lama dikenal dan dianggap
jahat, bahkan sampai sekarang ini. Menusuk seperti belati. Kalimat- kalimat
yang menghambur keluar dari mulut sayaitu seringkali tak senonoh. Tak dipikirkan
terlebih dahulu. Sangat benar, saya ini sering kali nyerocos dulu baru kemudian
berpikir akibatnya. Saya juga manusia yang kalau sudah berbicara susah
berhenti, dan yang paling buruk dari semua itu, saya tidak memberi kesempatan
orang memberi respons atau menjelaskan maksud dan isi kepalanya. Singkat
cerita, saya ini tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan orang lain,
yang penting tujuan saya tercapai.
Saya menggunakan kalimat atau kata yang tepat, juga tak banyak saya pikirkan. Satu hal lagi yang harus saya latih dalam urusan belajar berbicara adalah bijak memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Bijak melihat situasi dan memedulikan kondisi orang lain. Saya tak bisa langsung nyerocos kapan saya berkehendak. Dulu saya pikir, orang itu memang kadang sepantasnya dicerocosi tak perlu melihat situasi. Saya salah besar. Menyerocosi itu bukan bertujuan memuaskan kekesalan dan merasa lega sendiri, tetapi membuat orang naik kelas, artinya ia tahu kesalahan dan diperbaiki. Sehingga kelegaan bisa dinikmati oleh dua belah pihak. Maka, katanya tak perlu membuang energi untuk berteriak dan meninggikan suara. Itu melelahkan. Katanya loh. Dan tentu di atas segala-galanya, isi yang maha penting. Saat mulut mulai “bernyanyi” itu tak hanya mencerminkan isi, tetapi mencerminkan siapa saya yang sesungguhnya. Yaaa.. latar belakang, tingkat kedewasaan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup.
Maka akan menjadi aneh bin ajaib kalau nama saya ada mulianya, sementara cara saya berbicara dan isi yang disampaikan jauh dari makna mulia.
Saya menggunakan kalimat atau kata yang tepat, juga tak banyak saya pikirkan. Satu hal lagi yang harus saya latih dalam urusan belajar berbicara adalah bijak memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Bijak melihat situasi dan memedulikan kondisi orang lain. Saya tak bisa langsung nyerocos kapan saya berkehendak. Dulu saya pikir, orang itu memang kadang sepantasnya dicerocosi tak perlu melihat situasi. Saya salah besar. Menyerocosi itu bukan bertujuan memuaskan kekesalan dan merasa lega sendiri, tetapi membuat orang naik kelas, artinya ia tahu kesalahan dan diperbaiki. Sehingga kelegaan bisa dinikmati oleh dua belah pihak. Maka, katanya tak perlu membuang energi untuk berteriak dan meninggikan suara. Itu melelahkan. Katanya loh. Dan tentu di atas segala-galanya, isi yang maha penting. Saat mulut mulai “bernyanyi” itu tak hanya mencerminkan isi, tetapi mencerminkan siapa saya yang sesungguhnya. Yaaa.. latar belakang, tingkat kedewasaan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup.
Maka akan menjadi aneh bin ajaib kalau nama saya ada mulianya, sementara cara saya berbicara dan isi yang disampaikan jauh dari makna mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar