Selasa, 30 Desember 2014

Duta Besar


                         oleh : Samuel Mulia
  
Ketika sedang memerhatikan kartu tanda penduduk yang sebentar lagi habis masa berlakunya, nurani saya menghadapkan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, KTP saya yang sesungguhnya itu yang mana? Apakah benar seperti benda yang sedang saya perhatikan ini, dengan masa kaluwarsa yang sudah ditentukan? Saya membalas dalam hati, kalau soal KTP, yaaa…. mau yang mana lagi. Paling juga ada yang namanya paspor. Nurani itu bersuara lagi. “Coba dipikir lagi. Pelan saja, tak usah terburu-buru.” Maka saya berpikir makin keras dan tak menemukan jawaban. 

KTP 1
Kemudian suara itu menghilang. Saya ditinggal sendiri dalam kegalauan dan bertanya apakah memang selain KTP, saya masih punya “KTP” lain? Beberapa minggu setelah pertanyaan yang tak bisa saya jawab itu, teman saya mem-BBM saya. “Sabtu malam elo katanya joget-joget di atas meja, ya? Ada yang foto tuh … dah kumat lagi?” pesan itu berlanjut. “Sadar, Mas. Sadar. Katanya kamu sekarang sudah tobat. Tunjukkan, Mas, KTP barumu itu.” Membaca pesan itu, saya marah. Dalam hati saya protes, tobat kan tidak sama dengan bebas 100 persen dari kekurangan. Kalaupun saya tobat, kan, saya enggak jadi malaikat. Saya benar-benar sakit hati setelah membacanya. Saya tak terima bahwa tobat itu disamakan dengan suci. Saya tak pernah suci, bahkan ketika bertobat sekalipun. Hari itu saya benar panas hati. Saya tak suka dihakimi. 

KTP 2
Beberapa hari setelah hati panas dan kepala sudah dingin, saya mulai mengerti dengan pertanyaan nurani saya di atas. Biasa, kalau sudah panas sampai puncak, langsung mendingin dan malu denagn sendirinya. Nah, saat suhu mulai turun, saya menyadari selain punya KTP yang harus diperbaharui itu, saya masih punya KTP yang kedua, yaitu tabiat saya. Perilaku keseharian, cara saya mengambil keputusan, cara saya mengisi SPT, apa yang hendak saya isi dalam SPT itu, berapa besar angka yang akan saya tulis. Termasuk bagaimana saya berpakaian, semuanya menunjukkan siapa saya. 

Kalau saya ini memercayai Yang Maha, mengapa saya punya perilaku yang tak Maha? Artinyamenjadi mudah tersinggung, naik pitam, mudah tak percaya diri, dan mudah tak mengontrol diri. Kalau saya ini tak bisa suci, itu berarti mengurangi ketidakbenaran bukan mengaminkan bahwa saya bisa melakukan ketidakbenaran kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja. Tidak suci juga tak berarti karena saya manusia yang punya kelemahan untuk menjadi suci, terus saja membiarkan diri lemah, tak mencoba melatih untuk kuat sekali-sekali. Karena yang sekali-sekali kalau terus dikali sekali-sekali menjadi berkali-kali, dan lama kemudian menjadi kebiasaan. Sama seperti sekali-sekali menipu, lama-lama berkali-kali dan menjadi kebiasaan. Dan di stadium terminal, berakhir menjadi bebal, bahkan bisa balik bertanya. “Emang gue nipu?” Dengan suhu yang semakin turun, terlintas pikiran seperti ini. Kalau Presiden RI menunjuk saya sebagai Duta Besar Perancis, misalnya, apakah artinya itu? Artinya saya harus mampu menceritakan negeri ini di negeri anggur itu. tentu citra yang baik. Bagaimana saya berkomunikasi, misalnya. Ini contohnya. Teman saya seorang PR mengajarkan saya begini. “Kamu itu bukan korban dari gagal ginjal, kamu itu survivor.” Mau mengatakan contoh di atas adalah ucapan munafik atau bersifat manipulatif, atau sebuah tips cara yang benar dalam sebuah komunikasi, itu urusan Anda dan saya. Nah, kalau sebagai duta saja saya tidak mencitrakan negeri ini, apalah gunanya saya dijadikan duta? Apalagi duta yang besar.

Selama ini cara berpikir saya keliru. Kalau saya ada di dunia ini, lahir dari seorang manusia dunia, saya berpikir saya adalah warga dunia. Saya keliru besar. Bahwa saya lahir itu adalah anugerah Ilahi, bukan hanya sekadar pertemuan sel telur dan sperma orangtua. Jadi, eksistensi saya adalah anugerah Ilahi. Maka, keberadaaan saya ini bukan untuk saya, tetapi untuk yang memberi anugerah itu. Artinya, saya ini “duta besar” Sang Pencipta di dunia. Nah, kalau saya jadi duta besar negeri ini berusaha keras mencitrakan yang baik, kok saya bisa tenang-tenang mencitrakan yang buruk sebagai “duta besar” Sang Pencipta? Nurani saya nyamber pada saat-saat yang tepat seperti itu. “Saya mngerti bahwa sampeyan itu memang otak sama nuraninya kalau loading leletnya setengah mati. Lamaaaa… untuk bisa mengerti.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar