oleh : Samuel Mulia
Ketika sedang memerhatikan
kartu tanda penduduk yang sebentar lagi habis masa berlakunya, nurani saya
menghadapkan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, KTP saya yang sesungguhnya itu yang
mana? Apakah benar seperti benda yang sedang saya perhatikan ini, dengan masa
kaluwarsa yang sudah ditentukan? Saya membalas dalam hati, kalau soal KTP,
yaaa…. mau yang mana lagi. Paling juga ada yang namanya paspor. Nurani itu
bersuara lagi. “Coba dipikir lagi. Pelan saja, tak usah terburu-buru.” Maka saya
berpikir makin keras dan tak menemukan jawaban.
KTP
1
Kemudian suara itu
menghilang. Saya ditinggal sendiri dalam kegalauan dan bertanya apakah memang
selain KTP, saya masih punya “KTP” lain? Beberapa minggu setelah pertanyaan
yang tak bisa saya jawab itu, teman saya mem-BBM saya. “Sabtu malam elo katanya
joget-joget di atas meja, ya? Ada yang foto tuh … dah kumat lagi?” pesan itu
berlanjut. “Sadar, Mas. Sadar. Katanya kamu sekarang sudah tobat. Tunjukkan,
Mas, KTP barumu itu.” Membaca pesan itu, saya marah. Dalam hati saya protes,
tobat kan tidak sama dengan bebas 100 persen dari kekurangan. Kalaupun saya
tobat, kan, saya enggak jadi malaikat. Saya benar-benar sakit hati setelah
membacanya. Saya tak terima bahwa tobat itu disamakan dengan suci. Saya tak
pernah suci, bahkan ketika bertobat sekalipun. Hari itu saya benar panas hati.
Saya tak suka dihakimi.
KTP
2
Beberapa hari setelah hati
panas dan kepala sudah dingin, saya mulai mengerti dengan pertanyaan nurani
saya di atas. Biasa, kalau sudah panas sampai puncak, langsung mendingin dan
malu denagn sendirinya. Nah, saat suhu mulai turun, saya menyadari selain punya
KTP yang harus diperbaharui itu, saya masih punya KTP yang kedua, yaitu tabiat
saya. Perilaku keseharian, cara saya mengambil keputusan, cara saya mengisi SPT,
apa yang hendak saya isi dalam SPT itu, berapa besar angka yang akan saya tulis.
Termasuk bagaimana saya berpakaian, semuanya menunjukkan siapa saya.
Kalau
saya ini memercayai Yang Maha, mengapa saya punya perilaku yang tak Maha?
Artinyamenjadi mudah tersinggung, naik pitam, mudah tak percaya diri, dan mudah
tak mengontrol diri. Kalau saya ini tak bisa suci, itu berarti mengurangi
ketidakbenaran bukan mengaminkan bahwa saya bisa melakukan ketidakbenaran kapan
saja, di mana saja, dengan siapa saja. Tidak suci juga tak berarti karena saya
manusia yang punya kelemahan untuk menjadi suci, terus saja membiarkan diri lemah,
tak mencoba melatih untuk kuat sekali-sekali. Karena yang sekali-sekali kalau
terus dikali sekali-sekali menjadi berkali-kali, dan lama kemudian menjadi kebiasaan.
Sama seperti sekali-sekali menipu, lama-lama berkali-kali dan menjadi
kebiasaan. Dan di stadium terminal, berakhir menjadi bebal, bahkan bisa balik
bertanya. “Emang gue nipu?” Dengan suhu yang semakin turun, terlintas pikiran
seperti ini. Kalau Presiden RI menunjuk saya sebagai Duta Besar Perancis,
misalnya, apakah artinya itu? Artinya saya harus mampu menceritakan negeri ini
di negeri anggur itu. tentu citra yang baik. Bagaimana saya berkomunikasi, misalnya.
Ini contohnya. Teman saya seorang PR mengajarkan saya begini. “Kamu itu bukan
korban dari gagal ginjal, kamu itu survivor.” Mau mengatakan contoh di atas adalah
ucapan munafik atau bersifat manipulatif, atau sebuah tips cara yang benar
dalam sebuah komunikasi, itu urusan Anda dan saya. Nah, kalau sebagai duta saja
saya tidak mencitrakan negeri ini, apalah gunanya saya dijadikan duta? Apalagi
duta yang besar.
Selama
ini cara berpikir saya keliru. Kalau saya ada di dunia ini, lahir dari seorang
manusia dunia, saya berpikir saya adalah warga dunia. Saya keliru besar. Bahwa
saya lahir itu adalah anugerah Ilahi, bukan hanya sekadar pertemuan sel telur
dan sperma orangtua. Jadi, eksistensi saya adalah anugerah Ilahi. Maka,
keberadaaan saya ini bukan untuk saya, tetapi untuk yang memberi anugerah itu.
Artinya, saya ini “duta besar” Sang Pencipta di dunia. Nah, kalau saya jadi
duta besar negeri ini berusaha keras mencitrakan yang baik, kok saya bisa
tenang-tenang mencitrakan yang buruk sebagai “duta besar” Sang Pencipta? Nurani
saya nyamber pada saat-saat yang tepat seperti itu. “Saya mngerti bahwa sampeyan
itu memang otak sama nuraninya kalau loading leletnya setengah mati. Lamaaaa…
untuk bisa mengerti.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar